CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 38


__ADS_3

Sesampainya di halaman rumah Daniel, Sanas di buat terpukau dengan rumah mewah milik keluarga Daniel. Ia baru tau kalau kekasihnya itu adalah anak konglomerat, buktinya ia tinggal di lokasi perumahan elit di Kotanya.


"Sayang, are you oke?" tanya Daniel.


"Niel.. aku gugup." jawab Sanas jujur.


"Hey.. jangan gugup ada aku di sini, Oke!!" ujar Daniel menenangkan.


Mereka pun masuk ke rumah Daniel, Sanas di buat terngaga saat baru memasuki rumah Daniel karena telah di suguhkan pemandangan yang fantastik. Bagaimana tidak terdapat deretan koleksi Guci - Guci antik yang tertata rapi pada sebuah etalase yang sudah pasti harganya tidak murah.


"Astaga ruangan ini sama besarnya dengan rumahku." batin Sanas.


Sanas tetap mengikuti arah jalan Daniel hingga ia di tambah gugup ketika sudah sampai pada ruang makan dan sudah ada beberapa orang yang tengah duduk di sana, itu sudah pasti orang tua dan adik Daniel.


"Akhirnya kamu datang juga, lelah kami menunggu." ujar perempuan yang duduk di meja makan tersebut tak lain adalah Bu Marisa, Mamanya Daniel.


Marisa nampak memperhatikan Sanas dari ujung rambut sampai ujung kaki bergantian dengan sorot mata yang tidak dapat di artikan.

__ADS_1


"Selamat Malam Om.. Tante.." sapa Sanas dengan ramah, ia berniat untuk bersalaman dengan kedua orang tua Danel, belum sempat Sanas menyodorkan tangannya sudah ada suara yang membuat bulu kuduknya merinding.


"Duduk.." Ucap lelaki paruhbaya itu, Sanas pun tertunduk dan duduk di kursi tepat di samping Daniel.


"Makanlah dengan tenang." bisik Daniel, Sanas pun tidak menanggap ucapan Daniel.


Suasana makan malam yang hening tidak satu pun manusia disana yang mengeluarkan suaranya, hanya bunyi dentingan sendok dan garpu yang menghiasi keheningan. Suasana semakin horor tatkala sepasang manik mata menatap lekat gadis yang di rundung kegelisahan yang tidak dapat di ungkapkan.


Selesai makan malam mereka menuju ruang keluarga, suasana tetap sama hening dan mencekam.


"Apa tujuanmu membawa gadis ini Niel?" tanya Tuan Alex, Papa Daniel.


"Huft.. sabar.. sabar.. dia calon mertua." batin Sanas membuang nafas kasar.


"to the point Daniel, untuk apa kamu membawa seorang gadis kerumah ini?" tanya Nyonya Marisa.


"aku mau minta restu untuk bertunangan dengannya Ma.. Pa.." ujar Daniel, Mama dan Papa Daniel pun terkejut mendengar pernyataan putra pertamanya ini. Bagaimana tidak di usia yang masih 18 tahun ia mau bertunangan dengan kekasihnya.

__ADS_1


"Apa kau gila Niel?" ketus Nyonya Marisa.


"No.. Mom-"


"Sebutkan saja satu alasanmu minta bertunangan dengan gadis ini." perintah Marisa dengan emosi yang menggebu - gebu.


"Aku mencintainya." ujar Daniel.


"Persetan dengan cinta monyetmu itu Daniel, kamu pikir dengan cinta bisa hidup enak? mau di taro di mana muka papa dan mama mu ini ketika semua orang tau kalau anak pertamanya minta nikah muda." kata Alex tak kalah emosi.


"No.. Dad!!! aku ngga minta nikah muda, aku minta kita tunangan dulu setelah itu melanjutkan pendidikan kami." jelas Daniel.


"Apa pun alasan kamu, mama tidak setuju kamu bertunangan dengan gadis yang drajatnya jauh di bawah kita." ketus Marisa dengan tatapan tidak mengenakkan ke arah Sanas.


"Cepat bawa cinta monyetmu ini pergi dari sini aku muak melihat muka sok polosnya." usir Marisa.


Sanas yang sedari tadi hanya tertunduk kini keluarlah sumber mata air yang berasal dari mata nya. Bagaimana pun Sanas sadar diri ketika Marisa membahas tentang drajat, karena ia tau kalau ia bukanlah orang yang berada.

__ADS_1


"Aku antar kamu pulang ya." bujuk Daniel, dan dijawabnya dengan anggukan. Di perjalannan tidak ada percakapan diantara mereka, Sanas hanya memandang kearah luar mobil dengan air mata yang masih tetap mengalir. Daniel tak mampu berkata apa - apa lagi, ia sudah paham betul kalau kekasihnya begini karena ucapan pedas dari Mamanya tadi.


__ADS_2