
"Apa ini tidak berlebihan Tuan? kenapa harus Jas anda?" Tanya Sanas, namun tidak ada jawaban dari Eliyas.
Bagaimanapun Eliyas adalah pria normal terlebih sejak putus dengan Riana beberapa tahun yang lalu, ia sudah lama tidak melakuhkan hubungan badan dengan wanita mana pun termasuk pacar - pacarnya. Ia begitu menjaga alih - alih tak ingin merusak wanitannya. Jika dia menjaga wanitanya kenapa bisa melakuhkan dengan mantan pacarnya? Ya, Ia melakuhkan ketika umur 17 tahun dimana umur segitu masih belum bisa mengontrol nafsunya dengan cinta pertamanya.
"Kalau saja dia bukan bocah sudah ku terkam." Batinya gusar.
"Heh.. gadis kecil, kau jangan kemana - mana tunggu di sini aku ada urusan sebentar." Titah Eliyas.
"Saya mau pulang Tuan." Ujar Sanas.
"Aku bilang tunggu di sini ya tunggu di sini apa kau tuli?" Bentak Eliyas.
"Ba.. Baik Tuan" Ujar Sanas mengiyakan ucapan Eliyas ia duduk di lobby, Eliyas pun pergi meninggalkan Sanas.
***Ruang Kepsek***
Braaakkk!!!! Bunyi pintu di banting dengan keras sontak hal itu membuat pak Edy kaget.
"Tu.. Tuan, Ada apa?" Tanya Pak Edy gugup
"Apa yang kamu urus selama ini hahhh? kau sibuk membuat merenovasi bangunan - bangunan dengan uang donatur tapi kau tidak melengkapi fasilitas dengan kwalitas yang layak." Hardik Eliyas sambil mengangkat kerah baju Pak Edy.
"Maaf tuan saya tidak paham." Ujar pak Edy ketakutan.
"Dasar Bodoh!!! Siapa yang mengangkatmu menjadi kepala sekolah hah? Apa kau tau aku hampir saja tertimpa papan pengumuman di Lobby dan seorang siswi pindahan yang kau tunjukan kepadaku kemarinlah yang menyelamatkanku sampai dia pingsan." Jelas Eliyas dan hampir melayangkan tangannya ke arah Pak Edy namun di urungkannya.
"Apa? Maaf... Maafkan Saya tuan, besok saya akan mengganti papan pengumuman itu dengan yang baru, Sekali lagi saya minta maaf tuan." Ujarnya memohon.
"Untung saja gadis itu tidak apa - apa, kalau sampai terjadi sesuatu kepadanya. aku pastikan hidupmu dan keluargamu akan menderita." Ancam Eliyas melepas Cengkramannya lalu pergi meninggalkan Pak Edy yang pucat pasi.
**Di Lobby**
__ADS_1
"Kau Pulang dengan siapa?" Tanya Eliyas.
"Sendiri Tuan." Jawab Sanas Sopan.
"Aku akan mengantarmu." Ketus Eliyas.
"Tidak perlu tuan, saya sudah terbiasa." Tolak Sanas.
"Ini sudah lewat tengah malam, kau melewati tempat sepi kau ini perempuan terlebih dengan pakaianmu seperti ini kalau terjadi apa - apa bagaimana?" Ujar Eliyas dengan nada tinggi, Sanas hanya menunduk.
"Kelvin serahkan kunci mobil kepadaku, dan kau bawa mobil gadis itu. Kita Antar dia pulang." Ujarnya masuk kedalam mobil.
"Baik Tuan." Ucap kelvin menuju tempat parkir mobil Sanas. Sanas berdiri di belakang mobil Eliyas ia mengira bahwa ia disuruh naik mobil bersama Kelvin.
"Apa kau akan berdiri disitu sampai besok." Hardik Eliyas. Sanas menoleh kebingungan.
"Dasar gadis bodoh, apa perlu aku menggendongmu masuk ke mobilku?" Hardiknya lagi.
"Apa kau kira aku ini sopirmu, seenaknya kamu duduk di belakang. pindah ke depan." Tambahnya dengan nada tinggi.
"Aihhh... salah lagi, apa maumu pria menyebalkan." umpatnya dalam hati, ia segera pindah duduk di samping Eliyas.
