
Malam ini adalah puncak acara ulang tahun SMA XX, Eliyas menghadiri acara yang di selenggarakan di lapangan utama SMA XX. Semua undangan menundukan kepala ketika Eliyas tiba, acara demi acara pun di mulai. MC membacakan satu per satu susunan acara, kini tibalah acara yang di tunggu \- tunggu yaitu hiburan. Beruntung kelas Sanas mendapat urutan tampil paling akhir, Sanas pikir dengan dia tampil di urutan terakhir pasti semua orang sudah bosan dan tinggalah sediki orang yang akan menyaksikan penampilannya nanti. Sebenarnya Sanas sudah terbiasa bernyanyi dan bermain gitar, tapi setelah mengingat di sekolah barunya kedatangan orang paling berpengaruh di sekolahnya, Jujur ia nervous.
Semua orang tampak menikmati hiburan - hiburan yang di tampilkan, karena memang siswa - siswi SMA XX mayoritas aktif dan kreatif. Jadi, penampilan demi penampilan tidak akan ada yang melihatnya akan bosan.
"Sekarang penampilan terakhir dari Kreyasa Anastasya, Perwakilan dari kelas X IPS 1." MC pun memanggil nama Sanas.
Sekarang tiba saatnya Sanas tampil, kini ribuan pasang mata tertujuh ke arah Sanas. Bagaimana tidak, wajah cantik murni tanpa polesan apa pun. Ditambah lagi dengan tubuh borosnya, yang dimana usianya yang terbilang masih belia tampak padat berisi terlihat semakin menarik ketika ia memakai seragam Almamater sekolahnya. Sanas dengan PeDenya mengambil tempat, ia pun sedikit menunduk dan tersenyum dengan manisnya. Semua orang bertepuk tangan.
Sanas mulai memetik gitanya, Sanas menyanyikan lagu *Selamat Ulang Tahun* dari *Jamrud*. Lagu pertama telah usai, semua hadirin baik undangan maupun guru dan siswa bertepuk tangan. Karena memang pantas di akui bahwa suara Sanas sangatlah merdu.
"Oke... Lagu pertama telah saya nyanyikan. Mungkin dari teman - teman, Atau Bapak/ibu undangan yang mau request lagu?" Ucap Sanas menyunggingkan senyuman.
"Menemukanmu." Ujar Eliyas Spontan, pandang mata semua orang tertuju kearah Eliyas tak terkecuali Sanas. Sontak hal ini membuat Eliyas salah tingkah. "Dari seventeen." Tambahnya dengan santai meskipun sebenarnya dia gugup.
"Wah... suatu kehormatan tersendiri untuk kami Tuan, Tepuk tangan untuk Tuan Eliyas Anggara CEO dari Anggara Group sekaligus donatur terbesar di SMA XX." Kata pak agung selaku MC di acara tersebut.
"Sangat luar biasa bukan, Yang terhormat Tuan Eliyas Anggara saya akan menyanyikan lagu requestan anda. Namun akan lebih meriah lagi jika Tuan berkenan naik ke panggung dan menemani saya atau mungkin ikut bernyanyi dengan saya betul?" Ujar Sanas dengan penuh keberanian, yang membuat semua orang terheran. Seketika hening....
"Bagaimana Tuan Eliyas setuju**?." Tambahnya, Masih hening. Tanpa di duga Eliyas bangkit dari tempat duduknya dan menuju panggung utama. Hal ini membuat Sanas kaget, pasalnya dia hanya basa - basi saja.
"Mati aku Mati." Batin Sanas.
"Wow.. Tepuk tangan dong buat Tuan Eliyas Anggara." Ucap Sanas mencoba mengalihkan kegugupannya, riuh semua bertepuk tangan.
"Selamat malam tuan." sapa Sanas menjauh dari mic.
"Selamat malam." balas Eliyas dengan senyuman di bibirnya sambil menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. Sanas pun menyalaminya.
"Dia tampan sekali, mimpi apa aku semalam." Batinnya.
"Cantik.. Cantik sekali." Batin Eliyas. Mereka terbuai dalam suara hati masing - masing, cukup lama mereka berjabat tangan dengan bertatapan.
"Ehmm.." Pak Agung Berdehem memberi kode untuk Sanas agar tidak berlama - lama karena semua orang tengah menunggu penampilannya kali ini. Eliyas tersadar, Sanas pun tersipu malu. "Apa ini Sanas, kau baperan." Gerutunya.
"Boleh saya yang main gitarnya?" Tanya Eliyas. Sontak membuat Sanas terkejut.
"Tentu saja tuan." Ujarnya sambil memberikan Gitar kepada Eliyas.
"Yuhu..." Riuhhh teriakan para hadirin semuanya. Eliyas mulai memainkan Gitarnya, kini Sanas dan Eliyas menyanyikan lagunya bergantian.
“***Separuh langkahku saat ini
Berjalan tanpa terhenti
Hidupku bagaikan keringnya dunia
Tandus tak ada cinta
Hatiku mencari cinta ini
Sampai kutemukan yang sejati
Walau sampai letih 'ku 'kan mencarinya
__ADS_1
Seorang yang kucinta
O-o-oh ...
