
"Ahh.. good baby!!!" desah Eliyas di sela - sela hentakan kasarnya.
"Hentikan El.. kau menyakitiku." rintih Sanas. Bukannya kasihan Eliyas justru mempercepat hentakannya. Jeritan - jeritan Sanas seolah nyanyian merdu di telinganya.
"Kenapa ini tetap sempit Hm? apa pria itu tidak sering memakaimu?" tanya Eliyas seolah merendahkan Sanas.
"I Comeing baby.. Ahhh..."
Setelah mencapai kepuasan Eliyas ambruk menindih Tubuh Sanas yang tak berdaya, Bahkan ia tak mempedulikan Sanas yang sedari tadi merintih kesakitan. Setelah memastikan Eliyas telah tertidur, Dengan sekuat tenaga Sanas bangkit dan memakai pakaian yang di buang sembarangan oleh Eliyas. Sanas kini merasakan perutnya sakit yang sangat luar biasa, Entahlah ia merasa bayi di dalam perutnya seolah berenang kesana kemari. Gawat!!! darah tercecer begitu saja dari daerah kewanitaan Sanas, ia panik bukan main. dengan tegesa - gesa ia kabur dari sekapan Eliyas, ia menghubungi Dariel yang sudah pasti panik sedari tadi karena kehilangan jejak dirinya.
Sanas menaiki Lift, ia segera merogoh ponsel di dalam tasnya, terdapat ratusan panggilan tak terjawab dari Dariel. Ia segera menghubunginya balik.
"Halo... Sanas kau dimana?" tanya Dariel di seberang telepon.
"Kak.. nanti ku jelaskan, sesuatu terjadi pada bayiku. apa kakak masih di mall?" tanya Sanas.
"Tentu saja masih, di gps kau masih ada di mall ini tidak mungkin aku membiarkanmu pulang sendiri" kata Dariel.
"Kita bertemu di parkiran ya kak." kata Sanas gemetar, ia memutuskan panggilan telepon tanpa menunggu persetujuan dari Dariel.
.
.
.
Sesampainya di parkiran, terlihat Dariel yang sudah antusias menunggu kedatangan Sanas. Sanas terlihat begitu pucat dan betapa terkejutnya Dariel saat mengetahui terdapat banyak darah di sela - sela kaki Sanas.
"Ayashaa.. apa yang terjadi?" tanya Dariel.
"Aku melanggar pantangan dokter kak, terjadi sesuatu pada bayiku. ayo bawa aku kerumah sakit." kata Sanas.
"Wtf... apa lelaki itu memaksa menidurimu?' tanya Dariel.
__ADS_1
"Kak... Help me please.." mohon Sanas kesakitan.
"Bertahanlah Ayashaa.." kata Dariel memacu mobilnya dengan kecepatan penuh.
15 menit kemudian.....
Sesampainya di rumah sakit Sanas sudah tak sadarkan diri, Dariel segera membawa Sanas ke UGD, tentu di sana sudah ada dokter spesialis yang selama ini menangani Sanas.
"Apa yang terjadi?" tanya Dokter Ilham. Dariel bungkam, ia bingung harus menjawab apa karena ia sendiri tidak tahu kebenarannya.
"Sepertinya Nona baru saja melakuhkan kesalahan yang sangat fatal Dokter Dariel." kata Dokter Ilham.
"Tapi semua tetap baik - baik saja kan dok?" tanya Dariel.
"aku tidak bisa menjamin semuanya." kata Dokter Ilham.
"Lakuhkan yang terbaik dokter." kata Dariel panik.
"kita lihat perkembangan nona setelah siuman." kata dokter ilham. Sanas pun di pindahkan ke ruang vvip.
Eliyas mengerjap - erjapkan kedua matanya, entah mengapa tidurnya sangat nyenyak kala itu. Ia baru menyadari jika tidak ada seorang Sanas disana.
