
Tama yang baru saja menyelesaikan seluruh pekerjaannya bergegas menuju ruangan tempat Sanas, ia berniat untuk mengajaknya pulang. Namun saat tiba di ruangan Sanas ia tak mendapati wanita yang di carinya.
"Caca.. dimana Sanas?" tanya Tama.
"Loh.. Sanas udah pulang dari tadi pak, katanya lagi ngga enak badan." kata Caca.
"Sejak kapan ia pulang?" tanya Tama lagi.
"Sejak dari ruangan bapak, tadi raut mukanya lesu gitu pak." jelas Caca.
"Gitu ya.. ya sudah terima kasih ya." kata Tama pergi begitu saja.
Tanpa pikir panjang Tama langsung melajukan mobilnya menuju kostan Sanas, dengan harapan Sanas sudah tidak marah lagi. Hanya butuh waktu 15 menit untuk menempuh jarak, Sesampainya di kostan ia segera menuju kamar milik Sanas. Berulang kali ia verusaha mengetuk pintu namun sayang, tiada jawaban dari dalam.
"Sayang.. jangan begini, mari kita bicara." ujar Tama tak putus asa.
"Sayang ku mohon, buka pintunya aku ingin bicara." katanya, namun lagi - lagi tak ada jawaban.
"Sayang.. ayo lah." ujar Tama mulai frustasi.
Sudah lebih dari 2 jam Tama berdiri di depan pintu kamar Sanas namun sang empunya tak juga kunjung menampakan batang hidungnya, dengan perasaan kecewa Tama memutuskan untuk pergi, Sesampainya di mobil ia hanya bisa mengusap kasar wajahnya. Akibat kebodohannya, kini kekasihnya marah kepadanya.
***
Keesokan harinya Tama berangkat pagi - pagi dengan tujuhan agar bertemu dengan Sanas. Namun di sangat di sayangkan, Sampai pukul 9 siang Sanas belum juga datang. bukan belum, tapi sudah pasti tidak datang. Karena tidak biasanya Sanas datang terlambat.
"Argh.. pasti ini masalah kemarin." ujar Tama. Tanpa pikir panjang ia langsung menuju kost Sanas.
Sesampainya di sana, Tama langsung menuju kamar kost Sanas. Tanpa pikir panjang, ia mengetuk pintunya.
"Sebentar.." ujar Sanas di balik pintu. Sanas pun membuka pintunya.
"Sia... Hah.. Kak Tama, Se.. sedang apa disini?" tanya Sanas gugup. Jujur saja ia terkejut atas kehadiran Tama.
"Kau ini sudah membuatku khawatir masih tanya aku disini sedang apa." ketus Tama.
__ADS_1
"Memangnya ada apa?" tanya Sanas polos.
"Masih tanya kenapa? dari kemarin ponselmu tidak bisa di hubungi, sedangkan hari ini kamu bolos kerja. bagaimana aku tidak khawatir?" ujar Tama.
"Astaga, Ponselku low bet.. dan emm.. ee.. aku tadi kesiangan bangun" jelas Sanas sambil menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal. Benar saja penampilannya saat ini masih lusuh dan acak - acakan karena baru bangun tidur. Mendengar alasan dari tunangannya itu pun Tama hanya berdecak kesal di buatnya.
"Hehe.. Maaf.." kata Sanas cegengesan.
"Sudah sana cepat kau mandi, aku tunggu di mobil." ujar Tama.
"Kita mau kemana?" tanya Sanas.
"Kita Shoping keperluanmu, sudah cepat sana." ujar Tama.
"Shoping lagi? emang kakak nggak kerja?" tanya Sanas.
"Kreyasa Anastasya aku ini bosnya jadi terserah aku mau kerja apa tidak, dan untuk shoping memang seminggu sekali aku harus menemani mu shoping." jelas Tama.
"Baik Sultan!!!" ujar Sanas.
"Nggak di dalem aja?" tanya Sanas.
"Nanti aku bisa khilaf kalo liat kamu abis mandi." ujar Tama.
"Ya sudah sana, aku mandi dulu." ujar Sanas sambil menutup pintu dengan cepat. Tama melihat itu pun hanya bisa tertawa.
Butuh waktu 30 menit untuk menunggu Sanas bersiap, Sanas menghampiri Tama di mobil.
"Sudah siap?" tanya Tama.
"Siap Bos.." ujar Sanas.
"Let's Go!!!" seru Tama.
Kini Keduanya telah tiba di salah satu Mall terbesar di kota M, Tama memilihkan beberapa Dres dan sepatu untuk Sanas.
__ADS_1
"Sayang, nanti malam aku jemput kamu ya." ujar Tama.
"Kita mau kemana?" tanya Sanas.
"Aku akan mengenalkanmu kepada temanku yang baru pulang dari Inggris." ujar Tama.
"Teman yang mana?" tanya Sanas penasaran.
"Teman kecilku, waktu pertunangan kita dia tidak bisa hadir karena dia masih kuliah di sana." kata Tama.
"Jadi gitu, Hmm.. laki - laki atau perempuan?" tanya Sanas tiba - tiba.
"Kenapa tanya begitu?" tanya Tama terkejut.
"Ihh.. udah jawab aja, laki - laki atau perempuan?." kekeuh Sanas.
"Laki - laki, memangnya kenapa kalau perempuan?" tanya Tama.
"Biasanya kalau teman kecil perempuan itu pasti ada kemistrinya." ujar Sanas.
"Astaga sayang, apa kau akan cemburu jika aku punya teman kecil perempuan?" tanya Tama.
"Tergantung.." jawab Sanas.
"Tergantung bagaimana?" tanya Tama.
"Tergantung sedekat apa pertemanan kalian." jawab Sanas jujur.
"Aku suka jika kamu cemburu." kata Tama sambil mengelus puncak kepala Sanas.
"Kau ini bagaimana, orang aku cemburu kamu malah suka." sungut Sanas.
"Itu tandanya kau cinta." kata Tama.
"Terserah apa katamu, yang jelas aku tidak suka di permainkan kau mengerti?" ujar Sanas.
__ADS_1
"Siap Ibu Negara." kata Tama.