CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 136


__ADS_3

"Apa itu anakku?" tanya Eliyas. Bukannya menjawab Sanas justru semakin terisak.


"Jawab Ayashaa.." bentak Eliyas.


"Menurutmu bagaimana?" kata Sanas balik tanya.


"Jadi benar dia anakku? dan dia sudah tiada?" tanya Eliyas frustasi. Sanas semakin terisak, bagaimana pun ia sangat menyayangkan kecerobohannya. meskipun anak tersebut hasil hubungan terlarang namun tetap saja itu adalah darah dagingnya.


"Kenapa kau tidak memberitahuku jika kau sedang mengandung anakku Ayashaa? semenjijikan itukah aku sehingga kau beranggapan jika aku tak pantas menjadi ayah dari anakmu." sesal Eliyas.


"Siapa bilang? beberapa hari yang lalu aku ingin memberitahukan hal ini kepadamu, saat aku menemuimu kau menolaku untuk bicara dengan alasan sibuk. Lalu hari ini aku bersikeras memaksa ingin bicara, tapi aku malah melihat kau sedang asik bermesraan dengan seorang wanita." ujar Sanas. Eliyas terpaku, memang benar beberapa hari terakhir ia sangat menjaga jarak untuk menepis perasaannya untuk Sanas. Ia tak menyangka jika akibatnya sefatal ini.


"Maafkan Saya, saya tidak bisa menjaga anak kita dengan baik." ujar Sanas di sela isakan tangisnya. Hal ini membuat Eliyas semakin Trenyuh.


"Maafkan saya yang tidak peka dengan keadaanmu yang tengah mengandung anakku, ijinkan saya menebus semuanya." ujar Eliyas sambil memeluk Sanas.

__ADS_1


-Eliyas POV-


Bayi? Kandungan? Pendarahan? apa ini, kenapa bisa begini. Apa dia sedang mengandung anakku? berarti itu tandanya baru saja aku kehilangan bayiku, anakku, darah dagingku. dan semua ini di sebabkan karena ulahku yang ceroboh.


"Akibat dari pendarahan yang Nona alami, hanya 20% kemungkinan Nona bisa hamil kembali." ujar Sang dokter. Itu artinya Sanas akan sulit hamil, itu semua karena salahku. Kulihat ia sangat frustasi karena mendengar hal ini, aku bingung aku harus bagaimana semua terjadi karena keegoisanku.


"Maafkan saya, saya tidak bisa menjaga anak kita dengan baik." sungguh kata - kata itu sangat membuat hatiku trenyuh, bagaimana bisa dia meminta maaf sedangkan semua ini salahku. Ku rengkuh tubuhnya kedalam pelukanku, ku lihat dia sudah sedikit tenang.


****


Akhirnya Sanas sudah di perbolehkan untuk pulang setelah menjalani perawatan di rumah sakit selama 3 hari. Ia kembali ke apartemen di antar oleh Eliyas dan Kelvin.


"Baik Tuan." ujar Kelvin.


Eliyas menyusul Sanas yang tengah berdiri di balkon kamar, tampak ia sedang melamun sembari menatap bangunan - bangunan yang menjulang tinggi. Eliyas memeluk Sanas dari belakang sambil mencium ceruk leher Sanas. Di hirupnya dalam - dalam aroma tubuh Sanas yang sangat ia rindukan.

__ADS_1


"Ijinkan saya menebus kesalahan saya Ayasha.." ujar Eliyas sambil mengelus perut rata Sanas.


"Anda tidak salah, saya yang salah, seandainya saat itu saya menuruti ego saya mungkin bayi kita masih ada di sini." ujar Sanas terisak.


"Hey... Stop!!! ini sudah takdir Ayashaa.. berhenti menyalahkan diri sendiri." ujar Eliyas.


"Kau dengar sendiri kan apa kata dokter kemarin? aku akan sulit hamil." ujar Sanas di sela - sela isak tangisnya.


"Ssttt... itu hanya vonis dokter, selama kau masih punya rahim kau pasti bisa hamil. percayalah Ayashaa.. Takdir tuhan lebih indah dari yang kita bayangkan." kata Eliyas menenangkan, Yang di katakan Eliyas memang ada benarnya juga.


"Menikahlah denganku Kreyasa Anastasya..' kata Eliyas, entah ini ajakan yang keberapa kalinya. Yang jelas Eliyas tak ada bosan - bosannya mengatakan hal itu.


" Aku tidak pantas menjadi istrimu Eliyas Anggara." ujar Sanas.


"Siapa bilang kau tak pantas? kau segalanya Ayashaa.." ujar Eliyas.

__ADS_1


"Aku sekarang bukan wanita yang sempurna El.." ujar Sanas kembali menitikan air matanya.


"Ssttt... sudah, lupakan!!! tenangkan pikirabnu terlebih dahulu." ujar Eliyas merengkuh tubuh sanas ke pelukannya.


__ADS_2