CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 115


__ADS_3

Entah sejak kapan kini keduanya telah berada di kamar Eliyas. Mereka saling berbalas gelitik.


"Tuan.. Sudah!!! Ampun!!! Perutku sakit." ujar Sanas. Eliyas pun menghentikan aksinya dan berbaring di samping Sanas.


"Huft.. lelah juga ternyata." kata Eliyas.


"Perutku sampai sakit karena tertawa." ujar Sanas. Keduanya saling pandang.


"Tuan.." panggil Sanas.


"Ehm?" Eliyas menjawab hanya dengan deheman.


"Terima kasih." ujar Sanas tiba - tiba.


"Untuk?" tanya Eliyas mengerutkan dahinya.


"Selama ini Anda selalu ada untuk mengobati luka ku." ujar Sanas.


"Tidurlah.. sudah malam." kata Eliyas mengalihkan pembicaraan.


"Anda juga tidurlah.." ujar Sanas.


"Aku akan tidur nanti." kata Eliyas.


"Temani aku disini." kata Sanas, entah berkesan murahan atau bagaimana yang jelas itu yang di inginkan Sanas saat ini.


"Cepat tidurlah." ujar Eliyas. Sanas pun memposisikan dirinya dan menenggelamkan wajahnya ke dada bidang milik Eliyas, Kurang ajar atau tidak yang jelas ia merasa nyaman dengan posisinya saat ini.

__ADS_1


"Selamat malam." ujar Sanas.


"Selamat malam.." balas Eliyas, kini tangan Eliyas berpindah posisi melingkar pada pinggang ramping milik Sanas. Keduanya pun tertidur pulas dengan posisi saling berpelukan.


Keesokan harinya, Sanas di terbangun karena sinar matahari yang menyorot melalui celah gorden. Ia mengerjap - erjapkan matanya, Sanas merasa ada sesuatu yang berat menindih perutnya. Ia terkejut karena ternyata itu adalah sebuah tangan kekar yang melingkari tubuhnya. Ia baru teringat jika semalam ia sendiri yang meminta Eliyas untuk menemaninya tidur. Dengan penuh kehati - hatian Sanas memindahkan tangan Eliyas, iq beranjak ke kamar mandi guna membersihkan badan.


"Dasar, murahan sekali kau ini Sanas." ujarnya di depan kaca kamar mandi. Ia pun segera menyelesaikan ritual mandinya, karena hari ini ia berniat untuk resign dari kantor Tama.


"Sudah bangun Tuan.." ujar Sanas mengagetkan Eliyas yang tengah membuat susu.


"Ya.. seperti yang kau lihat." ujar Eliyas.


"Boleh ku bantu?" tanya Sanas.


"Tidak perlu ini sudah selesai, tinggal mengangkat roti dari panggangan saja." kata Eliyas.


"Tidak apa, biar ku bantu.. di sini aku sudah banyak merepotkanmu bukan, jadi biarkan aku membantu sedikit." ujar Sanas, Eliyas pun mengiyakan permintaan Sanas.


"Selai kacang saja." kata Eliyas.


"Baiklah.. ini untukmu." kata Sanas sambil menyodorkan roti yang telah di olesi selai kacang sesuai yang di katakan Eliyas.


"Terima Kasih." ujar Eliyas yang di balas senyuman oleh Sanas.


"Apa kau mau pergi bekerja?" tanya Eliyas.


"Iya.." jawab Sanas.

__ADS_1


"Aku akan mengantarmu, jika kau tidak keberatan." kata Eliyas.


"Benarkah? apa itu tidak merepotkan?." tanya Sanas


"Tentu tidak.." ujar Eliyas.


"Baiklah.. sepertinya hanya orang bodoh yang menolak ajakan pria tampan." ujar Sanas sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"Terserah apa katamu." ujar Eliyas.


"Emm.. tapi sepertinya aku harus ke kostan dulu, aku harus mengambil beberapa dokumen." ujar Sanas.


"Dokumen untuk apa?" tanya Eliyas.


"Aku ingin resign." jawab Sanas.


"Kenapa?" tanya Eliyas.


"Kau pasti tau alasannya jadi aku tidak perlu menjawabnya." ujar Sanas.


"Apa sudah kau pikirkan dengan baik?" tanya Eliyas.


"Yaa.." jawab Sanas.


"Baiklah.. lakuhkan apa yang membuatmu senang." ujar Eliyas.


Selesai sarapan Eliyas mengantarkan Sanas ke kost terlebih dahulu, setelah itu ke Arthamara Group tempat Sanas bekerja. Di perjalanan mereka saling bercanda dan tertawa. Tak terasa sudah sampai ke tempat tujuan.

__ADS_1


"Siapkan mentalmu baik - baik." ujar Eliyas.


"Siap Ndan.. terima kasih atas tumpangannya." ujar Sanas. Eliyas mendengar itu pun hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya.


__ADS_2