
Dua hari berlalu...
Keadaan Sanas sudah membaik, luka lebam pada sekujur tubuhnya sudah sedikit memudar, untuk itu dia di perbolehkan untuk pulang. Dariel dan Gea yang mengurus segala sesuatu yang di butuhkan Sanas. Sedangkan Eliyas, entahalah kemana perginya manusia terkutuk itu. setelah kejadian cek cok hari itu, Eliyas bak manusia tanpa dosa, ia sama sekali tidak menjenguk Sanas selama di rumah sakit.
Pulang dari rumah sakit Sanas di temani oleh keempat sahabatnya, tak lupa ada dokter Dariel juga tentunya. Tampak Dariel mendorong kursi roda Sanas, diketahui jika Sanas hamil anak kembar dan di sisi lain ia juga tahu penyakit yang di derita Sanas jadi ia paham betul resikonya, hal itu membuat Dariel sangat posesif akan keselamatan Sanas dan bayi nya. Padahal jika hanya untuk berjalan saja ia masih bisa.
"Aku jalan kaki saja ya kak.." kata Sanas.
"No... Ingat, kandungan kamu masih sangat lemah di tambah lagi kondisi tubuhmu yang belum sembuh sempurna." kata Dariel.
"Hmm... baiklah!!" kata Sanas, ia sangat pasrah jika itu sudah mengenai calon anaknya.
Istri muda Eliyas juga di rawat di rumah sakit yang sama, hanya saja Riyana sudah di bawa pulang dua hari yang lalu. Itu artinya sudah pasti Eliyas sudah membayar biaya administrasi istri mudanya kan. tapi tidak untuk Sanas, Sesampainya di lobby Rumah Sakit, Sanas menunggu Gea mengurus administrasinya. Siapa sangka jika ia justru bertemu dengan Riyana yang menggandeng mesra Suaminya. Eliyas menghentikan langkahnya sejenak, Melihat itu pun Santi, Gita dan juga Cindy geram di buatnya, ingin rasanya mereka mencakar wajah tampan Suami sahabatnya itu.
"Bukankah itu suamimu?" bisik Dariel yang masih bisa di dengar orang lain.
"Eits... sebentar lagi akan menjadi MANTAN SUAMI!!!!" ujar Gita menekankan kata terakhirnya, ia sengaja mengeraskan suaranya agar Eliyas sadar diri.
__ADS_1
"Suami macam apa yang dengan tega MENYIKSA istrinya hingga nyaris mati karena terkunci di kamar mandi." imbuh Gita, Dariel menatap Sanas dengan penuh tanda tanya, Sanas hanya bisa menunduk.
"Sok - sokan punya dua istri tapi nggak bisa adil." kata Santi.
"Mana istri mudanya nggak tau malu lagi." kata Cindy.
"Sepertinya kamu memang harus berganti suami ya Queen, kamu terlalu sempurna jika bersanding dengan pria tak tau malu itu." kata Gea baru selesai mengurus administrasi.
"Sudah cantik, Body goal's, pinter bisnis, usaha kuliner di mana - mana, punya klinik kecantikan yang nggak terhitung jumlahnya, punya brand skincare yang ratusan ribu reseller dan distributornya. Dan di bandingkan dengan wanita parasit ini?" kata Cindy yang berhasil membuat darah Riyana mendidih.
"Apa? kalian bilang aku parasit." geram Riyana hendak meraih rambut Cindy namun di tahan oleh Eliyas.
"Huss... ngomong apa sih kalian ini." ujar Sanas.
"Emang nih dua cengunguk harus di kasih tahu biar sadar diri." ujar Gea.
"Udah ah.. buang - buang waktu, pulang yuk.. di sini panas!!!" ujar Sanas.
__ADS_1
"Dasar wanita tidak tahu diri, udah jelas Eliyas lebih milih aku yang bisa kasih dia keturunan. Masih aja ngebet." cela Riyana.
"yakin? kalau El bangkrut.. jangan tinggalin dia lagi ya, temenin sampai sukses bukan malah cari tubang kaya!!!" balas Sanas menohok.
"Kau-"
"Ups.. aku bener ya? sorry!!!" ujar Sanas memelas namun dengan nada mengejek.
"Ayashaa.. kau jangan keterlaluan!!! Riyana sedang hamil." bentak Eliyas.
"Lah.. dia yang nyenggol, di senggol balik kok nyalahin saya?" tanya Sanas.
"Lagi pula tanpa harus anda bilang pun saya tau jika perempuan ini sedang hamil, jadi anda tidak perlu memperjelasnya." sambung Sanas.
Degh!!!!!! Sanas masih tetap berbicara formal terhadapnya.
"Kak.. aku mau pulang." pinta Sanas kepada Dariel.
__ADS_1
"Tentu Queen..." ujar Dariel mendorong kursi roda Sanas. Eliyas hanya bisa menatap punggung seseorang yang mendorong kursi roda istrinya yang semakin menjauh, Hatinya cukup teriris mendapati Sanas yang sangat berbeda. Entahlah.. Kesalahanya berakibat sangat fatal, ia menyebabkan Perempuan yang kuat kini terlihat begitu rapuh. Ia merubah wanita yang ceria menjadi dingin, Ia menjadikan wanita yang dulu menatapnya dengan penuh cinta berubah menjadi rasa kecewa dan benci. Siapakah yang bisa memihaknya kecuali Tuhan, mampukah dia menjalani takdir tuhan yang menurutnya sangat menyakitkan.