
"Ternyata kau bisa berubah menjadi singa betina." bisik Tama saat menuju kamar hotel.
"ya.. apa lagi kalau ada yang mengganggu milikku." ujar Sanas.
"Aku senang jika kau marah karena ada yang menggangguku." ujar Tama.
"Kenapa begitu?" tanya Sanas heran.
"Itu artinya kau sudah mencintaiku." kata Tama dengan bangganya.
"Percaya diri sekali." dengus Sanas.
"Lah.. memang begitu bukan?" tanya Tama.
"Iya.. Iya.. Bagaimana pun kau calon suamiku sekarang, jadi akan ku usahakan untuk mencintaimu." ujar Sanas.
"Sanas, kok gitu? jadi kamu belum mencintaiku selama ini?" tanya Tama dengan raut muka kecewa.
"Hahaha.. lihat mimik wajahmu begitu menyedihkan, Aku mencintaimu Arthama Ardiwinata." ujar Sanas sambil mengalungkan tangannya ke leher Tama.
"Aku juga akan selalu mencintaimu Kreyasa Anastasya." ujar Tama sambil meraih pinggang ramping Sanas.
Kini keduanya saling berhadapan, meskipun bukan kali pertama mereka sedekat ini. Namun tetap saja ada sedikit kecanggungan diantara keduanya. Tama semakin medekatkan wajahnya kearah Sanas demi mengikis jarak diantara keduanya, Sanas diam, ia pasrah hingga akhrinya.. Cup!!! satu kecupan mendarat di bibir mungil Sanas. Tidak ada penolakan disana, Tama melanjutkan Aksinya ia ******* lembut bibir Sanas, belum ada balasan di sana, namun hal itu tak membuat Tama menyerah begitu saja, ia menyapu bersih rongga - rongga mulut Sanas dengan lembut. Lama kelamaan Sanas terbuai, ia pun mulai membalas ******* itu secara perlahan.
Tama mengangkat tubuh Sanas ke ranjang dalam posisi masih berciuman, ia mengukung tubuh mungil Sanas. Ciuman semakin panas, gelora - gelora cinta diantara keduanya semakin membara. Tetapi...
"Cukup!!!" ujar Sanas.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Tama sedikit kecewa.
"Ini terlalu jauh.." kata Sanas.
"Tapi kita akan menikah." bujuk Tama.
"Waktunya masih lama kak Tama." ujar Sanas memeluk Tama.
"Lepas.." kata Tama dingin.
"Kakak, dengarkan dulu.." kata Sanas masih berusaha memeluk Tama.
"Lepas kataku!!" kata Tama sedikit meninggi, dengan berat hati Sanas melepaskan pelukannya. Tak terasa bulir - bulir bening keluar dari sudut mata Sanas.
"Keluarlah.." kata Sanas serak.
"Aku tau.. keluarlah, aku ingin istirahat." kata Sanas.
"Tidak.. Tunggu.. Hey, Ku mohon. aku minta maaf." bujuk Tama.
"Pergilah.." kata Sanas.
"Baiklah.. Selamat istirahat, Sekali lagi aku minta maaf." ujar Tama. dengan berat hati Tama mengiyakan permintaan wanita yang baru beberapa jam menjadi tunangannya itu.
"Apa semua pria juga bersikap sama jika wanitanya menolak untuk bercinta." ketus Sanas sambil mengusap sisa - sisa air matanya.
"Belum apa - apa udah nafsu aja, dikira aku cewek apaan." umpatnya.
__ADS_1
"Sabar.. Kreyasa Anastasya.. Sabar, ini baru pemula. Masih ada banyak halang rintangan selanjutnya oke!! Kau harus sabar." ujarnya menatap cermin.
***
"Padahal tadi aku sudah membayangkan nikmatnya surga dunia, ehh malah kena ngambek." ujar Tama mengusap wajahnya secara kasar.
"Dasar bodoh.. bodoh.. bodoh.. bisa - bisanya aku tidak bisa mengendalikan diri ketika melihat tubuhnya. Sudah tau kalau dia wanita berbeda kok ngga bisa di ajak kompromi sih si Junior." umpatnya.
"Mulai sekarang aku harus belajar, apa yang boleh aku lakuhkan dan yang tidak boleh aku lakuhkan kepadanya. Demi kebaikan.. Ya, Demi Kebaikan. Dan kau Junior jangan nakal lagi, sarangmu masih belum boleh di jenguk oleh tuanmu." ujarnya.
****
Seorang pria tengah menenggak sebuah minuman beralkohol langsung dari botolnya, terlihat sudah ada beberapa botol bekas yang berserakan di lantai. Pria yang biasanya berwibawa kini tampak lusuh dan berantakan, menandakan jika dia sedang tidak baik - baik saja.
"Come on El.. Hentikan semua ini, bisa - bisa kau gila." ujar Kelvin berusaha merebut botol minuman beralkohol yang di pegang Eliyas.
"Aku memang sudah gila." ujar Eliyas masih tetap menenggak minuman di tangannya.
"Stop!! El.. Stop!! dia sudah jadi milik orang, itu tandanya dia bukan jodohmu, masih banyak wanita di luar sana yang jauh lebih baik dari gadis itu." ujar Kelvin.
"Diam!! Di mataku dia yang terbaik, dia yang sempurna. Jangan sekali - kali kau katakan jika ada wanita yang lebih baik darinya." ujar Eliyas meraih kerah baju Kelvin.
"Itu berarti kau yang bodoh, kau di suguhi wanita yang menurutmu baik tapi kau masih mementingkan egomu, ku beritahu wanita selain butuh cinta dia juga butuh kepastian!!" ujar Kelvin sambil menepis tangan Eliyas yang mencekram kerah bajunya.
"Kau tau Vin, di dunia ini tidak ada yang tidak bisa ku miliki termasuk wanita, jadi aku harus mendapatkan apa yang seharusnya ku miliki." ujar Eliyas dengan senyum licik.
"El.. kau jangan gila, dia akan menikah." ujar Kelvin.
__ADS_1
"Aku tidak peduli, miliku adalah miliku." ujar Eliyas.