
***Hai.. Hai.. Hai.. I Comeback nih para readers kesayangannya author🤗 Maaf nunggu lama, karena author pulkam jadi agak ada kendala signal, tapi kalian tenang aja ya, mulai hari ini insyaallah Author udah aktif update lagi. Ohya.. Author juga mau mengucapkan
"Happy EID Mubarak MINAL AIDZIN WAL FA'IDZIN MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN🙏"
Happy Reading semuanya😘***
...----------------...
"Tunggu Nona.." teriak Kelvin.
"Ya?" tanya Sanas membalik badan.
"Ini kartu nama saya, jika Nona butuh bantuan anda bisa menghubungi saya." ujar Kelvin menyodorkan sebuah kartu nama.
"Terima kasih.." ujar Sanas.
"Sama - sama Nona, Saya permisi." kata Kelvin.
"Baik.. Hati - hati di jalan.." ujar Sanas. Kelvin pun hanya membalas dengan senyuman.
Sanas masuk kedalam kamar kostnya, ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Mengingat Manisnya Eliyas ia tersenyum menatap langit - langit kamarnya.
__ADS_1
"Dasar Aku, gitu aja baper.." ujar Sanas merutuki dirinya sendiri.
***
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan cepat berlalu. Tak di sangka Sanas sangat menikmati kegiatanya tanpa embel - embel cinta - cintaan untuk sementara waktu. ia fokus pada kuliah dan pekerjaannya. Sanas bekerja seperti biasanya. Akhir - akhir ini begitu banyak pekerjaan di kantor, hal ini membuat Sanas harus benar - benar bisa membagi waktu, antara bekerja dan kuliah. Di tambah lagi Sanas juga harus bekerja di caffe saat weekend.
Suatu hari Sanas mengalami kejadian tak terduga saat tengah perform di caffe. Ia di kejutkan oleh kedatangan seorang pria yang tentunya sangat ia kenal. Eliyas? ohh.. tentu bukan, dia adalah Daniel.
Tiada petir tiada hujan Daniel menemui Sanas seorang diri tanpa di dampingi istrinya yang di nikahinya beberapa bulan yang lalu. Sanas sebenarnya enggan bertatap muka dengan Daniel, namun Daniel tetap memaksa untuk berbicara empat mata dengannya.
Sebenarnya sejak lama ia ingin memaki manusia di hadapannya ini tapi ia urungkan mengingat ia selalu bertemu di keramaian. tapi kali ini ia tak mau buang - buang kesempatan.
"Hai.. Niel!! cepat sekali kau kembali? bukan kah kau bilang butuh waktu 4 tahun untuk menempuh pendidikan bukan?" sindir Sanas membuka suara.
"Untuk?" tanya Sanas santai.
"Karena telah melukaimu." jawab Daniel dengan wajah sendu, ingin rasany ia meraup tubuh Sanas kepelukannya untuk melepas rasa rindu, tapi keberaniaanya tak cukup sampai di situ ketika mendapati sikap Sanas yang dingin kepadanya.
"Yaps... Dan hari ini kau membuka kembali luka itu." ketus Sanas dengan sorot mata tajam.
"Maaf.. bukan itu maksudku Sa, Aku-"
__ADS_1
"Kau hanya ingin menertawakan penderitaanku setelah melihatmu ke pelukan orang lain begitu? Kau salah, aku sama sekali tidak menderita di tinggalkan seorang pengkhianat sepertimu." ketus Sanas di sela pembicaraan Daniel yang terpotong.
"Dengarkan aku dulu.." ujar Daniel.
"Apa?" ujar Sanas berusaha menurunkan emosinya. Daniel pun menceritakan semua rencana ibunya beberapa bulan yang lalu.
"Ku rasa lama - lama kau juga gila Niel.." hardik Sanas usai mendengarkan cerita Daniel.
"Sa.. kau tau mama, dan itu hanya satu - satunya jalan agar kita bersama." ujar Daniel.
"Berpikir jika menikahi dua wanita sekaligus secara diam - diam apa kau pikir itu tidak gila?" ujar Sanas.
"Sa.. aku tak punya pilihan lain." ujar Daniel.
"Memang ku rasa kau sudah ngga waras Niel.." hardik Sanas.
"Sa. aku janji setelah ini aku akan menceraikan Nathaline, dan sesuai janjiku dulu.. Kita akan menikah." ujar Daniel meyakinkan.
"Apa kau pikir aku mau dengan bekas orang? sumpah demi semesta alam aku tidak sudi." ketus Sanas.
"Lalu apa kau pikir kau bukan bekas orang? kau juga sebatas bekas korban pemerkosaan." ujar Daniel sinis.
__ADS_1
Degh!!! Ucapan Daniel seolah menjadi tamparan keras pada dirinya, pasalnya sekian tahun dulu mereka bersama, sama sekali Daniel tak pernah mengungkit hal itu.
"Tenangalah.. kau tak perlu menangis, aku adalah satu - satunya pria yang akan menerima keadaanmu, ya.. meskipun aku harus meninggalkan wanita yang mengorbankan kesuciannya untukku saat setelah pernikahan. Tapi tidak masalah, karena aku tidak mencintainya." jelas Daniel. Seketika air matanya mengalir deras dari pelupuk matanya. Daniel benar, ia juga hanya sebatas bekas orang. Dan tak menutup kemungkinan jika lelakinya akan menolak keadaanya yang tak sempurna lagi.