
Setelah mengetahui kebenarannya, Tama segera menuju rumah kost yang dulu Sanas tempati. Ia mencoba mengetuk kamar yang dulunya kamar Sanas namun tak ada jawaban.
"Cari siapa ya mas.." tanya pemilik kost.
"Maaf, apa Sanasnya ada?" tanya Tama.
"Sanas, sudah lama pindah mas.. ada kali kalau 1 bulan." ujarnya.
"kira - kira pindah kemana ya bu?" tanya Tama.
"kurang tahu ya mas, tapi setahu saya waktu itu dia pindahan di bantu sama itu lo mas, Pengusaha terkaya se Asia siapa ya namanya lupa saya." katanya lagi.
"Apa mungkin Eliyas Anggara." batin Tama.
"Baik..terima kasih informasinya, kalau begitu saya permisi dulu ya bu.." kata Tama lalu pergi.
Tama mendatangi Anggara's Group, ia menuju meja resepsionis.
"Apakah saya bisa bertemu dengan Tuan Eliyas Anggara?" tanyanya.
"Maaf apakah sudah membuat janji?" tanya Linda.
"Belum, tapi ini sangat penting." ujar Tama.
"Maaf, Pak Eliyas sedang tidak ada di tempat. Jika ada keperluan bisa bicara langsung dengan Tuan Kelvin." kata Linda lagi.
"Apa kau mengenal gadis ini?" tanya Tama sambil menunjukan foto Sanas.
"Bu Sanas, kebetulan dia adalah sekertaris Pak Eliyas yang Baru." ujar Linda.
"Apa kau tahu alamatnya?" tanya Tama.
__ADS_1
"Setahu saya dia mendapat fasilitas dari kantor dan tinggal di apartemen milik Tuan Eliyas Tuan.." ujar Linda.
"Apa aku boleh tahu tepatnya?" tanya Tama.
"Ada apa?" tanya Kelvin dari belakang.
"Oh.. Pak Kelvin, Tuan ini sedang mencari Bu Sanas pak." ujar Linda menjelaskan.
"Ada perlu apa anda ingin bertemu Nona Sanas?" tanya Kelvin.
"Saya ada perlu dengannya, dan dia masih tunangan saya jika anda lupa." ujar Tama.
"Oh.. jadi ini Tunangan Nona Sanas yang terlibat skandal dengan sekertarisnya sendiri." sindir Kelvin.
"Jaga bicara anda, saya tidak punya banyak waktu. Katakan dimana Sanas sekarang?" ujar Tama dengan nada tinggi.
"Jl.kenanga perumahan elite Lantai 10 kamar no.779, datanglah. Dia ada di sana sekarang." ujar Kelvin. Mendengar itu pun Tama segera pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Jam menunjukan pukul 09.00 namun kedua sejoli yang kelelahan karena pergulatan semalam masih di alam mimpinya masing - masing. Sanas mengerjapkan kedua matanya karene terkena cahaya yang menyeruak masuk melalui celah gorden.
"Shhh.. Aww.." desah Sanas. Ia meringis kesakitan, badannya remuk redam, terutama pada area sensitifnya.
Sanas terkejut bukan main saat menyadari dirinya tidak memakai sehelai benang pun dan yang lebih mengagetkannya lagi adalah kini ia tengah bersama Eliyas yang kondisinya sama dengan dirinya. Sanas hanya bisa menangis dan memeluk dirinya sendiri.
Eliyas terbangun saat mendengar isak tangis di dekatnya. Ia ingat betul kejadian semalam pasti akan membuat Sanas syok berat.
"K.. Kau.. Sudah bangun?" tanya Eliyas terbata - bata, ia meraih selimut dan menutupi tubuh belakang Sanas yang terkekspos. Sanas terkejut, ia dengan segera menghapus air matanya.
"Yaa.." jawab Sanas singkat. Keduanya saling diam.
"Semalam kita-" ujar Sanas menjeda perkataannya.
__ADS_1
"Maafkan aku atas kejadian semalam, aku terpaksa-"
"Tidak apa kak, Kau tidak perlu minta maaf.. Kau tidak salah, aku yang memaksamu untuk membantuku kan. Jadi tolong.. jangan merasa bersalah karena hal ini." ujar Sanas tersenyum kecut.
"Tapi aku telah menodaimu, Bagaimana pun aku harus bertanggung jawab." ujar Eliyas.
"Kau tidak perlu tanggung jawab kak, tidak akan terjadi apa - apa padaku." ujar Sanas.
"Tidak, Menikahlah denganku Kreyasa Anastasya, dengan begitu aku tidak akan di selimuti rasa bersalah seumur hidup." ujar Eliyas.
"Tidak, aku tidak mau menikah karena alasan rasa bersalah dan bukan karena cinta." ujar Sanas kembali menitikan air matanya.
"Sstt... aku tidak akan memaksamu jika kau tidak mau..." ujar Eliyas memeluk menenangkan Sanas.
"Terima kasih telah membantuku." ujar Sanas di sela isak tangisnya.
"Ini sudah siang, aku mau mandi." ujar Sanas.
"Baiklah.." ujar Eliyas.
"Aww.." ringis Sanas saat hendak turun dari ranjang.
"Apa masih sakit?" tanya Eliyas pada Sanas, Sanas hanya tertunduk malu.
"Mari aku bantu." ujar Eliyas.
"Tidak usah, aku bisa sendiri." tolak Sanas.
"Sudah jangan jadi pembangkang, itumu masih sakit." ujar Eliyas sambil menggendong Sanas menuju kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi, Saat Eliyas hendak menurunkan Sanas tiba - tiba ia tergelincir lantai yang licin. Byurrrr..... keduanya masuk ke dalam bathup yang sama, Seketika pandangan keduanya saling bertemu.
__ADS_1