
Daniel menghela nafasnya dengan kasar usai menceritakan keadaan Nathaline yang sebenarnya. Sanas yang mendengar itu pun sangat terkejut, ia masih tak menyangka jika mantan sahabatnya itu menjalani kehidupan yang memprihatinkan.
"Lalu bagaimana kabar om Alex?" tanya Sanas.
"Papa di rumah." ujar Daniel.
"Sejak ayahmu membatalkan kerja sama dengan kami, perusahaan kami bangkrut Sanas, mendengar perusahaannya bangkrut Papa Daniel terkena Stroke." kata Marisa.
"Astaghfirullah.." ujar Sanas kaget.
"Itulah imbal balik yang harus kami terima karena dulu kami banyak menyakitimu Sanas." ujar Daniel.
" Jangan bicara seperti itu. aku turut prihatin dengan keadaan kalian, aku tahu ini semua tidak mudah. Sabar ya.. Nathaline pasti sembuh." ujar Sanas. Daniel pun hanya tersenyum kecut mendengar perkataan mantan kekasihnya itu.
"Kau tidak dendam kepadanya?" tanya Daniel.
"Tidak.. untuk apa aku membuang - buang waktu untuk hal sebodoh itu." kata Sanas.
__ADS_1
"Jika kepadaku?" tanya Daniel lagi.
"Tidak juga, aku sudah memaafkan kalian semua." ujar Sanas.
"Seandainya saja kita-"
"Astaga, Sayang.. aku mencarimu di tukang rujak tapi kau di sini rupanya." ujar Seseorang dari arah belakang yang tak lain adalah Eliyas.
"Tadi aku haus kak El, jadi aku cari minum dulu. Habisnya kakak lama." ujar Sanas.
"Maafkan aku.. Tadi aku mengangkat telepon dari rekan bisnisku. Lain kali beritahu aku melalui pesan singkat agar aku tak khawatir." ucap Eliyas sambil mengacak - acak rambut Sanas.
"Ehem..." Daniel berdehem membuyarkan dua sejoli yang sedang keasyikan sampai lupa jika di sebelahnya ada Daniel dan Mamanya.
"Kau mantan pacarnya Sanas bukan?" tanya Eliyas.
"Benar sekali Tuan." kata Daniel bangga.
__ADS_1
"Oh.. Terima kasih ya, waktu itu kalau kau tidak meninggalkan dia mungkin saya dan Sanas tidak mungkin punya rencana akan menikah." kata Eliyas sambil merengkuh pinggang Sanas.
"K.. Ka.. Kalian?" kata Daniel menggantungkan perkataannya.
"Yaa.. Kami akan menikah 1 bulan lagi." ujar Eliyas.
"S.. Se..Selamat untuk kalian berdua, jangan lupa bahagia selalu." ujar Daniel menunduk.
"Jaga dia Tuan, jangan pernah sakiti dia." tambah Daniel.
"Tentu aku akan menjaga wanitaku dengan baik." ujar Eliyas dengan senyum yang tidak dapat di artikan.
"Sayang, ayo kita pergi.. Katanya tadi mau beli rujak jambu kristal." kata Eliyas.
"Oh.. Astaga Aku sampai lupa, Daniel.. Nyonya Marisa.. Saya permisi dulu." ujar Sanas. Daniel pun hanya bisa menatap punggung Sanas yang lama - lama menghilang.
Daniel tersenyum miris dengan keadaanya sekarang. Istri yang terkena gangguan jiwa, Ayah yang terkena Stroke, di tambah lagi ia harus berpanas - panasan demi mencari sesuap nasi. Untuk kembali dengan Sanas, membayangkannya saja sudah tidak mungkin. Jika dulu kedua orang tuanya mengatasnamakan harta, kini Ia sudah tak memiliki muka lagi untuk memohon kepada Sanas. Apa lagi perusahaan keluarga Sanas semakin hari semakin maju, di tambah lagi Sanas yang akan menjadi istri CEO terkaya di Asia, meskipun selama ini Sanas tidak pernah menilai seseorang melalui hartanya, namun hal itu tetap membuat Daniel berkecil hati.
__ADS_1
Disisi Lain, Terlihat Eliyas masih setia menggandeng tangan Sanas sampai di tempat penjual rujak jambu kristal. Namun ada yang aneh dari sikap Eliyas, tak seperti biasanya. ia memilih lebih banyak diam dan bicara seperlunya, Sebenarnya Sanas menyadari perubahan sikap Eliyas. Namun, Sanas beranggapan jika ada suatu masalah terkait perusahaan hingga membuat pikiran Eliyas kacau. Begitulah Sanas selalu berpikiran positif, padahal jelas - jelas jika Eliyas sedang cemburu. (Ini si bos pakek acara cemburu segala sih😪)