
Semakin Sanas menghindari Daniel semakin ada saja momen yang memaksa mereka harus bertemu. Daniel mulai menyadari kalau Sanas menghindar darinya, itu dapat di lihat dari gerak - gerik Sanas selama ini. Saat pertemuan OSIS untuk kegiatan sekolah mereka bertemu kembali, selesai pembahasan dengan anggotanya Daniel berniat menemui Sanas.
"Sya.. Tunggu." kata Daniel sambil menahan tangan Sanas yang hendak keluar dari ruang OSIS.
Degh!!!
"Ada apa Daniel?" tanya Sanas berusaha santai.
"Aku mau bicara." kata Daniel.
"Lepaskan tanganku!! aku tidak mau ada kesalah pahaman lagi." kata Sanas, Daniel pun melepaskan tangannya.
"Kenapa kamu menghindar dariku?" tanya Daniel.
"Aku bukan menghindar, kita tidak ada urusan bukan?" kata Sanas, entah dapat keberanian dari mana ia berkata seperti itu.
"apa maksut kamu Sya?" tanya Daniel masih belum mengerti.
"Kita tidak ada urusan Daniel, Lagi pula bukannya memang kita tidak seharusnya berdekatan." jelas Sanas dengan nada tinggi, entah mengapa ia sangat emosi saat ini. Kali ini Daniel tak berkutik mendengar ucapan Sanas.
"oh ya Daniel, katakan pada kekasihmu. Aku sudah menuruti apa maunya." tambah Sanas lalu pergi meninggalkan Daniel sendiri di ruang OSIS. Daniel hanya termenung menandang punggung gadis yang selama ini memporak porandakan hatinya, ia mencerna ucapan Sanas.
"Huft...." Sanas menghela nafasnya kasar. Hatinya sakit, pikirannya kacau.
"Cinta, kau datang di tempat yang salah." batin Sanas, ia menuju bangku taman yang tidak jauh dari ruang OSIS. Ia memutuskan untuk merelakskan pikirannya disana.
"Kalau ada masalah jangan di pendam sendiri." kata seseorang yang membuyarkan lamunannya, Sanas tersentak, ia segera menyeka air matanya yang sedari tadi dibiarkan membasahi pipi mulusnya.
"Kak Rere.." kata Sanas
"Boleh aku duduk?" tanya Rere.
"Ya.. Silahkan." katanya.
"Kau tau, cinta itu tidak pernah salah. Hanya saja mungkin penempatannya yang tidak tepat." kata Rere, Sanas hanya terdiam mendengarkan perkataan Rere.
"Daniel sebenarnya adalah orang yang baik, kau pasti tau itu kan?" tanya Rere tiba - tiba, Sanas masih terdiam.
__ADS_1
"Ia hanya ingin berteman itu saja Sya." imbuh Rere.
"Tapi aku-"
"Aku percaya kalau kamu tau batasan kok Sya, apa salahnya berteman." kata Rere lagi.
" Tapi.. Aku tidak yakin." Batinnya.
"Yau udah aku ke kelas dulu ya." kata Rere meninggalkan Sanas seorang diri.
"Kak Rere bener juga, kenapa aku takut padahal kan memang benar Daniel hanya ingin berteman. Sepertinya ngga ada salahnya kalau aku mencoba." batinnya, lalu pergi menuju kelas.
"*Dari mana aja*?" tanya Rendy yang duduk di emperan kelas.
"*Tadi Daniel cariin kamu kesini*." kata Rendy lagi.
"*Oh.. gitu ya, emang ada apa*?" tanya Sanas santai.
"*Dia ngga bilang ada perlu apa sih, cuma tadi kek ngos - ngosan gitu. mungkin ada sesuatu yang penting*." ujar Rendy.
"*Oh.. oke, makasih ya Ren*." kata Sanas lalu masuk ke kelas.
__ADS_1
"*Queen, Tadi di cariin Daniel tuh*." kata Gea.
"*Iya tadi Rendy udah kasih tau kok*." kata Sanas.
"*Kalian ada masalah ya*?" bisik Gita.
"*Entah lah Git, semua terlalu rumit*." ujar Sanas.
"*Yang sabar ya, semua pasti ada jalan keluarnya*." kata Gita.
"*Pulang yuk*." ajak Sanas tiba - tiba.
"*Yuk, lagian ini juga jamkos sampe jam terakhir*." kata Gea.
"*Ke Dendy's caffe dulu gimana mau ngga*?" ajak Sanas.
"*Boleh deh tapi kita pesen minum aja ya, akhir bulan soalnya*." kata Santi sambil menggaruk - garuk tengkuknya yang tidak gatal.
"*Udah gampang, naik mobil gue aja ya*." imbuh Sanas, mereka pun menuju caffe.
__ADS_1