
"Untuk apa barang sebanyak ini?" tanya Eliyas bergidik saat melihat ada beberapa kardus barang yang akan di bawa Sanas.
"Ya ini yang ingin ku kembalikan." ujar Sanas.
"Sebanyak ini?" tanya Eliyas memastikan.
"Yaa.. kau tau setiap minggunya aku selalu di belikan baju minimal 3 potong baju belum tas sepatu make up dll, jadi wajar kalau banyak." jelas Sanas.
"Kenapa tidak kau bakar saja." ujar Eliyas.
"Ini semua barang mahal dari pada ku bakar mending ku jual lagi kan lumayan buat beli cilok." ujar Sanas nyelonong masuk mobil.
"Cilok?" tanya Eliyas mengerutkan dahinya.
"Ahh.. orang kaya ngga bakalan tau apa itu cilok." sindir Sanas.
"Apa itu sejenis barang branded?" tanya Eliyas.
"Yaa.. Sekelas dengan Channel, Gucci, Dior, LV, Dan semacamnya." ujar Sanas geram.
"Besok ajak aku ke storenya langsung ya." ujar Eliyas serius. Sanas hanya tertawa dalam hati melihat reaksi Eliyas.
Tak selang beberapa lama mobil Eliyas telah memasuki pelataran rumah Tama, terlihat mobil sport warna hitam juga terparkir disana menandakan jika Tama juga sedang ada di rumah. Sanas meminta beberapa penjaga untuk membantu menurunkan barang - barangnya. Sedangkan Ia dan Eliyas masuk ke rumah Tama.
"Sayang, kau datang.. ini bukannya Tuan Eliyas Anggara betul?" tanya Larasati saat menyambut keduanya.
"Nanti akan ku jelaskan Ma.." ujar Sanas.
"Ayo masuk.. masuk.. Silahkan masuk Tuan.. kebetulan sekali Tama sedang tidak berangkat bekerja." ujar Larasati. Keduanya di persilahkan duduk, Larasati heboh di dapur, ia memang sangat antusias jika menyangkut dengan Sanas apa lagi beberapa minggu lagi adalah acara pesta pernikahan putranya dengan Sanas.
__ADS_1
Semua telah berkumpul di ruang keluarga termasuk Tama.
"Sayang, minggu ini kalian fitting baju pengantin ya." ujar Larasati.
"Ma.. sebenarnya bukan tanpa alasan Sanas datang ke sini." ujar Sanas.
"Ada apa sayang?" tanya Larasati.
"Ada satu hal yang ingin aku sampaikan mengenai hubungan kami." ujar Sanas.
"Katakan saja nak.." ujar Gala.
"Hubungan kami beberapa bulan terakhir ini sedang tidak baik, semua itu di sebabkan adanya salah paham di antara kami berdua." ujar Sanas. Tama tampak menunduk saat Sanas mulai angkat bicara.
"Salah paham bagaimana maksut kamu nak?" tanya Gala.
"Dulu saat saya masih SMA saya sempat dekat dengan Zidan sahabat kecil Tama, sempat ada kejadian dimana saya mengira jika saya kehilangan keperawanan saya. Saya belum sempat menjelaskan kepada Tama tapi Tama mempercayai sebagian dari sepenggal cerita." ujar Sanas.
"Iya Sayang, mama ingat." ujar Larasati.
"Hari itu juga saya datang ke apartemen Tama, dan mama tau apa yang Sanas lihat?" tanya Sanas dengan mata berkaca - kaca. Semua diam menunggu cerita Sanas selanjutnya. Sanas menarik nafas panjang agar ia mampu menceritakan semuanya agar cepat selesai.
"Saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri Tunangan saya, Arthama Ardiwinata sedang bermain ranjang dengan sekertarisnya, dan kalian tau apa alasannya melakuhkan itu? ia berkata jika saya adalah bekas dari sahabatnya maka saya juga harus mendapatkan bekas dari teman kerja saya." ujar Sanas tegas.
"Tama.. apa benar yang di katakan Sanas?" tanya Gala dengan emosi yang menggebu - gebu. Tama hanya bisa diam seribu bahasa.
"Untuk itu, kedatangan saya kesini.. saya ingin pernikahan diantara kita di batalkan." ujar Sanas sambil melepas cincin tunangan yang masih melingkar di jari manisnya.
"Nak.. semua masih bisa di bicarakan baik - baik." ujar Larasati.
__ADS_1
"Keputusan saya sudah bulat ma.. maafkan saya jika selama ini saya banyak kesalahan kepada Tama maupun papa dan mama." ujar Sanas.
"Saya tidak akan pernah menyetujuinya, pernikahan kita akan tetap di langsungkan." ujar Tama angkat bicara.
"siapa yang sudi?" tanya Sanas.
"Apa karena pria ini telah menghasutmu sehingga kau dengan tidak tahu dirinya meminta pernikahan kita di batalkan." singgung Tama.
"Ini semua murni karena kemauanku sendiri jangan salahkan orang lain, lebih baik kau berkaca." ujar Sanas tidak Terima.
"perempuan Murahan!!!" cela Tama.
"Jaga bicara anda Tuan Tama, apakah pantas seorang yang terhormat seperti anda berkata seperti itu kepada seorang wanita?" kata Eliyas mulai angkat bicara.
"Lihat, pria ini membelamu wahai wanita murahan.. sepertinya kalian memang cocok di persatukan." ujar Tama.
"Tama.. jaga bicaramu.. aku tidak pernah mengajarkanmu berlaku tidak sopan seperti itu." ujar Gala.
"Mereka memang sepatutnya di perlakukan tidak sopan" ujar Tama.
"Sepertinya semuanya sudah jelas, kalau begitu kami permisi.." ujar Eliyas menarik tangan Sanas mengajaknya untuk segera pergi.
"Oh ya.. Tama, barang - barang murahmu sudah ku tata rapi di kardus itu.' ujar Eliyas sebelum berlalu.
Sepergian Eliyas dan Sanas membuat Gala naik pitam.
plakk.. plakk.. plakk.. beberapa pukulan melayang kewajah tampan Tama. ia sangat kecewa dengan kelakuan Tama yang seperti orang tak berpendidikan.
" Siapa yang mengajarimu seperti itu Tama? ini sangat memalukan." ujar Gala. Tama hanya diam, karena ia tau jika dirinya memang salah.
__ADS_1
"Minta maaf dan bujuk Sanas untuk tetap mau menikah denganmu. jika tidak, jangan harap mama merestui hubunganmu dengan wanita mana pun. karena sampai kapan pun menantu mama hanya Sanas." ujar Larasati tak kalah kecewanya. Tama hanya diam, ia sendiri bingung bagaimana caranya agar pernikahanya dengan Sanas tetap berjalan, karena jujur saja di lubuk hati Tama yang paling dalam, ia masih sangat mencintai Sanas. meskipun ia tau jika Sanas tak mungkin mau menerimanya kembali.