Kini 'ku menemukanmu
Di ujung waktu 'ku patah hati
Lelah hati menunggu
Cinta yang selamatkan hidupku
Kini 'ku telah bersamamu
Berjanji 'tuk sehidup semati
Sampai akhir sang waktu
Kita bersama 'tuk selamanya
Oh, oh, oh, o-o-oh ...
Kini 'ku menemukanmu
Di ujung waktu 'ku***…
Bukannya menyelesaikan Instrumen Gitarnya Eliyas justru menyambung lagunya dengan lagu Bukti - Virgoun, Awalnya Sanas kebingungan karena instrumennya tiba - tiba berbeda. Dengan kode satu kedipan mata, Sanas langsung tanggap maksud Eliyas. Mereka pun melanjutkan Bernyanyi.
“***Memenangkan hatiku bukanlah
Satu hal yang mudah
Kau berhasil membuat
Menjaga cinta itu bukanlah
Satu hal yang mudah
Namun sedetik pun tak pernah kau
Berpaling dariku
Beruntungnya aku
Dimiliki kamu
Kamu adalah bukti
Dari cantiknya paras dan hati
Kau jadi harmoni saat kubernyanyi
Tentang terang dan gelapnya hidup ini
Kaulah bentuk terindah
Dari baiknya Tuhan padaku
Waktu tak mengusaikan cantikmu
Kau wanita terhebat bagiku
__ADS_1
Tolong kamu camkan itu
Meruntuhkan egoku bukanlah
Satu hal yang mudah
Dengan kasih lembut kau pecahkan
Kerasnya hatiku
Beruntungnya aku
Dimiliki kamu
Kamu adalah bukti
Dari cantiknya paras dan hati
Kau jadi harmoni saat kubernyanyi
Tentang terang dan gelapnya hidup ini
Kaulah bentuk terindah
Dari baiknya Tuhan padaku
Waktu tak***…”
Semua hadirin berdiri dan bertepuk tangan, Eliyas dan Sanas nampak serasi, ditambah lagi dengan menyanyikan lagu dengan perasaan yang membuat tak sedikit orang yang sampai menitikan airmata karena baper. Sanas dan Eliyas tersenyum bangga karena sukses membuat riuh para penonton, mereka saling berpandangan dan melempar senyum.
"Terima kasih.. Tuan sudah berkenan menemani saya bernyanyi." Ucap Sanas, Eliyas hanya mengangguk dan tersenyum.
"Uhh... Melelew." Batin Sanas kegirangan.
********
Jam menunjukan pukul 21.30, acara inti telah selesai. Semua hadirin menuju AULA untuk melihat pameran kerajinan \- kerajinan hasil kekreatifan siswa \- siswi SMA XX yang di buat beberapa hari yang lalu. Sanas mendapat bagian menunggu salah satu stand yang terdapat beberapa jenis kerajinan yang terbuat dari kerang.
Eliyas nampak *celingak \- celinguk*, terlihat sedang menjari seseorang. Asisten kelvin pun di buat kebingungan, sedang mencari siapa bosnya itu. Karena setahu dia di kota ini Bosnya belum punya rekan bisnis yang di akrabinya.
"Itu Dia." Ujar Eliyas melihat Sanas, ia bergegas menuju stand Sanas. Meninggalkan Kelvin.
"Haih.. Gadis itu lagi rupanya." Ujar Kelvin sambil mengikuti langkah kaki bosnya. Eliyas sudah sampai di stand Sanas, Sanaspun menyadari kedatangan Eliyas.
"Tuan Eliyas, saya senang Tuan mampir di stand kami." Sapa Sanas sedikit membukuk dan menyunggingkan senyuman, Sanas tampak lebih cantik dari sebelumnya. Kini ia telah berganti pakaian biasa, sebuah kemeja berwarna putih dan rok span panjang di atas lutut dengan memakai higheels tinggi 5cm berwarna merah maroon, Sederhana namun tambak modis.
"Berapa kau memberi harga pada semua hiasan kerangmu ini?" Tanya Eliyas.
"Disini kami membuat beberapa jenis kerajinan tuan, mulai dari tirai, lampu hias, accesories DLL. Kami membandrol harga berbeda - beda, Start harga mulai dari 100rb." jelasnya secara detail.
"Anda tenang saja tuan, hasil dari penjualan bukan untuk uang jajan kami tapi akan di setorkan ke buku kas sekolah untuk biaya tambahan perbaikan atau renovasi bangunan sekolah dan penambahan buku - buku di perpustakaan." Tambahnya lagi.
"Kau ini pantas sekali ya kalau jadi SPG, saya kan hanya tanya harganya bukan tanya kemana uang hasil penjualannya." Ujar Eliyas, di susul Kelvin yang tertawa terpingkal - pingkal.
"Maaf tuan." Ucap Sanas dengan raut muka yang merah padam karena malu.
"Aku borong semua dengan harga 10 juta, kau kelvin angkat semua kerajinan ini dan bawa ke mobil." Perintahnya.
"Semuanya? 10 juta? Apa anda bercanda tuan?" Ujar Sanas terkejut.
__ADS_1
"Ya.. Apa tidak boleh?" tanya Eliyas ketus.
"Bo.. Boleh tuan." Ucap Sanas mulai membereskan kerajinannya. Sedangkan kelvin masih keheranan dengan tingkah bosnya, "Untuk apa kerajinan ini." Batinnya. Asisten Kelvin pun menuruti perintah Bosnya.