
"Sekarang kau mulai nakal ya ternyata." ujar Eliyas.
"Tentu saja, Kau yang mengajariku SAYANG." kata Sanas menekan kata - kata terakhirnya. Beruntung Eliyas peka dengan kode yang di berikan Sanas. Daniel tampak jengah melihat kemesraan Sanas dan Eliyas, ia segera mengajak Nathaline untuk pulang.
"Berhasil!!" seru Sanas dan Eliyas bersamaan, mereka pun tertawa terbahak - bahak.
"Itu lah akibatnya membuang berlian demi batu kali." ujar Eliyas tak menghentikan tawanya.
"Sorry??" tanya Sanas meminta Eliyas mengulang perkataanya.
"Tidak ada pengulangan." kata Eliyas kembali bersikap dingin.
"It's Oke!! Terima kasih telah menjadi malaikat penolongku." ujar Sanas, Eliyas yang melihat Sanas ingin beranjak dari duduknya pun menarik tangan Sanas hingga terduduk kembali.
"harus ada imbalannya." ujar Eliyas.
"Apa?" tanya Sanas bingung, tiba - tiba Eliyas memalingkan muka.
Cupp!!! Sanas mencium pipi Eliyas tanpa menunggu jawaban darinya. Eliyas terpaku mendapat perilaku dari Sanas, Sanas lalu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Eliyas. Ia berhenti sejenak dan berbalik,
"Kita Impas!! aku sudah tak berhutang padamu." ujar Sanas berlalu di ambang pintu.
"Oh.. Shitt!!! bagaimana bisa dia menciumku, padahal tadi aku mau imbakan dengan meminta nomor ponselnya, Dasar gadis nakal!! awas saja." gerutu Eliyas.
__ADS_1
***
Jam menunjukan pukul 22.00 Sanas masih mondar mandir di trotoar guna mengusir kegabutannya karena menunggu Taxi online yang ia pesan. Tiba - tiba ada sebuah mobil ferrari warna merah berhenti tepat di depannya. Siapa lagi kalau bukan Eliyas
"Butuh tumpangan nona muda?" tanya Eliyas.
"Eh.. Tuan Eliyas, emm.. tidak perlu, Saya sudah pesan Taxi online." ujar Sanas.
"jalan ini sudah mulai sepi, apa kau yakin mau menunggu taxi online?" tanya Eliyas lagi. Sanas tampak berpikir dengan memperhatikan sekitar.
"benar juga.." batin Sanas.
"Kau lihat di seberang jalan itu, ada seseorang sedari tadi memperhatikanmu." tunjuk Eliyas. Sanas pun ikut melihat ke arah yang di tunjukan Eliyas. Benar saja, ada seorang pria berpakaian serba hitam di seberang jalan sedang melihat ke arah Sanas.
"Ya sudah kalau tidak mau.." ujar Eliyas menutup kaca mobilnya.
"Kenapa kau mau ikut denganku? bukannya kamu mau nungguin Taxi online?" tanya Eliyas.
"Ah.. Tuan ini, udah tau keadaan genting pake tanya lagi." ketus Sanas. Eliyas pun hanya tersenyum melihat wajah kesal Sanas. Tanpa menunggu lama Eliyas telah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Arghh... Sial!!! aku harus mengikutinya." ujar Pria di seberang jalan. Pandangan Sanas terfokus pada kaca sepion, terlihat ada sebuah mobil yang mengikuti keduannya.
"Tuan.. Tuan.." panggil Sanas panik.
__ADS_1
"Kau ini kenapa?" tanya Eliyas.
"Lihat mobil di belakang itu, dari tadi ngikutin kita." kata Sanas. Eliyas pun mengalihkan pandangannya.
"Shitt... Apa ku bilang, dia mengincarmu." ujar Eliyas, sambil membalik arah laju mobilnya. Mendengar perkataan Eliyas, Sanas sangat ketakutan.
"Sungguh Tuan aku ini hanya gadis biasa jadi tidak mungkin aku punya musuh, kecuali aku anak konglong merat." ujar Sanas.
"mungkin kau mengganggu suami orang jadi kau punya musuh." ujar Eliyas tanpa rasa bersalah.
"Astaga Dragon, kau kira aku cewek apaan." ketus Sanas.
"Tunggu.. Tunggu.. inikan bukan jalan ke kostanku, kita mau kemana?" tanya Sanas panik.
"Sudah kau jangan banyak bicara, sudah tau lagi dalam bahaya malah banyak tanya. Mau kau ku turunkan di sini hah?" ujar Eliyas dengan nada ketus.
"Saya takut anda-"
"Saya apa? saya mencabuli kamu? jangan pernah mimpi." potong Eliyas.
"saya kan hanya mengantisisapi." ujar Sanas.
"Mengantisipasi Paok!! Mengantisisapi.. Mengantisisapi.. kepalamu yang bau sapi." hardik Eliyas.
__ADS_1
"Aihmak.. Tuan janganlah marah - marah. Nanti cepet tua lo." ujar Sanas sambil menutup telinga dengan kedua tangannya, Eliyas hanya membuang nafas kasar saat menghadapi Sanas yang menyebalkan.
"Enak saja, orang wangi kaya gini di bilang bau sapi.." batin Sanas mendengus kesal.