
"Riyana.." gumam Eliyas namun masih bisa di dengar oleh Sanas. Dengan tidak tahu dirinya Riyana menghampiri Eliyas dan bergelanyut manja dari belakang. Sanas hanya memandang sinis dua orang yang tengah berpelukan itu.
"Astaga El.. ku kira itu tadi bukan kau, Hmm... hampir saja aku pangling." ujar Riyana nyelonong duduk di sebelah Eliyas. Sanas yang melihat itu pun hanya melipat kedua tangannya, sambil melihat reaksi yang timbul dari Eliyas.
"untuk apa kau di sini?" tanya Eliyas dingin.
"Hey.. Beib, ini tempat umum kalau kau lupa. Tentu siapa saja boleh datang kesini termasuk aku kan?." ujar Riyana manja.
"Cih.. Beib?" batin Sanas.
"Dia siapa El?" tanya Riyana pura - pura tidak tahu.
"Kau belum mengenalku?" tanya Sanas mulai buka suara.
"Emhh... sepertinya kau kekasih Eliyas ya, perkenalkan aku Riyana Casafira mantan kekasih Eliyas sekaligus cinta pertamanya." ujar Riyana angkuh.
"Riyana!!! jaga sikapmu.." bentak Eliyas. Sanas pun membalas uluran tangan dari Riyana dengan santai.
"Aku Kreyasa Anastasya, Calon istri Eliyas.. Sekaligus CEO dari Wara's group. Emhh... sepertinya kau terlalu lama terjebak masalalu ya sampai - sampai tidak mengenalku. padahal aku sudah lumayan populer loh." ujar Sanas yang membuat Riyana terbelalak.
"Jadi kau calon istri Eliyas... wah.. wah.. kebetulan sekali, kau harus tau. Dia sangat agresif di ranjang, dan kau juga harus tau jika dia sangat suka di bawah." ujar Riyana dengan tanpa rasa malunya.
"Riyana!!!!" bentak Eliyas.
"El... aku hanya memberitahunya, apa salah?" ujar Riyana santai.
"Tanpa kau beritahu pun aku sudah tahu Nona, jadi kau tidak perlu repot - repot mengajariku karena aku sudah pandai." ujar Sanas.
"Begitukah? tapi aku heran El.. sejak kapan tipemu berubah ke wanita yang bertulang seperti ini. bahakan jauh dari kata montok atau pun semok." ejek Riyana.
"Ini bukan bertulang Nona, ini tandanya aku pandai merawat diri. Hmm... tapi jika di pandang - pandang anda ini juga bukan semok atau pun montok, tapi lebih ke gembrot sih." ujar Sanas.
"Kau..." ujar Riyana geram.
__ADS_1
"Sudah dulu ya, mengingat jarak waktu pernikahan kami sudah sangat dekat jadi saya permisi dulu." ujar Sanas melenggang pergi tanpa mengajak Eliyas.
"Sayang, Tunggu!!!" ujar Eliyas menyusul. Riyana di buat kesal oleh keduanya.
Sedangkan Sanas, ia tentu kesal dan juga senang karena bisa mengucapkan ucapan yang menohok untuk mantan yang tidak tahu diri itu.
"Sayang.." panggil Eliyas namun tetap tak ada jawaban.
Eliyas menghela nafas, ia tau pasti jika Sanas kembali merajuk.
"Arghh.. apa ini yang di sebut ujian saat menikah." dengusnya sebelum memasuki mobil. Terlihat Sanas yang enggan menengok kearah Eliyas ia lebih memilih melihat ke arah luar jendela.
"Sayang, kamu marah?" tanya Eliyas.
"Menurutmu bagaimana? jika saja kau yang menjadi aku, kau marah atau tidak saat mantan kekasihku bercerita urusan ranjang tepat di depanmu?" tanya Sanas yang sukses membuat Eliyas kalah telak.
"Aa.. Aku-"
"Pantas saja waktu itu kau menyebut namanya saat pelepasan berhubungan denganku, jadi ini jawabannya?" tanya Sanas. Eliyas diam.
"Maafkan aku, seharunya aku jujur sejak dulu." kata Eliyas tulus.
"Tidak perlu!!! bukankah hubungan kita awalnya memang sebuah keterpaksaan?" kata Sanas tertawa sumbang.
"Apa maksut kamu Ayashaa?" tanya Eliyas terkejut.
"Yaahh.. dari dulu hubungan kita bukanlah berdasarkan cinta." kata Sanas.
"Tutup mulutmu yang selalu berbicara ngawur itu Ayashaa.. aku tidak suka." bentak Eliyas.
