
Seperti yang di katakan Sanas sebelumnya, ia mendatangi kostan Gea. Semenjak menjadi tunangan Tama, Sanas meninggalkan mobilnya di kota XX. Jadi Ia pinjam mobil milik Eliyas karena tidak mungkin ia pergi kesana bersama Eliyas. Sesampainya di tempat tujuan, Sanas sudah di sambut oleh Gea di depan gerbang.
"Ngga nyasar kan?" tanya Gea.
"Ih.. ya enggak lah, kebetulan dulu aku juga pernah kost deket daerah sini jadi udah hafal jalannya." ujar Sanas.
"Iyakah? untung saja ngga pernah ketemu kamu." ujar Gea.
"Dasar!!" ketus Sanas sambil menoyor kepala Gea.
"Masuk yuk.. masak mau ngobrol di sini." kata Gea.
"Yukk..." kata Sanas.
"Sorry ya kalo berantakan dan sempit, soalnya aku mampunya cuma sewa kost yang murah." ujar Gea.
"Santai aja kali Ge.. Apaan sih, gue nggak pernah permasalahin itu kok." ujar Sanas.
"Eh.. btw mobil loe baru ya?" tanya Gea tiba - tiba.
"Eh.. itu.. Enggak kok itu gue pinjem." jawab Sanas gelagapan.
"kirain mobil baru.. Oh iya, Btw.. lu kok bisa kerja di perusahan Anggara's Group sih, bukannya loe kerja di Arthamara ya?" tanya Gea.
__ADS_1
"Gue resign dari Arthamara Ge.." jawab Sanas.
"Lah kok bisa? loe resign dari kantor calon suami loe tapi sekarang loe kerja di tempat lain, Aneh.." kata Gea. Sanas pun menceritakan semuanya kepada Gea dari awal hingga akhir.
"What? maksut loe Zen kakak kelas kita dulu?" tanya Gea memastikan. Sanas pun hanya manggut - manggut mengiyakan perkataan Gea.
"Kok bisa loe nyembunyiin rahasia sebesar ini sama kita berempat?" selidik Gea.
"Waktu itu gue taunya gue di perkosa Gea, yakali gue cerita ke kalian semua kalo gue udah nggak perawan mana nggak perawannya karena di perkosa lagi, kan nggak lucu." jelas Sanas.
"Gila.. Gila.. Terus gimana endingnya hubungan kalian?" tanya Gea. Sanas hanya mengangkat bahunya tanda tak tahu.
"Kalian jadi menikah?" tanya Gea.
"What? serius loe?" tanya Gea kaget.
"Ya kali gue nggak serius." ujar Sanas.
"Gila sih laki lo kalo di rasa - rasa.. udah jangan di terusin kali Nas, dari pada loe ntar nikah makan ati tiap hari yakan." kata Gea.
"Gue bingung gimana bilangnya ke bokap gue." ujar Sanas.
"Loe bilang aja kalo udah nggak ada kecocokan di antara kalian berdua, gue yakin bokap loe bisa ngerti kok." ujar Gea.
__ADS_1
"Iya juga sih.." kata Sanas tampak berfikir.
"Lebih cepat lebih baik, dari pada kena tekanan batin mulu." kata Gea.
"Loe bener, masalah gue harus segera di selesaiin." ujar Sanas.
"Apapun keputusan loe dan apapun yang terjadi gue tetep dukung keputusan terbaik loe Queen.." ujar Gea.
"Thank You Dear..." ujar Sanas memeluk Gea.
"Sama - sama Queenku.." kata Gea membalas pelukan Sanas.
"Btw.. ngeMall yuk.." ajak Sanas.
"Loe bercanda ya Queen? buat makan aja gue stok indomie, ini malah di ajak ngemall." ujar Gea.
"Astaga.. gue yang traktir oke, tapi jangan yang branded - branded gue juga nggak kaya - kaya banget." kata Sanas cengengesan.
"Ish.. dari dulu kamu terus yang traktir, kita jalan - jalan aja deh di Mall ya.." ujar Gea.
"Sambil makan deh sambil makan." paksa Sanas.
"Iya deh iya, ya udah gue siap - siap dulu ya. Masak iya loe mecing kek gitu sedangkan gue lusuh." ujar Gea.
__ADS_1
"Apaan sih.. udah buruan sana." ujar Sanas.