
Keesokan harinya Sanas dan Tama kembali ke kota M, di perjalanan tiada yang membuka suara, semua saling diam.
"Maaf.." kata Tama membuka suara, namun tak di gubris oleh Sanas.
"Nas.. waktu itu-"
"Anda mabuk!! aku tau jadi tak perlu menjelaskan lagi." cela Sanas sebelum Tama menyelesaikan bicaranya.
"Tapi Saya merasa bersalah sudah berlaku tidak senonoh kepadamu Nas." ujar Tama jujur.
"Lupakan!!" ujar Sanas, tanpa ia sadari air matanya sudah meluncur dengan sendirinya. Tama yang melihat Sanas menangis pun panik, di balik dirinya yang tegas dan berwibawa ia paling tidak tega ketika melihat perempuan menangis, apa lagi sudah jelas jika Sanas menangis di sebabkan oleh dirinya.
"Sanas, jangan menangis!!" kata Tama menghentikan mobilnya di tepi jalan, bukannya berhenti menangis, tangis Sanas semakin menjadi.
"Hei.. Ku mohon, berhenti menangis." bujuk Tama sambil meraih tubuh Sanas menuju pelukannya, tidak ada penolakan dari Sanas.
"Saya tau, Saya salah.. Saya minta maaf." kata Tama, kali ini ia memakai bahasa formal.
"tatap saya Nas!!! Saya tau saya lancang, tapi tolong maafkan saya." kata Tama sambil menyeka air mata di pipi Sanas.
"Sudah lupakan saja, anggap tidak pernah terjadi apa - apa." kata Sanas di sela - sela isak tangisnya. Tama merasa sedikit lega mendengar perkataan Sanas, ia kembali melajukan mobilnya untuk melanjutkan perjalanan.
Tama tersenyum melihat wajah cantik Sanas yang tengah tertidur pulas. Ia memberanikan diri menyisipkan anak rambut yang menghalangi wajah Sanas.
"Ijinkan saya memperbaiki semuannya ya, Saya janji hal seperti ini tak akan pernah terulang lagi." batin Tama.
"Mungkin jika semalam ada terjadi sesuatu di antara kita, mungkin ada harapan untuk kita bisa bersama bukan?" lirih Tama tetap memandang wajah teduh gadis di sampingnya.
"Oh.. astaga, dia sudah milik orang lain kau harus sadar akan hal itu Arthama Ardiwinata." kata Tama merutuki dirinya sendiri.
****
Satu minggu berlalu, malam ini adalah tepat dimana Nathaline bertunangan dengan kekasihnya. Sanas memutuskan untuk memakai dres warna navy yang tampak sangat cocok melekat pada kulit putihnya. Ia memakai sedikit polesan make up untuk mengcover wajahnya, di rasa cukup ia segera meraih sling bag dan keluar untuk menunggu taxi online pesanannya. Entah mengapa akhir - akhir ini ia enggan untuk menggunakan mobilnya sendiri, Itung - itung bagi hasil rejeki yang di dapat sama pak taxi.
"Pak.. masih macet ya? acaranya hampir di mulai nih.." tanya Sanas tak sabar.
"Iya nih neng, kayanya ada kecelakaan di depan." jawab Sopir taxi.
__ADS_1
"Duh.. gitu ya.." ujar Sanas.
"tak apa lah terlambat sedikit yang penting kan aku datang." batin Sanas.
Tak berapa lama pun Taxi yang di tumpangi Sanas terhenti di depan Hotel Alexis.
"Terima kasih ya pak, ini ambil saja kembaliannya." ujar Sanas lalu pergi.
Karena terburu - buru Sanas lupa menyiapkan kartu undangan sebagai akses masuk, ia mengobrak abrik tas yang ia bawa hingga. Bruk!!!
"Maaf.. saya tidak sengaja nona!!" kata seorang pria yang menabraknya.
"Oh.. tidak papa tuan, saya yang salah!! saya yang minta maaf.." kata Sanas membungkuk, ia pun mendongakkan kepalanya. pandangan mereka bertemu.
"Tuan Eliyas Anggara!!!"
"Kreyasa Anastasya!!!"
Seru mereka serentak, Kelvin mendengar itu pun menatap keduanya bergantian.
