
Eliyas sedikit harap - harap cemas ketika berhadapan dengan Dokter Ilham yang raut mukanya sangat sulit di artikan. Tanpa pikir panjang Eliyas menanyakan keadaan Sanas secara detail.
"Bagaimana kondisi istri dan anak saya dok? Mereka baik - baik saja kan?" tanya Eliyas antusias.
"dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada anda maaf jika saya lancang Tuan Eliyas. Saya sangat menyayangkan sikap anda terhadap istri anda yang sedang mengandung dengan catatan penuh resiko."
"Mungkin saya akan sedikit menceritakan riwayat kelainan dari nona Kreyasa Anastasya yang belum anda ketahui tuan." kata dokter sembari menghela nafas sebelum flashback ke masalalu.
"Mungkin anda tidak lupa dengan vonis nona Ayashaa beberapa tahun lalu yang menyatakan Nona Kreyasa Anastasya memilik harapan untuk bisa hamil hanya beberapa persen saja bukan? Terkait hal itu, anda dan Nona berusaha mati - matian berobat dan terapi di berbagai negara yang peralatan medisnya lebih canggih."
"Dan asal anda tau tuan, ketika pulang dari luar negeri, Nona datang kepada saya dan qadarallah. Nona sedang hamil saat itu.. Tentu saya sedikit terharu mendengar itu, tapi karena sebelumnya Nona sudah di Vonis demikian tentu kehamilanya justru menjadi kabar buruk untuk semua orang. Karena itu sangat beresiko untuk keselamatan ibu dan bayi."
"Saya sudah menjelaskan Resiko Terkecil hingga terbesarnya kepada Nona bagaimana jika Nona Hamil anak kembar terlebih beliau memiliki riwayat kandungan lemah, tapi Nona tetap Kekeh untuk mempertahankan janin yang di kandungnya." kata dokter Ilham.
"Apa k-kembar dok?" tanya Eliyas kaget. Dokter Ilham hanya mengangguk.
"Lalu kenapa istri saya belum di tangani juga dok? Apakah terkendala biaya kah? Saya akan membiayai nya dok, berikan pelayanan yang berbaik untuknya." kata Eliyas.
"Justru itu tuan, kami menunggu persetujuan anda terlebih dahulu." kata dokter Ilham.
"Persetujuan apa? Tentu saya setuju jika istri saya di tangani di rumah sakit ini dok."kata Eliyas.
"Silahkan di baca.." kata Dokter ilham yang sudah tak mampu menjelaskan problem yang sebenarnya. Eliyas menerima stopmaps yang di berikan Dokter, ia membaca dengan antusias satu demi satu kalimatnya.
"I-ini a-apa maksudnya dok? Saya harus memilih salah satu di antara pilihan ini?" tanya Eliyas tak habis pikir.
"Betul tuan.." kata Dokter ilham mengiyakan.
"T-tapi kenapa pilihannya seperti ini, saya tidak bisa dok. Saya mau anak dan istri saya selamat." kata Eliyas keberatan.
"Maaf Tuan, itulah resiko yang harus kita ambil karena Nona kekeh mempertahankan janinnya yang jelas - jelas membahayakan nyawanya." Kata dokter apa adanya.
__ADS_1
"Apa tidak ada cara lain dok? Kita bisa bawa istri saya keluar negeri mungkin." kata Eliyas.
"Tidak bisa Tuan, Keadaan nona sangat tidak memungkinkan. Apalagi nona melahirkan tidak tepat pada HPL itu semakin beresiko." kata Dokter.
"Kita bisa panggil dokter spesialis dari luar negeri kan." kata Eliyas.
"Tidak bisa Tuan, Lagi pula kita sudah tidak ada waktu lagi, kondisi nona sudah sangat kritis. Mau tidak mau kita harus segera melakuhkan tindakan." jelas Dokter Ilham.
"Permisi Dok, maaf... Nona Kreyasa ingin bertemu dengan suaminya." kata suster yang berjaga di ruangan Sanas.
"Silahkan jika anda ingin menemui Nona, Tuan." kata Dokter. Eliyas mengikuti Suster, ia sangat frustasi dengan keadaan saat ini.
Sesampainya di ruang rawat Sanas, Eliyas terpaku melihat kondisi istrinya yang saat ini sedang meringis kesakitan. Ia segera mendekati Ranjang tempat Sanas berbaring, ia menghujami wajah Sanas dengan Kecupan yang bertubi - tubi.
"Kau sudah mendengar penjelasan dokter sayang?" Tanya Sanas lirih, Eliyas mengangguk. Entahlah hati Eliyas justru sakit mendengar kalimat Sayang yang Sanas ucapkan untuknya, ia semakin di buat merasa bersalah atas apa yang telah ia lakuhkan kepada Sanas.
"Pertahankan anak kita ya.." mohon Sanas. Eliyas menggeleng, ia tidak mungkin membiarkan Sanas mengorbankan nyawanya demi keturunan pria brengsek seperti dirinya. Tentu itu akan membuat Eliyas semakin merasa bersalah.
"Tidak!!! aku tidak se egois itu sayang, yang aku mau itu kamu." tolak Eliyas.
"Kamu tidak mau merawat anak kita ya?" tanya Sanas, Air matanya sudah tak bisa di bendung lagi. Ia kembali teringat ucapan suaminya yang tidak sudi memiliki keturunan yang lahir dari rahim wanita seperti dirinya.
"Bukan.. Bukan begitu.. Aku tidak mau seumur hidup harus merasa bersalah kepadamu. Aku sudah cukup jahat, Maafkan aku." jelas Eliyas.
"seumur hidupku aku akan menyalahkanmu jika diantara anakku terjadi sesuatu... Arghhh" itulah kata terakhir yang terucap dari Mulut Sanas, karena tiba - tiba ia sesak nafas dan kembali kejang - kejang. Suster meminta Eliyas untuk keluar, dokter segera memeriksa keadaan Sanas.
Sesampainya ia di luar ruangan, terlihat semua teman, sahabat, serta keluarga Sanas telah berkumpul. Tidak ada yang tidak panik saat itu, semua arah mata tertuju pada Eliyas yang baru saja keluar dari sana.
"Lo udah tau kan apa yang bakal terjadi sama Ayashaa?" Tanya Gea. Eliyas mengangguk.
"Lo juga udah tau kan, keputusan apa yang tepat?" tanya Gea lagi, Eliyas hanya bisa menggeleng.
__ADS_1
"Gue harap lo bisa ambil keputusan yang bijak, dan tidak merugikan Sanas mau pun keluarganya demi kepentingan lo sendiri El." sambung Santi. Eliyas bimbang, keputusannya sangat bertolak belakang dengan permintaan Sanas, jujur saja ini adalah hal terberat yang Eliyas alami selama hidupnya.
Dokter keluar dari ruangan Sanas dengan terburu - buru, tentu hal itu juga membuat seluruh kerabat merasa Panik.
"Bagaimana kondisi anak saya dok?" tanya pak Wara.
"Kondisi Nona sudah sangat Kritis, kita harus segera melakuhkan operasi. Tuan Eliyas, saya minta agar anda memberikan keputusan saat ini juga, karena ini menyangkut keselamatan ibu dan bayi." kata dokter.
"Ayah serahkan semuanya kepadamu El.." kata pak Wara.
"Gue minta lo gak egois el.." kata Gea.
"Kita semua bergantung sama lo El.." sambung Dariel.
"S-saya..."
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Hmmm... Kira - kira Eliyas bakal jawab apa ya guys? Coba komen di bawah ya... Tinggal beberapa episode terakhir jadi jangan lupa voteπ₯°πππ