
Satu minggu berlalu, Sanas sudah kembali menjalani aktivitasnya seperti biasa. Mengingat kondisi Sanas yang baru pulih, Eliyas tidak mengijinkan Sanas terlalu kelelahan. Mau tidak mau Sanas harus mengikuti perintah Eliyas.
"Maaf pak sebelumnya, Saya mau minta izin lusa untuk tidak bekerja." ujar Sanas.
"Kenapa?" tanya Eliyas.
"Lusa saya wisuda pak." ujar Sanas.
"Oh.. baiklah jika begitu." kata Eliyas tanpa beralih dari layar laptopnya. Sanas kesal di buatnya, sebenarnya ingin rasanya Sanas meminta Eliyas untuk ikut hadir dalam wisudanya nanti.
"Kenapa lagi?" tanya Eliyas.
"Eh..Anu.." kata Sanas terbata - bata.
"Kalau sudah tidak ada yang di bicarakan silahkan keluar saya masih sibuk, banyak yang harus saya kerjakan karena besok saya harus mengurus cabang di luar kota selama 1 bulan. jadi tolong, mengertilah." kata Eliyas.
"Baik pak.. Permisi.." ujar Sanas, ia keluar dari ruangan Eliyas dengan perasaan kecewa.
"Huft.. padahal aku ingin sekali dia hadir saat aku wisuda nanti." gerutu Sanas.
__ADS_1
****
Hari ini adalah hari dimana Sanas di wisuda, Sebentar lagi Gadis cantik itu akan mendapat gelar baru di belakang namanya. Menjadi kebanggaan tersendiri dari seorang Sanas bisa lulus tepat waktu, bagaimana tidak, ia melewati masa - masa sulit di waktu akhir masa belajarnya. Namun ternyata hal itu sama sekali tidak mempengaruhi kepintarannya.
Sanas melangkah malas di atas red karpet yang telah di sediakan pihak kampus, separuh dari semangatnya seolah hilang. Bagimana tidak, selain Eliyas tidak bisa hadir saat wisudanya, Ia pergi ke luar kota tanpa menemui Sanas atau sekedar memberitahunya.
Satu persatu nama mahasiswa di panggil untuk di wisuda.
"Hadirin yang kami hormati, kali ini akan saya bacakan nama Mahasiswa berprestasi dengan ipk 3,80 dari fakultas Ekonomi jurusan Administrasi perkantoran..."
"Kreyasa Anastasya putri dari bapak Wara Subrata."
Semua hadirin bertepuk tangan, Sanas tersenyum senang perjuangannya selama ini tidak sia - sia.
Sanas pun naik ke panggung, ia memberikan sedikit motivasi.
"Tunggu sebentar, ada seseorang yang ingin menemuimu di sini." kata mc menahan Sanas saat hendak turun.
"Siapa?" tanya Sanas bingung.
__ADS_1
"Sebentar lagi beliau datang." ujarnya. Terlihat ada sosok pria gagah berjas hitam berjalan dengan membawa buket bunga mawar merah. Sanas terkejut karena seseorang yang ingin menemuinya adalah Eliyas.
"Kak El.. Kau datang" ujar Sanas.
"Happy Graduation Kreyasa Anastasya." kata Eliyas memberikan buket bunga tersebut kepada Sanas.
"Terima Kasih." ujar Sanas. Terdengar kasak kusuk dari para tamu undangan serta mahasiswa lainya. Eliyas meraih microfon yang di sodorkan oleh sang MC, semua nampak antusian menunggu apa yang akan di ucapakan Eliyas.
"Kreyasa Anastasya.. Hari ini adalah hari bahagiamu, selain Wisuda, Kau juga mendapat penghargaan sebagai mahasiswa dengan IPK tertinggi. Tapi izinkan saya memberi kebahagian yang baru, di depan teman seangkatanmu dan tentu di depan ayahmu tercinta, Tuan Wara Subrata." kata Eliyas membungkukan tubuhnya, tanda hormat kepada Wara, Wara pun menganggukan kepalanya. Sanas masih bingung dengan perkataan Eliyas yang masih belum tercerna dalam pikirannya.
"Mungkin kamu akan bosan dengan perkataan saya yang satu ini, karena mungkin kamu mendengarnya sudah seratus juta kali keluar dari mulut saya. Dan saya harap ini menjadi kata saya yang terakhir.." kata Eliyas menjeda perkataannya, Sanas masih tetap setia menunggu kelanjutkan ucapan Eliyas.
"Kreyasa Anastasya, Hari ini.. Di panggung ini.. Dan di saksikan ratusan ribu pasang mata, Izinkan saya untuk melamarmu. Bersediakah kau menikah denganku?" lanjut Eliyas sambil mengeluarkan cincin permata dari saku celanaya dan bersimpuh di depan Sanas. Sontak membuat semua yang menyaksikan berteriak histeris karena saking bapernya.
Sanas terpaku mendengar lamaran Eliyas, Ia sendiri bingung harus menjawab apa. Jika ia menerimanya, bagaimana jika ayahnya tidak merestuinya? jika menolaknya, Sudah pasti akan membuat malu Eliyas tentunya. Ia bimbang, Sekilas Sanas melirik ke arah Ayahnya guna mendapat persetujuan. Wara tersenyum dan mengangguk tanda setuju. Sanas pun tersenyum senang, ia kembali terfokus kepada pria yang baru saja melamarnya.
"Yaa.. aku mau." ujar Sanas.
"Yes!!!!" ujar Eliyas girang ia sampai melompat saking senangnya. Ia memeluk Sanas dan mengangkat tubuh Sanas, ia benar - benar senang karena wanita yang sangat ia cintai menerima lamarannya. Tidak hanya Eliyas, semua yang hadir menyaksikan keduanya ikut berteriak histeris. Eliyas sampai lupa jika kini mereka tengah di saksikan banyak pasang mata.
__ADS_1
...****************...
Nihh.. yang minta Eliyas sama Sanas nikah, bakal author kabulin loh.. jadi jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komen, Vote ke karya Author ya.. sehat selalu readers kesayangan aku💕