"Kau mengapa disini?" tanya Eliyas.
"Ya, kebetulan yang punya acara ini rekan bisnisku." jawab Eliyas.
"Lama tak jumpa.. Apa kabar tuan?" tanya Sanas.
"Baik, Kau sendiri?" tanya Eliyas balik.
"Saya juga baik Tuan." jawab Sanas
"Bukankah seharusnya kau sudah ada di dalam?" tanya Eliyas.
"Iya Tuan saya baru sampai, ada sedikit masalah tadi. Maaf atas kecerobohan saya, harusnya tadi saya fokus berjalan." ujar Sanas kembali membungkuk. Mendengar jawaban Sanas pun Eliyas dan Kelvin saling pandang, Entahlah apa maksud mereka, hanya mereka yang tahu.
Sanas menyodorkan kode QR-nya saat mengisi buku tamu, hal ini semakin membuat Eliyas dan Kelvin Kebingungan.
"Apa acaranya sudah mulai?" tanya Eliyas pada orang yang bertugas menunggu buku tamu.
__ADS_1
"Sudah Tuan, tinggal acara tukar cincin saja." jawabnya. Mendengar itu Eliyas mempercepat langkahnya guna mengimbangi langkah kaki Sanas.
Pintu Hotel Terbuka, Sontak membuat orang - orang yang saat itu fokus pada pasangan kekasih yang sedang bertukar cincin kini beralih terfokus pada arah pintu yang terbuka. Terlihat seorang Eliyas Anggara sedang berjejer dengan seorang Gadis cantik di sampingnya, di susul oleh Asisten pribadinya. Hal ini tak luput dari sorotan media, Namun tak di hiraukannya oleh Sanas matanya terfokus pada raja dan ratu pemilik acara.
Degh!!!
"Daniel..." Lirih Sanas saat melihat pasangan dari Sahabatnya itu.
"Sepertinya bukan nona yang menjadi pasangan Daniel Tuan." bisik Kelvin.
"Tapi bukankah dulu Daniel melamarnya di depan banyak orang? aku sangat mengingat kejadian itu." bisik Eliyas.
"Saya juga kurang tau Tuan." jawab Kelvin.
- Flashback On -
Eliyas menghadiri undangan acara purnawiyata di SMA XX, Eliyas menyuruh Kelvin agar menyiapkan buket bunga mawar merah dengan tujuan akan di berikan untuk Sanas sebagai tanda ucapan selamat atas kelulusannya.
Dalam perjalanan menuju SMA XX Eliyas melirik Buket bunga ukuran jumbo yang ada di samping kemudi mobil. Tak hanya buket bunga, Eliyas juga menyiapkan sebuah kado yang terbungkus kotak kecil mungil berisikan cincin permata yang berukirkan nama Sanas.
"Vin, apakah dia akan menyukainya?" tanya Eliyas kepada kelvin yang tengah fokus mengemudi mobilnya.
"Saya rasa nona akan menyukainya Tuan, seperti yang Tuan tau jika nona sangat menyukai bunga mawar bukan." jawab Kelvin.
"Semoga saja." ujar Eliyas.
Sesampainya di SMA XX, Eliyas segera masuk ke ruangan. Acara pun di mulai, ia sangat takjub dengan prestasi Sanas. Ketika di penghujung acara Eliyas hampir saja menghubungi kelvin agar membawa buket bunganya menuju ruang AULA. Belum sempat ia merogoh ponselnya, ia di buat terkejut dengan apa yang ia dengar dan ia saksikan secara langsung.
"Kreyasa Anastasya, Mau kah kau bertunangan denganku!!"
Kata - kata itu mampu memporak porandakan hati Eliyas, tanpa Ba.. Bi.. Bu.. Eliyas segera pergi dari acara tersebut.
"Tuan Bagaima-"
"Buang bunga menjijikan ini." perintah Eliyas menotong pembicaraan Kelvin, Kelvin yang tau jika bosnya sedang kesal pun hanya menuruti perintahnya saja.
-Flashback Off-
__ADS_1
...****************...
Nih guys yang nanyain Eliyas udah mulai di munculkan kembali ya!! selamat membaca, jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ya🤗