"Sekarang lihatlah, jika saja kau mencintaiku kau tidak mungkin membentakku hanya karena masalah sepele." kata Sanas yang membuat Eliyas terbelalak.
"Bagaimana aku tidak emosi sedangkan kau baru saja terang - terangan meragukan cintaku."
__ADS_1
"Asal kau tau, aku sudah tertarik kepadamu dari awal aku bertemu denganmu. meskipun kau masih anak kecil bau kencur yang sangat menyebalkan. aku tertarik denganmu karena kegigihanmu keberanianmu saat menyelamatkanku dari papan pengumuman yang roboh."
"Aku masih menyimpan jas yang dulu pernah ku pinjamkan kepadamu untuk menitupi rokmu yang sobek, aku juga menyuruh kelvin mencari aroma parfum yang sama dengan parfum yang kamu semprotkan ke jasku agar aku mencium aroma itu setiap aku merindukanmu."
"Bahkan aku masih menyimpan kemeja warna biru tosca yang terkena noda lipstikmu saat kau menabrakku kala aku mengahadiri rapat pleno di sekolahmu. demi apa? demi aku bisa melihat bibirmu kapan saja."
"Padahal aku tau, kau sudah memilih Daniel waktu itu, kau menunggunya bertahun - tahun. hingga akhirnya aku mendapat kabar jika Daniel akan bertunangan, aku pulang dari LA demi menyaksikan itu karena aku pikir itu benar kau calon tunangannya, masih ada sedikit harapan untukku. akhirnya aku menyuruhmu menungguku, tapi apa kau malah menerima lamaran Tama mantan bosmu, saat kelvin memberitahuku jika kau akan bertunangan malam itu juga aku terbang dari LA, aku rasa terlambat saat itu untuk menemuimu karena kau sudah resmi bertunangan dengannya tapi entahlah dewi fortuna seakan berpihak kepadaku karena akhirnya kau di khianati oleh tuanganmu."
Cekiiirrtttt.... Eliyas mengerem mobilnya, ia menarih bahu Sanas hingga berhadapan dengan dirinya.
"Sudah sering kali aku mengatakan bahwa aku menginginkamu, aku selalu mengajakmu ke jenjang yang lebih serius. Tapi kau selalu menolak halus ajakanku, seolah kau mengabaikan perasaanku Ayasha." kata Eliyas, Sanas bungkam.
"Kalau memang menurutmu aku tidak serius, lebih baik pernikahan kita di batalkan." ujar Eliyas. Tanpa menunggu respon Sanas, Eliyas menginjak gasnya dengan kecepatan penuh. Bukan menuju Mansion tapi menuju apartemen Eliyas, tentu Sanas bingung kenapa mereka kembali kesana sedangkan semua barang - barang Sanas ada di mansion.
"Turun!!!" kata Eliyas dingin.
"Kenapa kesini?" tanya Sanas bingung, namun sama sekali tak ada jawaban dari Eliyas.
"Seharunya kita ke mansion bukan kesini." kata Sanas lagi.
"Turun kataku.l!!" ujar Eliyas namun tak membuat Sanas bergeming.
"Aku tidak mau turun jika tidak di mansion." kata Sanas menantang. masih dengan amarah yang membeludak, Eliyas menarik paksa Sanas untuk keluar dari mobilnya lalu menuju lantai dimana apartemen Eliyas berada. Sanas meringis kesakitan karena cengkeraman Eliyas yang sangat kuat. Eliyas menghempaskan tubuh Sanas hingga jatuh tersungkur.
"Aww..." ringis Sanas.
"Tempat ini lebih pantas untukmu dari pada aku membuangmu di pinggir jalan." kata Eliyas arogan.
Deghh... kata membuang yang di baru saja di ucapkan Eliyas sukses menembus indra pendengaran Sanas hingga ke jantung, sakit sekali rasanya.
"Ya.. bukankah memang seharunya dari dulu kau membuangku El? bukan kah seharunya memang begitu?" tanya Sanas dengan berurai air mata. Eliyas masih tak mengerti dengan yang di katakan Sanas.
"Kau memang pantas membuang wanita yang tak sempurna ini El.. buang saja aku, untuk apa wanita yang tak berguna ini.." teriak Sanas, Eliyas paham, Eliyas mengerti maksut dari perkataan Sanas, ia berhambur memeluk wanita yang rapuh di hadapannya. menyesal, jelas ia menyesal karena secara tidak langsung telah merendahkan kehormatan Sanas, yang jelas - jelas ialah penyebabnya.
__ADS_1
"Maafkan aku.. kita pulang ya!!" ujar Eliyas mengecup kening Sanas.