CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 92


__ADS_3

Saat selesai jam makan siang, Sanas bergegas menuju ruang Presdir. Sesampainya di depan ruangan Presdir Sanas menjumpai Melita terlebih dahulu.


"Hai.. Mbak Melita.." sapa Sanas.


"Hai.. Sanas kau di sini? ada perlu sama Presdir ya?" tanya Melita.


"Iya nih mbak.. Pak Presdirnya ada kan?" tanya Sanas.


"Ada kok, ya udah masuk aja." ujar Melita.


"Aku masuk dulu ya mbak.." kata Sanas yang di balas anggukan oleh Melita. Sanas pun memasuki ruangan Presdir.


"Permisi pak.. Bapak memanggil saya?" tanya Sanas.


"Oh Ya.. duduklah.." ujar Tama.


"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Sanas.


"Jadi begini, setelah 6 bulan masa training dan juga kontrak kerja selama 2 tahun aku melihat perkembangan yang cukup baik pada kinerjamu.." ujar Tama menggantung, Sanas terus menyimak apa yang di katakan Presdirnya.


"Untuk itu, saya akan menawarkan kamu untuk menjadi sekertaris saya." imbuh Tama.


"Apa? Tapikan saya masih kuliah pak, bukankah minimal harus tamatan S1? lalu bagaimana dengan bu Melita?" tanya Sanas terkejut.

__ADS_1


"Itu dia, Melita akan Resign karena akan menikah. Selama kau melanjutkan kuliahmu hingga usai aku akan meminta Aklis untuk menjadi sekertaris sementara." jelas Tama.


"Dan mulai besok dan 6 bulan kedepan aku minta kau gantikan Leo lagi, karena ia ku tugaskan di luar kota. Aku anggap itu sebagai masa Trainingmu menjadi sekertarisku." imbuh Tama.


"Baik.. Baik.. Pak, saya mau.. Allhamdulillah, Terima kasih banyak pak." kata Sanas senang.


***


Seperti yang di katakan Tama sebelumnya, mulai hari ini Sanas mulai menjadi Asisten Presdir. Sanas mengikuti kemana pun Tama pergi, Baik bertemu klien, meeting, keluar kota survei lokasi, menghadiri pesta, bahkan Lunch dan Diner.


Hari berganti minggu, Minggu berganti Bulan. Kini Sanas sudah mulai terbiasa selalu mengikuti kemana pun bosnya pergi. Bahkan hubungan mereka kini bukan layaknya Bos dan Asisten melainkan tampak seperti seorang Sahabat. Bukan tanpa alasan semua itu terjadi karena permintaan Tama sendiri, dengan tujuan agar mereka berdua mampu mengatasi ego satu sama lain. Seperti yang di ceritakan sebelumnya, Tama adalah pria yang tak menentu. Kadang friendly kadang dingin, jadi tugas Sanas adalah menjaga selalu Mood Atasannya. Dan itu selalu berhasil, itulah mengapa mereka tampak seperti sahabat bahkan seperti kakak dan adik.


"Besok malam diner yuk.." ajak Tama saat perjalanan menuju kost Sanas.


"Tapi besok kan aku kerja di Caffe." ujar Sanas.


"Hmm.. atau begini saja, Kak Tama dateng aja ke Caffe nanti aku temenin setelah perfom, gimana?" tawar Sanas.


"Jadi ngga romantis dong kalo kamunya sibuk kerja." ujar Tama masih dengan ekspresi kecewa.


"Idih.. Emang kak Tama bisa romantis? Emhh.. atau gini aja Nanti aku ijin ke bos aku deh, buat nemeni kak Tama dinner. Gimana mau ngga?" bujuk Sanas.


"Aku ngga mau ganggu kamu kerja." tolak Tama.

__ADS_1


"Ya udah kalau kakak ngga mau." kata Sanas. Tama tampak menimbang - nimbang perkataan Sanas.


"Serius nih ga mau?" goda Sanas.


"Iya.. Iya.. apa sih yang engga, Emang ya dedek aku yang menyebalkan ini selalu punya seribu cara buat bujuk abangnya." kata Tama sambil mengacak - acak rambut Sanas.


"Idih.. Abang Adek, siapa yang mau punya abang arogan kek gitu." sungut Sanas.


"Arogan ya.." kata Tama sambil mencubit pipi Sanas.


"Kakak.. Sakit!!" seru Sanas.


"Masih mau bilang punya abang arogan?" tanya Tama menghentikan mobilnya di pinggir jalan dengan senyum liciknya.


"Kak Tama Arogan.. Wleekkkk..." cibir Sanas. Tama mendengar itu pun tak tinggal diam ia menggelitik Sanas sampai tubuh Sanas meliuk - liuk tak tentu arah.


"Kakak.. Stop!! Geli.." ujar Sanas namun tak di hirukannya oleh Tama.


"Kakak.."


Tama pun menghentikan perbuatannya kini jarak mereka sudah terkikis, mereka saling pandang. Cup!!! satu kecupan mendarat di bibir Sanas, Sanas terdiam kini pipinya berubah merona karena malu. Tama lanjut menjalankan mobilnya. Tak selang beberapa lama, kini mereka sudah sampai di depan gerbang kost Sanas.


"Terima Kasih ya kak, aku turun dulu." ujar Sanas yang di balas anggukan oleh Tama, Tama menyadari jika kini Sanas masih salah tingkah atas perbuataanya beberapa menit yang lalu. Sanas pun keluar dari mobil.

__ADS_1


"See You.." ujar Tama.


"See You Too.. Hati - hati di jalan.." kata Sanas sambil melambaikan tangan.


__ADS_2