
Kediaman Alexander -
"Nathaline, malam ini kau dan Daniel mewakili Tuan Reza untuk menghadiri pesta ulang tahun anak rekan bisnisnya bukan?" tanya Marisa.
"Iya Ma.." jawab Nathaline di sela - sela mengunyah makanan.
"Bagus.. Nanti Mama sama Papa juga menghadirinya, jadi nanti siang kita shoping dan perawatan ke salon. Kau tau yang kita hadiri adalah pesta dari orang yang sangat terpandang dan ia juga yang menyuntikan dana terbesar di perusahaan milik Papa Daniel. Mama harap kalian berdua tidak membuat kami malu." ujar Marisa.
"Wah sama dong ma.. Papa kemarin juga bilang kalau Tuan Wara ini penyuntik dana terbesar juga di perusahaan." Ujar Nathaline.
"Mama tenang saja, menantu pilihan mama ini tidak terlalu buruk untuk di ajak ke pesta." kata Daniel.
"Maksud kamu apa bilang seperti itu Niel?" tanya Nathaline geram.
"Kau tidak terlalu jelek untuk di ajak ke pesta, begitu saja tidak paham." imbuh Daniel.
"Daniel.. Kau!!!!"
__ADS_1
***
Sanas menatap dirinya di pantulan cermin, sudah lama ia tak berdandan seperti malam ini. Ia sedikit merapikan rambut yang sudah tertata rapi dengan di hiasi aksesoris.
"Perfect!!" lirihnya memuji dirinya sendiri.
Ia keluar dari kamar kostnya, terlihat ada dua bodyguard yang menunggunya di depan gerbang. Ya.. Wara mengutus anak buahnya untuk menjemput sang putri semata wayang.
"Nona sudah siap?" tanya Adi.
"Sudah.. Maaf jika membuat kalian lama menunggu." ujar Sanas.
"Tidak apa - apa Nona, kami sudah terbiasa." kata Lion.
Butuh waktu 15 menit untuk menempuh perjalanan menuju hotel Melati, untung saja malam ini jalan tidak terlalu ramai, Jadi tidak macet. Sesampainya di hotel, Sanas turun dari mobil. Tampak beberapa pengusaha juga baru sampai di lokasi.
"Mari ikut kami Nona." kata Lion.
"Kemana? bukannya itu pintu masuknya?" tanya Sanas heran.
"Anda mempunyai pintu masuk khusus Nona.." jelas Adi.
__ADS_1
"Begitu ya?" tanya Sanas mengikuti arahan dari Lion dan Adi. Pintu terbuka, seketika semua manik mata tertuju pada Sanas. Hamparan karpet merah terpampang nyata di hadapan Sanas saat ini. Ia sedikit grogi karena pasalnya ini baru pertama kalinya Sanas tampil di hadapan khalayak umum terutama rekan bisnis yang ayah. Sanas berusaha mengusir rasa groginya, ia memberanikan diri melangkahkan kakinya. Semua tamu undangan di buat takjub dengan kehadiran seorang gadis memakai dres warna gold dengan higheels warna silver berjalan dengan percaya dirinya diikuti kedua bodyguard utusan Wara di belakangnya.
Sanas menghampiri sang ayah yang tengah bercakap dengan rekan bisnisnya, sekilas Wara mencium pipi Sanas.
"Lihat dia Niel.. tidak bisa mendapatkanmu, ia lari ke om - om. Dasar jalang!!" ujar Marisa. Daniel masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Tidak mungkin Sanas melakuhkan hal sehina itu." batin Daniel mengepalkan tangan.
Acara pun di mulai...
"Baik disini saya akan umumkan jika perusahaan Wara's group cabang Kota M resmi di buka!!!" kata Wara di sambut tepuk tangan dari semua tamu undangan.
"Selain itu saya akan memperkenalkan kepada kalian semua, baik rekan bisnisku mau pun rekan media. Saya akan memperkenalkan seseorang yang sangat berarti di hidup saya, jantung hati saya.." ujar Wara menggantung.
"Lihat.. Jalang itu bisa membuat Om - Om sebucin itu.." bisik Marisa kepada Nathaline, Nathaline mendengar itu pun bergidik ngeri.
"Dia adalah gadis di samping saya.. Cantik bukan?" ujar Wara masih menggantung.
"Dia adalah Kreyasa Anastasya, Anak semata wayang saya yang hari ini tepat berumur 19 tahun.." tegas Wara di sambut tepuk tangan dari para hadirin.
Jedarr!!!! bagai petir di siang bolong.
__ADS_1
"Apa?" ujar Marisa dan Alexander bersamaan. mereka tak percaya, Pasalnya gadis yang biasa ia sebut - sebut gadis miskin ternyata justru anak konglongmerat. Tak terkecuali Daniel, ia juga terkejut karena setahu dia, Sanas adalah anak dari petani sawit di kota KL, sedangkan Nathaline juga terkejut karena setahunya Perusahaan keluarga Sanas sudah bangkrut beberapa tahun yang lalu. Terdengar banyak kasak kusuk dari semua hadirin, banyak pujian - pujian yang terlontar dari mulut ke mulut.