CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 116


__ADS_3

Terlihat Caca dan Delon saling pandang saat melihat Sanas baru saja datang, tak seperti biasanya.


"Tumben siangan Nas?" tanya Caca.


"Iya nih, tadi harus balik ke kost dulu buat ambil dokumen." ujar Sanas.


"Balik ke kost, emang dari mana lu semalem? terus dokumen apaan?" tanya Delon.


"Ada lah, Dokumen buat gue Resign." jawab Sanas.


"What, loe mau resign?" teriak Caca.


"Iya bentar lagi gue kan sidang skripsi, abis itu gue nikah. jadi gue Resign aja." ujar Sanas.


"Ciye.. yang mau jadi istrinya Bos, semangat amat." ujar Caca, mendengar itu pun Sanas hanya bisa tersenyum kecut.


Tiba - tiba di tengah obrolan mereka datanglah segerombolan Aklis and the geng.


"Duh gimana sih rasanya mergokin calon suami ngentiaw sama cewek lain, sakit ngga tuh?" sindir Agnes.


"Duh.. pasti sakit banget deh, mana sainganya masih virgin lagi ya masih kalah jauh lah say.." sambung Cia.


"Tapi enak lo ngentiaw sama calon suami orang guys.." sambung Aklis dengan senyum liciknya. Sanas hanya diam mendengar ocehan mereka, ia beranjak dari duduknya lalu menuju ruang HRD guna memberikan surat pengunduran dirinya. Beruntung alasan Sanas yang sebentar lagi akan menjadi istri pemilik perusahan cepat di terima, jadi ia tak perlu ambil pusing untuk membayar denda karena belum habis kontrak kerja.


"Semangat ya, sebentar lagi kamu akan menjadi nyonya Tama." kata Wira.


"Terima kasih pak, saya permisi dulu." ujar Sanas. kini ia dapat bernafas lega, satu misi telah teratasi kini ia menuju misi selanjutnya.


Ting!!! bunyi ponsel tanda pesan masuk


08xxxxxxxx

__ADS_1


Apa sudah selesai urusanmu?


BabyKreyđź’•


Siapa ya?


08xxxxxxxx


Aku El.


BabyKreyđź’•


sudah ini aku akan pulang.


08xxxxxxxx


Aku jemput


Tak jauh dari ketiga orang tersebut terlihat Eliyas baru saja menghentikan mobilnya.


Tin.. Tin.. Eliyas membunyikan klakson mobilnya, Sanas yang menyadari jika Eliyas sudah datang. Ia melambaikan tangan dan menghampirinya. Melihat hal itu pun Tama mengerutkan Dahinya.


"Kenapa dadaku sakit saat Sanas tak mempedulikanku." batin Tama.


"Kamu mau kemana?" tanya Eliyas.


"Aku mau cari kost - kostan, karena aku punya feeling jika Tama mengetahui aku resign dia akan mencariku ke kostan." ujar Sanas.


"Lebih baik kau selesaikan masalahmu dahulu, percuma kamu menghindar tapi masalahmu belum selesai." ujar Eliyas.


"Tapi Tuan.. terlalu sakit rasanya jika berpapasan dengannya setiap hari, makanya aku memutuskan untuk resign." bela Sanas.

__ADS_1


"itu tandanya kau terlalu mencintainya. Lain kali jangan gunakan hatimu seluruhnya hanya untuk mencintai seseorang, agar ketika kau di khianati itu tak terlalu sakit." ujar Eliyas.


"Aku sendiri juga tidak tau antara cinta atau benci." kata Sanas menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.


"Pengkhianatan itu memang menyakitkan, tapi lebih menyakitkan lagi jika kita terlarut dalam dilema antara benci atau cinta." kata Eliyas.


"Calon suamimu pasti punya alasan melakuhkan hal itu, kau juga harus introspeksi diri." ujar Eliyas.


"Yaa.. memang.." kata Sanas. Sanas pun menceritakan semuanya dari awal hingga akhir. Eliyas mendengar semua itu pun hanya menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Itu bukan cinta tapi nafsu, kalau dia benar - benar mencintaimu dia tak mungkin melampiaskan nafsunya ke orang lain, apa lagi dengan alasan masa lalumu." ujar Eliyas.


"Aku bingung harus apa." kata Sanas.


"Lakuhkan apa yang menurutmu baik, dan membuatmu senang." kata Eliyas


"Yaa.. temani aku mencari kost ya" pinta Sanas.


"Untuk sementara tinggalah di apartemenku, kau tak perlu khawatir, aku akan tinggal di mansion." kata Eliyas.


"Tidak.. Tidak.. aku tidak mau melibatkanmu dalam masalahku." ujar Sanas.


"Bukannya aku sudah terlanjur terlibat?" tanya Eliyas.


"Iya juga sih.." kata Sanas.


"Sekarang aku akan mengantarmu mengemasi barang - barangmu, kita pindah hari ini. Oke?" kata Eliyas.


"Baiklah, terima kasih.. Maafkan aku selalu merepotkanmu." ujar Sanas.


"Aku tidak pernah merasa di repotkan." ujar Eliyas.

__ADS_1


__ADS_2