CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 124


__ADS_3

Keesokan harinya, Sanas dan Eliyas pergi ke Kota XX untuk membicarakan kelanjutan hubungan Sanas dan Tama. Di perjalanan tampak Sanas yang banyak melamun, Eliyas tahu betul jika Sanas sedang memikirkan cara berbicara kepada orang tuanya.


"Jangan terlalu di fikirkan, aku tahu ini berat. Tapi, bukankah jujur lebih baik bukan?" ujar Eliyas memecahkan keheningan.


"aku hanya bingung mulai dari mana." ujar Sanas jujur.


"Apa perlu aku yang bicara?" tanya Eliyas yang membuat Sanas terkejut.


"Tidak.. Tidak.. Nanti mereka akan berpikiran negatif tentangmu." ujar Sanas.


"Kalau begitu siap tidak siap kamu harus siap berkata sejujur - jujurnya." ujar Eliyas.


"Oke.." jawab Sanas lesu.


Cup!!! satu kecupan mendarat di pipi Sanas, sontak membuat sang empunya terkejut.


"Kau jelek kalau cemberut." ujar Eliyas.


"Kalau ngga cemberut?" tanya Sanas.


"Cantiklah.." ujar Eliyas keceplosan.


"Terima Kasih Tuan Eliyas Anggara.." ujar Sanas dengan senyum tengilnya.


Tak beberapa lama pun keduanya sampai di kediaman keluarga Sanas. Tin.. Tin.. Tin.. Eliyas membunyikan klakson mobilnya tak beberapa lama keluarlah Bi Rosa membukakan gerbang.


"Siapa ya tumben?" batin Bi Rosa bingung.


"Hallo Bibi.." sapa Sanas.


"Eh... Asa, Sama nak Ta... a.." terlihat Bi Rosa semakin kebingungan ketika mengetahui ternyata Sanas tidak bersama Tama melainkan dengan Eliyas.

__ADS_1


"Selamat siang Nyonya, senang bertemu anda kembali." sapa Eliyas.


"Ah.. Siang Tuan Eliyas, Suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu anda kembali." kata Bi Rosa.


"Silahkan masuk.. silahkan masuk.. Asa ajak Tuan Eliyas masuk." ujar Bi Rosa lagi.


"Ayo masuk kak.." ajak Sanas, Mereka pun masuk.


Diruang tamu


"Bibi buatin minum dulu ya.." kata Bi Rosa.


"Aku bantu bi.. Kak aku tinggal dulu ya." kata Sanas.


"Oh.. oke.." jawab Eliyas. Sanas pun mengikuti Bi Rosa dari belakang, Sesampainya di dapur Bi Rosa menarik tangan Sanas.


"Apa sih bi?" tanya Sanas.


"Bisa - bisanya kamu kerumah sama pria lain bukannya sama calon suami." ujar Bi Rosa kesal.


"Kenapa? coba jelasin kenapa? jangan malu - maluin keluarga ya Asa.." ujar bi Rosa marah.


"nanti akan aku ceritakan jika semuanya sudah kumpul." ujar Sanas sambil meraih nampan yang berisikan minuman dan beberapa cemilan yang ia ambil dari kulkas.


****


Jam menunjukan pukul 20.15 WIB, kini semua telah berkumpul di ruang keluarga kecuali Eliyas. Eliyas tidak ingin ikut campur masalah ini, ia percaya jika Sanas mampu mengatasinya sendiri.


"Kau punya hutang penjelasan pada kami Sa.." ujar Nenek.


"Aku mau pernikahanku dan Tama di batalkan." ujar Sanas.

__ADS_1


"Jadi ini jawabannya?" tanya Bi Rosa.


"Tidak.. Bukan begitu!!" ujar Sanas, Sanas pun menceritakan sedetile - detilenya. Mulai dari dia yang di jebak, pertemuannya dengan Zen, Memergoki Tama sedang bermain ranjang dengan wanita lain, hingga bagaimana bisa dia pulang bersama Eliyas.


"Astaghfirullah.." kata Nenek saat mendengar cerita Sanas.


"Bagaimana bisa kamu menyimpan rahasia sebesar itu Asa? itu jelas masalah besar, harusnya kamu bilang dari dulu pada kami agar di tindak lanjuti." kata Paman Zoe.


"Sudahlah Paman.. Yang lalu biarlah berlalu, sekarang yang terpenting adalah aku mau pernikahanku dan Tama batal." ujar Sanas.


"Apa kau yakin nak?" tanya Nenek.


"Aku sangat yakin nek, aku paling benci pengkhianatan." ujar Sanas.


"Apapun keputusan kamu, kami hanya bisa mendukung nak.. Kami yakin kalau kamu tau mana yang terbaik." kata Paman Boby. Sanas bisa bernafas lega sekarang, akhirnya semua keluarga setuju jika pernikahannya di batalkan.


Kini Sanas menyusul Eliyas yang tengah duduk di teras rumah. Ia menghampiri Eliyas dan duduk di sampingnya.


"Bagaimana?" tanya Eliyas.


"Apanya?" kata Sanas balik tanya.


"Apa mereka setuju?" tanya Eliyas. Sanas hanya terdiam dengan ekspresi muka yang tidak dapat di artikan.


"Ya..." teriak Sanas mengagetkan Eliyas.


"Syukurlah.." ujar Eliyas.


"Huft... akhirnya.. tinggal mengembalikan barang - barang yang Tama berikan kepadaku, sekaligus pamitan sama kedua orang tua Tama, dan Aku mau Kau yang menemaniku." ujar Sanas.


"Mana ada? kenapa aku? harusnya kan sama orang tua kamu." ujar Eliyas.

__ADS_1


"kan seharusnya bukan Harus." ujar Sanas.


"Baiklah.. baiklah.. terserah kau saja." ujar Eliyas frustasi.


__ADS_2