"Kau berani mengumpatku?" Selidik Eliyas. Sanas terkejut bagaimana dia tau kalau ia tengah mengumpatnya, apa dia bisa membaca pikiranku.
"Ti.. tidak tuan, mana berani saya melakuhkan itu tuan." Elaknya.
"Bagus." Ujar Eliyas dengan nada dingin.
Eliyas melajukan mobilnya dengan perlahan, Sanas kebingungan bagaimana bisa Eliyas tahu jalan menuju rumahnya.
"Maaf sebelumnya tuan, Bagaimana anda tau arah rumah saya?" Tanya Sanas Spontan.
__ADS_1
"Tidak penting." Jawabnya singkat, Sanas tampak gusar mendengar jawaban Eliyas yang tidak sesuai dengan yang di inginkan, ia tidak peduli mau darimana Eliyas tau arah menuju rumahnya. Ia memilih mengalihkan pandangan menuju kaca mobil.
"Gadis ini tampak menggemaskan kalau sedang cemberut begini, ingin ku ***** bibirnya yang maju 3cm karena manyun itu." Batin Eliyas dan tersenyum melihat Sanas. tiba - tiba Eliyas menghentikan mobilnya di sebuah jalan sepi.
"Ada apa tuan?" Tanya Sanas, tanpa aba - aba Eliyas langsung melahap bibir Sanas. Sanas terkejut karena mendapat serangan mendadak ia ingin berontak namun tubuhnya kini tengah di cengkram oleh tubuh Eliyas. Ia nampak sulit bernafas hingga menitikan air mata, Eliyas tersadar akan apa yang ia lakuhkan terhadap Sanas. Ia segera melepaskan ******* di bibir Sanas, ia melanjutkan mengemudi mobilnya.
Sepanjang perjalanan tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mereka berdua. Sanas nampak murung, bagaimana tidak ciuman pertamanya di renggut oleh seorang Eliyas Anggara. Antara sedih dan senang, tapi tetap saja itu ciuman pertama baginya \(meskipun harusnya yang ke dua hehe!!\).
"Kau bodoh Eliyas, kau bodoh!! bisa - bisanya kamu tidak bisa mengontrol dirimu sendiri. Bodoh!! Bodoh!! Bodoh!!" Eliyas mengumpat dirinya sendiri.
Tibalah di rumah Sanas, Sanas segera turun dari mobil.
"terima kasih, telah mengantarkan saya." Ucap Sanas datar, Eliyas meraih tangan sanas.
"Maafkan atas kejadian tadi?" Ujar Eliyas. Sanas tak menanggapi ucapanya, lalu masuk meninggalkan Eliyas. Ia tidak menyadari bahwa Jas milik Eliyas masih menempel menutupi Roknya yang sobek.
Sesampainya di kamar ia memutuskan untuk berganti pakaian dan membersihkan diri. Mata Sanas terbelalak nenemui Roknya yang koyak cukup lebar tepat di belahannya.
"Apa?? jadi pria itu menyadari bahwa rokku koyak, dan menutupi dengan jasnya?" Teriaknya Lirih.
"Jangan - jangan dia melihat pahaku, bahkan celana dalamku?" Ujarnya panik. Ia jadi ingat ketika Eliyas mencium dan ******* bibirnya.
"Astaga, untung hanya ciuman. kalau sampai perawanku hilang karena ulahnya tadi bagaimana. Ekspresi mukanya tampak ingin melahapku. Ohh.. Tuhan, terima kasih kau masih melindungi keperawananku." Ujarnya bersyukur.
Malam telah larut Sanas memutuskan untuk Tidur.
*****
Di tempat lain nampak seorang pria tak bisa memejamkan matanya, bayangan seorang gadis yang menghantui pikirannya membuat ia kesulitan tertidur.
"Arrrghhhh... Kenapa gadis itu selalu menghantui pikiranku." gerutunya sambil meremas rambutnya sendiri.
__ADS_1
"fokus Eliyas fokus, dia hanya gadis ingusan yang umurnya masih belasan tahun. oke... kamu tidak mungkin jatuh cinta dengannya." ujarnya menenangkan diri. Tak berselang lama ia pun tertidur.