
Dariel memapah tubuh Sanas untuk masuk ke mobil, ia memutuskan mengantarkan Sanas langsung karena khawatir akan keadaan Sanas yang baru saja berdebat, ia takut jika hal itu mempengaruhi kandungannya.
"Katakan dimana alamat rumahmu, aku akan mengantarmu." ujar Dariel memasangkan seat belt Sanas, Sanas masih tampak mematung tatapanya lurus kedepan sama sekali tak merespon ucapan Dariel. Ia terlihat sangat Down saat itu, tanpa di sadari bulir - bulir cairan bening menetes membasahi wajah cantik Sanas. Dariel tak mengerti apa yang terjadi pada adik tirinya itu, tapi dia bisa tahu jika Sanas dari awal memang tidak baik - baik saja. Bukan tanpa alasan, namun banyak kejanggalan - kejanggalan. Mulai dari luka memar pada sudut bibir, hingga kulit yang melepuh terkena air panas nyaris 80% pada tubuhnya. puncaknya, Sanas hampir meninggal dunia karena tenggelam dan itu terjadi pada waktu yang bersamaan.
"Dan apa tadi? menyiksa istri dan mengunci di kamar mandi?" batin Dariel.
"Are You Ok?" tanya Dariel menghapus air mata Sanas menggunakan sapu tangan,Sanas terkejut.
"I'm ok!!!" kata Sanas sembari tertawa terpaksa.
"Suamimu menikah lagi?" tanya Dariel.
Sanas Diam.
"Dia yang membuatmu masuk kerumah sakit?" tanyanya lagi.
Sanas masih bungkam.
"Bukankah seorang suami boleh menikah lagi jika istrinya mengijinkan, lalu kenapa kau begitu sedih melihat suamimu bahagia bersama istri keduanya?" tanya Dariel.
"Itulah.. yang membuatku tidak terima adalah, karena sebelumnya aku tidak tahu." ujar Sanas tertawa.
"Hahaha.. Memanglah ini salahku, jika saja aku bisa memberinya keturunan dengan cepat mungkin semua ini tidak akan terjadi." Katanya tertawa keras namun berlinang air mata.
__ADS_1
"Kenapa kau diam saja? kenapa kau hanya pasrah dengan semua ini? kekurangan bukan suatu alasan untuk berbuat sesuatu yang melanggar hukum!!!" geram Dariel.
"Wanita yang penuh kekurangan ini bisa apa?" tanya Sanas rapuh.
"kau wanita yang cerdas, aku yakin kau tau apa yang harus kau lakuhkan. Come on Ayashaa..." ujar Dariel.
"Kau bisa menggugatnya cerai dan memulai hidup yang baru, kau bisa menuntut keduanya karena mereka menikah tanpa sepengetahuanmu." imbuhnya.
"Tidak kak.. aku tidak mau.' kata Sanas.
"Why?" tanya Dariel.
"Bagaimana pun dia adalah ayah dari anakku, jika aku menggugat dan menuntutnya. Apa yang harus ku katakan pada anak - anakku nanti?" kata Sanas.
"Kita besarkan anak ini sama - sama." tambah Dariel. Mendengar itu pun Sanas menghentikan tangisnya, ia menggenggam erat tangan Dariel.
"I Can't.." ujar Sanas. Entahlah apa maksut dari pekataan Dariel Barusan, hanya mereka berdua yang tau.
.
.
.
__ADS_1
.
.
"Ayashaa.. kita sudah 3 jam muter - muter, sebenarnya kita mau kemana?" tanya Dariel.
"Aku sendiri tidak tahu kak." jawab Sanas.
"Aku antar ke kota XX ya?" tanya Dariel.
"Tidak... jangan!" kata Sanas.
"Kenapa? jangan bilang kalau kau mau kembali ke rumah suamimu?" tanya Dariel, Sanas hanya diam.
"Jangan gila kamu Shaa.." kata Dariel.
"Tapi-"
"Apa kamu mau menambah tekanan batinmu dan membuatmu stres dan berpengaruh terhadap kehamilanmu, Kita ke kota XX hari ini juga." kata Dariel keukeh.
"Tidak kak, aku tidak akan kesana dalam keadaan seperti ini. Ayahku sedang masa pemulihan dari sakit yang di deritanya. aku tidak mau beliau kepikiran atas masalah yang menimpaku, bagaimana pun ini masalah yang sangat besar." jelas Sanas.
"Huftt...." Dariel membuang nafasnya kasar, benar juga yang di katakan Sanas. Kesehatan pak Wara juga penting.
__ADS_1
"Jadi kau yakin akan kembali ke rumah suamimu?" tanya Dariel.