CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 23


__ADS_3

**Flashback On**


"Sanas, tolong panggilkan kak Zen untuk ke ruang OSIS ya." perintah Lion.


"Ehmm... dimana kak Zen?" tanya Sanas.


"Dia ada di kelas, bilang kalau mau rapat untuk Classmeeting." tambah Lion.


"Oke!!" Sanas pun menuju kelas Zen, tampak dari jendela hanya ada beberapa siswa di dalam.


"Aduh.. gimana ya, kayanya mereka lagi bahas sesuatu yang penting." gumamnya.


Pintu tampak tutup tidak rapat.


"Loe semua tenang aja, nanti malam kita seneng - seneng di club. aku yang bayar." ujar Zen dengan sombongnya.


"Iya.. Iya.. yang baru menang taruhan." ejek Joe.

__ADS_1


"Enak banget loe Bro, udah dapet Virgin ditambah lagi dapet duit, mana duitnya ngga sedikit lagi." ujar Didi.


"Hahaha.. iya dong, dengan muka gue yang diatas rata - rata dengan mudah kalo cuma dapetin keprawanan mah." sombong Zen.


"Tapi loe gila bro, anak orang main loe sodok aja. kalo hamil gimana?" tanya Dimas bergidik.


"Loe semua tenang aja, Gue sama Sanas udah bikin kesepakatan kalo kita ngga bakal bahas hal itu lagi. Dan dia bilang kalo dia hamil dia gabakal minta tanggung jawab gue." ujar Zen dengan bangganya.


"Tapi Kasian bro anak orang loe mainin, mana cantik berbakat berprestasi sekarang malah seenak jiadat loe ambil keprawanan biar menang taruhan." kata Didi.


"I Don't Care, yang penting gue dapet enak + dapet duit banyak."


Hati Sanas Bak tersambar petir kala itu mendengar langsung dari mulut Zen jikalau dia hanya di jadikan bahan taruhan dengan teman se-Gengnya. Dengan langkah penuh keberanian Sanas masuk tanpa permisi


Plakkk!!! Sanas menampar pipi Zen, semua terkejut melihat kedatangan Sanas secara tiba - tiba.


"Sanas.." ujar Zen tak kalah terkejutnya.

__ADS_1


"Begitu rendahnya kah seorang wanita di matamu Zen." bentak Sanas, air mata yang tadinya ditahan kini tak mampu lagi untuk terbendung.


"Sanas, A..Aku.. Aku.. bisa jelasin" kata Zen terbata - bata.


"Apa? mau bilang kalo aku adalah taruhanmu dan teman - teman sintingmu?" betak Sanas.


"Ini Ngga Seperti-"


"Semua sudah jelas Zen." Sanas berlari menuju ruang OSIS dan mengambil tasnya, semua anggita OSIS keheranan melihat Sanas pergi begitu saja dalam keadaan menangis, bahkan Sanas melupakan kalau dirinya juga harus ikut rapat.


"Dimana Sanas?" tanya Zen dengan nafas yang terengah - engah.


"Baru saja dia keluar." kata Dini, Zen segera menyusul Sanas. Ia mencari ke kelas namun tidak ditemukannya, ia pun mencari ke parkiran. Namun belum sampai ke parkiran Zen melihat mobil Sanas keluar, ia bergegas mengambil motornya dan mengejarnya. Melihat Zen yang mengejar Sanas, Karena takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan Didi dan Dimas memutuskan untuk mengikuti mereka.


Dengan pikiran kacau Sanas melaju dengan kecepatan tinggi membuat Zen kewalahan mengikutinya.


"Begitu rendahnya kah aku dimatamu Zen. Kau bersikap seolah baik padaku tapi ternyata kau hanya memanfaatkan tubuhku untuk mendapatkan uang." teriak Sanas didalam sambil memukul keras kemudi mobil dengan masih terisak.

__ADS_1


Karena saat itu waktunya jam kerja sehingga membuat jalan lebih padat Zen yang tidak fokus saat berkendara saat itu juga melaju dengan kecepatan diatas rata - rata yang ada dipikiranya kala itu adalah, ia harus menjelaskan sejelas - jelasnya agar tidak terjadi salah paham diantara Sanas dan dirinya. Tiba - Tiba, Brakkk!!! Zen bertabrakan dengan Bus dari arah berlawanan. Terjadi benturan sangat keras hingga membuat tubuh Zen terpental, Didi dan Dimas yang menyaksikan Kecelakaan itu segera telepon ambulance dan membawa Zen ke Rumah Sakit.


__ADS_2