"****.. berani - beraninya dia kabur." umpat Eliyas. Ia beranjak dari tempat tidur, betapa terkejutnya ia mendapati banyak darah tercecer di lantai kamar.
"Jangan.. Jangan.." Eliyas segera memakai pakaiannya tanpa membersihkan diri terlebih dahulu. Ia bergegas berusaha mencari keberadaan Sanas.
Eliyas mendatangi Apartemen tempat tinggal Sanas, namun tetap saja ia tidak memiliki akses untuk masuk hingga malam hampir tiba. Eliyas memutuskan untuk pulang ke mansion.
Dalam perjalanan pulang ke mansion ia tidak sengaja berpapasan dengan Riyana yang saat ini sedang bersama seorang pria. Entah mengapa feeling Eliyas sangat kuat, ia mengikuti keduanya. Siapa sangka Riyana membawa pria itu masuk ke dalam Apartemen miliknya.
"Sialan!!!" umpat Eliyas.
Bukan Eliyas namanya jika tidak mempunyai cara licik, diam - diam ia masuk ke dalam Apartemen melalui pintu rahasia yang hanya Eliyas yang mengetahuinya.
__ADS_1
"Ricky.. Apa kau gila, aku kan sudah bilang jangan temui aku sampai anak ini lahir." kata Riyana.
"Oh.. Come on Babe, aku merindukanmu." kata Ricky.
"Ricky, kau bisa merusak semua rencanaku ya ng sudah ku susun matang - matang." kata Riyana lagi.
"Babe apa kau lupa, sudah 2 bulan ini kau tidak transfer uang kepadaku." kata Ricky.
"Sabar Ricky, kau tau semua akses kartu yang ku pegang sekarang dalam kendali Eliyas, apa kamu mau rencana kita gagal." kata Riyana.
"Maaf babe, ku kira kau akan melupakanku." ujar Ricky.
"Kau gegabah Ricky, kau tau jika kita ketahuan Eliyas kalau anak yang ku kandung ini adalah anakmu, bisa mati kelaparan kita." kata Riyana.
"Lagi pula setelah anak ini lahir aku akan kembali padamu dengan membawa harta yang banyak." imbuhnya.
"Iya Babe aku percaya, jangan bicara seperti itu. Dia tidak akan pernah tahu jika anak yang kau kandung adalah anakku." kata Ricky meraih pinggang Riyana.
"Siapa Bilang?" kata Eliyas dari belakang. Damnn!!! Riyana dan Ricky terkejut bukan kepayang.
"El.. k-kau"
"A-aku... A-aku bisa J-jelaskan ini tidak seperti yang kau dengar." kata Riyana gugup. Tanpa ba bi bu be bo, Eliyas mencekal dagu Riyana dengan emosi.
"Jadi anak ini bukan anakku?" tanya Eliyas mengeratkan giginya.
"A-aku.. A-aku minta maaf El.. T-tapi ini bukan salahku Ell.. A-aku hanya mengikuti saran dari mama mu. ia berkata jika kau dan ayasha sulit memiliki keturunan dan ia memintaku akting seolah - olah kau meniduriku. Sungguh aku tidak bohong." ujar Riyana.
"Anjing!! Bangsat!!! gara - gara ulahmu aku kehilangan wanitaku." bentak Eliyas menghempaskan tubuh Riyana sampai terjerembab.
"Ku mohon ampuni aku El.. sungguh aku tidak sepenuhnya salah, ibumu yang menuntutku agar hamil anakmu tapi itu tidak mungkin. Hingga akhirnya aku harus hamil anak orang lain El.." kata Riyana.
"Bedebah!!! pergi kau dari hadapanku." kata Eliyas murka.
__ADS_1
"Ampuni aku El.." kata Riyana.
"Mulai hari ini ku talak kau dengan talak 3, pergi jauh - jauh dari hadapanku SETAN!!!" teriak Eliyas. Dengan tidak ingin mengambil resiko Riyana terpaksa pergi bersama Ricky. Sedangkan Eliyas, ia saat ini benar - benar kacau.