
Seperti yang di katakan Sanas beberapa hari yang lalu, Sepulang dari kantor Sanas segera membersihkan diri dan bersiap pergi ke Caffe. Sungguh hari pertama kerja terburuk yang di alami Sanas. Bagaimana tidak, Di tengah - tengah ia santai bernyanyi tiba - tiba pandangan matanya terfokus pada pengunjung yang duduk tepat di depan ia perfom, Tak lain adalah Daniel dan Nathaline yang tengah asik bermesraan.
Hitam bukan dirimu
Putih juga bukan dirimu
Jemu 'ku melihatmu
Tak bercahaya
Seperti memudar
Cinta, aku mencinta
Kamu yang aku mau
Namun tak tepat waktu
'Ku sudah jera
Dalam percintaan
Salam hangat untuk cintamu
Aku yang kandas dan patah hati
Biarlah orang memandang lemah
Aku tak mau bercinta lagi
Engkau yang dulu pernah kucinta
Namun terlanjur kau bersamanya
Dan kau terluka oleh cintanya
Kini kau hadir 'ku sudah jera
Cinta, aku mencinta
Kamu yang aku mau
Namun tak tepat waktu
'Ku sudah jera
Dalam percintaan
Salam hangat…
Mendengar suara yang familiar Daniel pun mendongakan wajahnya, pandangannya terfokus pada seorang gadis yang tengah bernyanyi di atas panggung di dampingi seorang pria. Ia menatap sendu gadis pujaan hatinya, terlihat raut wajah yang sedang tidak baik - baik saja. Sanas yang menyadari kalau Daniel tengah menatap ke arahnya kini balik menatap manik mata seorang Daniel. Pandangan mereka bertemu, Daniel menatap penuh kerinduan, sedangkan Sanas menatap penuh kebencian. Ia benci atas ketidak pastian, ia benci ada pengkhianatan di atas penantian.
Langit begitu gelap
Hujan tak juga reda
'Ku harus menyaksikan
Cintaku terenggut
Tak terselamatkan
Ingin ku ulang hari
Ingin kuperbaiki
Kau sangat ku butuhkan
Beraninya kau pergi
Dan tak kembali
Di mana letak surga itu
Biar ku gantikan tempatmu denganku
Adakah tanda surga itu
Biar ku temukan untuk bersamamu
__ADS_1
Ku biarkan senyumku
Menari di udara
Biar semua tahu
Kematian tak mengakhiri
Cinta
Di mana letak surga itu
Biar ku gantikan tempatmu denganku
Adakah tanda surga itu
Biar ku temukan untuk bersamamu
Di mana letak surga itu
Biar ku gantikan tempatmu denganku
Adakah tanda surga itu
Biar ku temukan untuk bersamamu
Apalah artinya hidup
Tanpa kekasihku
Percuma 'ku ada
Di sini
Kekasihku
Kekasihku
(Biar kugantikan tempatmu)
Kekasihku
Kekasihku
Kekasihku
Kekasihku
Apalah arti hidup
Tanpa kekasihku
Lagi - lagi Sanas menyanyikan lagu dengan penuh penghayatan Namun tatapan matanya tetap tertuju kearah Daniel. ia menyanyikan lagu seolah menyindir hubungannya dengan Daniel. Apakah Daniel tersindir? ohh.. jelas!! Hanya orang berhati batu yang tidak menyadari hal itu.
Tiba - tiba semua pengunjung restoran di buat heboh atas kehadiran seseorang yang sangat berpengaruh di negara ini, Siapa lagi kalau bukan Eliyas Anggara. Semua di buat terkejut tak terkecuali Sanas saat Eliyas menghampiri dirinya di atas panggung.
"Boleh saya pinjam gitarnya?" tanya Eliyas. Aditya yang mengetahui siapa yang ada di hadapannya pun denfan senang hati memberikan gitarnya.
"Ini kesempatan emas!!" batin Aditya. Semua pengunjung riuh dan bertepuk tangan.
"Kau mau membalas dendam bukan? bernyanyilah seolah kita sedang di mabuk asmara." bisik Eliyas yang sukses membuat Sanas tertunduk malu mendengar apa yang di bisikan Eliyas. Tapi di sisi lain, semua pengunjung heboh di karenakan posisi mereka berdua membuat seolah Eliyas sedang mencium Sanas.
