
"Maaf.. aku melibatkanmu." ujar Tama tiba - tiba.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Sanas.
"Huft..." Tama menghela nafas, dan merenggangkan otot - ototnya pada sandaran kursi. Ia menceritakan dari awal hingga akhir kejadian dimana ia tiba - tiba mengajak Sanas untuk ke kota KL, hingga alasan mengapa ia mabuk saat itu sampai ia hilang kendali. Sanas yang mendengar itu pun di buat kaget olehnya, ia tahu betul jika saat itu bosnya sedang tekanan batin.
"Tolong bantu aku." ujar Tama tiba - tiba.
"Bantu? Bantu apa?" tanya Sanas.
"Bantu obati luka hatiku." ujar Tama dengan raut muka yang serius.
"Hah? Maksudnya?" tanya Sanas bingung. Tama meraih kedua tangan Sanas, mereka berhadapan.
"8 tahun pacaran tentu sangat sulit untukku melupakan kenangan bersama Yussy. Mari kita saling bantu. Kau mengobati luka hatiku, aku akan mengobati luka hatimu." ujar Tama.
"Aku masih tidak mengerti." kata Sanas melepas genggaman tangan Tama, namun Tama tak membiarkan itu terjadi ia meraih kembali tangan Sanas menggenggamnya dengan erat.
"Kreyasa Anastasya, Jadilah kekasihku!! Aku Tau kita tak saling mencintai, namun cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu, dan aku yakin itu." kata Tama terhenti.
"Apa ini lelucon." batin Sanas.
"Aku tahu jika luka hatimu karena di tinggal menikah kekasihmu dengan sahabatmu belum sembuh bukan, Aku akan mengobati luka itu." imbuhnya.
"Benar juga, jika aku menjalin hubungan dengan Kak Tama, Aku bisa menghindar dari Daniel. Lagi pula lebih baik aku menjalin hubungan dengan Kak Tama kan dari pada sama Daniel yang jelas - jelas pria beristri." batin Sanas.
"Bagaimana kau bersedia?" tanya Tama, Sanas masih terdiam.
"Ak.. Aku.. Aku tidak tahu." jawab Sanas bimbang.
__ADS_1
" Aku akan memberimu waktu, jangan terburu - buru. Pastikan jika kau yakin dengan jawabanmu." ujar Tama yang hanya di balas anggukan oleh Sanas.
"Ayo kita pulang, ini sudah malam." ajak Tama.
"Ehm.. Iya." jawab Sanas singkat dan berdiri dari duduknya.
"Mau ku antar?" tanya Tama.
"Ahm.. Tidak, aku bawa mobil sendiri." ujar Sanas.
"Baiklah, kau jalan dulu. Aku akan mengikutimu dari belakang, tidak baik seorang wanita pulang sendiri malam - malam." kata Tama.
"Tidak usah kak, aku biasa pulang sendiri kok." tolak Sanas.
"Itu biasanya, mulai sekarang aku tidak akan membiarkan kau kemana - mana sendiri. Ok!!! aku tidak suka penolakan." ujar Tama, Sanas pun hanya bisa pasrah.
Sanas melajukan mobilnya terlebih dahulu, dan di susul oleh Tama yang berjarak hanya beberapa meter di belakang Sanas.
"Sebenarnya ini kesempatan emas agar aku menjauh dari Daniel, tapi kalau aku beneran jatuh cinta gimana? apa iya Kak Tama bisa jatuh cinta balik sama aku?" gerutu Sanas.
Tak terasa ternyata sudah sampai di kost - kostan, Sanas menasukan mobilnya ke garasi, namun tak lama kemudian ia keluar menghampiri Tama.
"Kok keluar lagi?" tanya Tama.
"Ehm.. Kau pulanglah, ini sudah malam.. Hati - hati di jalan." ujar Sanas malu - malu.
"Kau masuklah, setelah memastikan kau masuk dalam keadaan selamat aku baru akan pergi." ujar Tama.
"Oh.. Astaga, kalau perlakuannya semanis ini bisa - bisa aku yang jatuh cinta duluan." batin Sanas.
__ADS_1
"Hallo..." panggil Tama.
"Eh.." Sanas terperangah kaget.
"Kau melamun?" tanya Tama.
"Emh.. Eh.. Anu.. Emh.. Tidak, aku tidak melamun." elak Sanas.
"Jangan - jangan kau sedang memikirkan Pria lain?" tudug Tama.
"Pria lain siapa?" kata Sanas balik tanya.
"Ya mana aku tahu." ujar Tama mengangkat kedua bahunya.
"Enak saja, belum apa - apa saja kau sudah seposesif itu." dengus Sanas.
"Hahaha.. Tidak.. Tidak.. Aku hanya bercanda, cepat masuklah. Ini sudah malam." suruh Tama.
"Ok!! aku masuk dulu, kau cepat pulang. Hati - hati di jalan." ujar Sanas.
"Baiklah, selamat malam. Selamat istirahat. Oh ya.. mulai besok aku yang akan mengantar jemputmu saat bekerja di caffe." ujar Tama sebelum pintu gerbang tertutup.
"Tidak perlu, aku bekerja di caffe hanya waktu weekend saja." tolak Sanas.
"Justru itu waktu kita berkencan." kata Tama.
"Ya sudah terserah kau saja." kata Sanas pasrah.
Setelah memastikan Sanas masuk kedalam kamar kostnya, Tama melaju menuju Apartemennya.
__ADS_1
"Semoga Sanas mau menerima tawaranku." ujarnya