(Kreyasa Anastasya)
Ku pilih hatimu tak ada ku ragu
Mencintamu adalah hal yang terindah
Dalam hidupku oh sayang
Kau detak jantung hatiku
(Eliyas Anggara)
Setiap nafasku hembuskan namamu
Sumpah mati hati ingin memilihmu
Dalam hidupku oh sayang
__ADS_1
Kau segalanya untukku
(Eliyas & Sanas)
Janganlah jangan kau sakiti cinta ini
Sampai nanti di saat ragaku
Sudah tidak bernyawa lagi
Dan menutup mata ini untuk yang terakhir
(Kreyasa Anastasya)
Setiap nafasku (setiap nafasku)
Hembuskan namamu (hembuskan namamu)
Sumpah mati (sumpah mati)
Hati ingin memilihmu (ku milikmu)
Dalam hidupku oh sayang
Kau segalanya untukku ooh
(Eliyas & Sanas)
Janganlah jangan kau sakiti cinta ini
Sampai nanti di saat ragaku
Sudah tidak bernyawa lagi
Dan menutup mata ini untuk yang terakhir
Oh tolonglah jangan kau sakiti hati ini
Sampai nanti di saat ragaku
Sudah tidak Bernyawa lagi..
Tiba - tiba Sanas di buat terkejut saat Eliyas sekilas mencium punggung tangannya. Semua pengunjung di buat iri oleh Sanas, mengingat dengan siapa ia bernyanyi membuat semua kaum hawa ingin menggantikan posisi Sanas. Berbeda dengan Daniel yang mengepalkan tangannya menahan amarah.
"Lihat kekasih bodohmu itu, jelek sekali kalau sedang menahan marah." tunjuk Eliyas.
"Dia sudah bukan kekasihku lagi kalau kau lupa Tuan Eliyas Anggara." ketus Sanas.
"Tapi sebelum aku ke sini kau tampak memperhatikan dia bukan?" tanya Eliyas yang membuat Sanas kalah telak.
"Ikut denganku.." ujar Eliyas menarik tangan Sanas, Sanas hanya ikut saja. Ia terkejut saat Eliyas mengajaknya menuju meja tepat di depan Daniel.
"Ini kesempatan.." bisik Eliyas, Sanas mengerti dengan apa yang di maksud Eliyas.
"Sayang.. Kenapa tak memberitahu dahulu kalau kau kesini? Ah.. aku tau, baru sebentar saja ku tinggal bekerja pasti kau merindukanku bukan.." ujar Sanas mulai berakting, Ia bergelanyut manja di lengan Eliyas saat melewati meja tempat Nathaline dan Daniel. Daniel mulai jengah, ingin rasanya ia melayangkan bogem ke arah Eliyas.
"Ayasa.. kau kah itu?" ujar Nathaline. Eliyas dan Sanas pun berhenti sejenak.
"Hai.. Nathaline, kau di sini rupanya?" tanya Sanas dengan nada yang di buat - buat.
"Hei kenapa saat pesta pernikahanku kau tidak hadir?" tanya Nathaline.
"Oh.. Astaga, maafkan aku.. Waktu itu kekasihku baru pulang dari luar negeri jadi aku menyambutnya di apartemennya.. Bukan begitu Sayang?" ujar Sanas dengan raut muka yang di manis - maniskan. dan di balas anggukan oleh Eliyas.
"Ahm.. Baiklah aku mengerti, Oh.. Astaga, jadi kau sudah menemukan pengganti mantan calon tunanganmu itu?" tanya Nathaline.
"Emhh.. seperti yang kau lihat, tapi sebelum aku kenal dengan mantan calon tunanganku. Aku terlebih dahulu menjalin hubungan dengan kekasihku yang ini.." jawab Sanas.
"Oh Astaga, tuhan sangat berpihak kepadamu.." ujar Nathaline.
"Sayang.. apakah sudah ngobrolnya, aku sudah lapar.. ingin rasanya aku memakanmu di sini." ujar Eliyas.
"Sial.. dia sedang memanas - manasiku." batin Daniel.
"Ah.. Sayang kau ini mesum sekali, baiklah kita makan. Oh ya.. Nathaline.. Daniel.. aku duluan ya, Selamat atas pernikahan kalian berdua." ujar Sanas sambil berlalu menuju mejanya.
"Darimana kau tau jika saat pesta pernikahan dua cecunguk itu aku baru datang dari luar negeri?" tanya Eliyas.
"Apa kau benar dari luar negeri? Oh.. Astaga entah kebetulan atau apa, ku rasa tuhan memang senang berpihak kepadaku." ujar Sanas.
__ADS_1