
-Sanas POV-
Aku buru - buru masuk ke kamar Apartemen. Aku membuka bingkisan yang baru saja ku beli dari apotek. Dengan mengumpulkan segenap keberanianku, Aku menggunakan alat tersebut. Dalam hati Aku berdoa agar hal yang tidak di inginkan itu terjadi.
1...
2...
3...
Degh!!! 2 garis merah terpampang nyata pada alat mungil tersebut, Aku masih tak percaya. Aku membuka semua jenis merk alat tes kehamilan dan ku pakai semua agar lebih akurat. Namun hasilnya tetap sama, dua garis merah. Itu tandanya Aku sedang mengandung anak Eliyas saat ini. Aku sendiri bingung harus bagaimana, mengugurkannya? itu tidak mungkin. Meminta Eliyas untuk tanggung jawab? bukankan Aku tempo hari menolak mentah - mentah ajakan Eliyas untuk menikah. Astaga, aku serba salah.
"Tidak, aku tidak boleh egois. bagaimana pun Eliyas adalah anak biologis dari bayi ini, dia harus tau." batinku.
****
Keesokan harinya, Sanas berniat untuk menemui Eliyas.
"Pak, ada hal yang ingin saya bicarakan." ujar Sanas.
"Saya sibuk!!" ujar Eliyas tanpa melihat Sanas. Sepertinya Eliyas masih enggan untuk berbicara dengan Sanas. Sanas mengerti, ia mengurungkan niatnya untuk memberi tahu Eliyas perihal kehamilannya.
Semua itu masih berlanjut hingga satu minggu kemudian, Sanas belum ada kesempatan untuk berbicara dengan Eliyas. Sanas mulai ketar ketir, bagaimana tidak lambat laun kehamilannya akan membesar dan semua orang akan tahu jika dirinya tengah mengandung.
-Ruangan CEO-
Tampak seorang wanita sexy tengah berbincang dengan seorang Eliyas, dia adalah Riyana mantan kekasih Eliyas yang beberapa tahun lalu meninggalkan Eliyas. Ia kembali lagi, dengan alasan masih mencintai Eliyas.
"Apa kau merasa sebaik itu hingga kau dengan percaya dirinya datang kemari seolah - olah aku tidak akan menolakmu." ujar Eliyas sinis.
__ADS_1
"Aku tahu kau masih mencintaiku El.." ujar Riyana.
"Percaya diri sekali." ketus Eliyas.
"Hey.. Hey.. Hey.. dengarkan aku." ujar Riyana sambil duduk di meja tepat di hadapan Eliyas, ia sedikit merenggangkan pahanya guna menggoda Eliyas.
"Aku tahu perasaanmu terhadapku masih sama El.." ujar Riyana, dengan tidak tahu malunya ia ******* bibir Eliyas anehnya Eliyas tak menolaknya.
Sedangkan di ambang pintu sudah ada seorang gadis yang kini tengah menyaksikannya sedang asik bercumbu. ya, Sanas bersikeras memaksa masuk keruangan Eliyas dengan alasan agar dirinya segera menceritakan kebenaran kepada Eliyas. Namun, dia justru di suguhi pemandangan yang sangat menjijikan baginya.
Sebenarnya Eliyas menyadari kehadiran Sanas namun ia pura - pura tidak mengetahuinya.
"Apa buktinya jika kau mencintaiku Riyana?" tanya Eliyas saat ciuman keduanya terlepas.
"Apa kau lupa? dulu kau yang mengambil keperawananku bukan?" ujar Riyana.
"Yaa aku ingat." kata Eliyas.
"Yaa.. aku percaya." ujar Eliyas sambil meraih dagu Riyana dan ******* bibirnya.
Tak terasa Air mata Sanas kini telah berjatuhan entah tak terhitung jumlahnya. Berhari - hari ia menurunkan egonya untuk menerima Eliyas menjadi suaminya kelak, namun hari ini harapan itu seolah - olah sirna. Sakit? jelas sakit, tapi apa, untuk marah pun ia sendiri tak berhak. Ia melangkah mundur dengan membawa segenap kekecewaannya.
"Ayasha.." panggil Eliyas saat menyadari kepergian Sanas, ia mendorong tubuh Riyana hingga tersungkur.
"Ayasha.. Tunggu!!!" teriak Eliyas. Namun, Sanas tak menggubrisnya ia masih tetap berlari menuju tangga darurat. Entah kenapa pikiranya kini kacau.
"Tunggu Ayashaa.." tariak Eliyas, Sanas masih terus berlari menuruini anak tangga, namun sayang ia kehilangan keseimbangan dan, Brukkk!!!! ia terkilir dan terguling hingga ke ujung Anak tangga.
"Ayashaa...." teriak Eliyas. ia buru - buru mendekati Sanas yang sudah tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Maafkan saya!!!" sesal Eliyas. Ia segera mengangkat tubuh Sanas dan membawanya ke rumah sakit.
Eliyas sangat khawatir, bagaimana pun semua ini terjadi karena dirinya. Sanas mulai membuka Matanya, ia melihat ke sekeliling, ia merasa jika ini bukanlah kamarnya.
"Ayashaa kau sudah siuman." kata Eliyas.
"Aku dimana?" tanya Sanas.
"Kau berada di rumah sakit." kata Eliyas.
"Kenapa aku ada disini?" tanya Sanas.
"Kau jatuh dari tangga." jawab Eliyas. Seketika ingatan Sanas kembali berputar mengingat beberapa jam yang lalu. Seketika Sanas tampak panik, bagaimana pun ia khawatir dengan janin yang di kandungnya.
"Sebentar aku panggilkan dokter dulu." ujar Eliyas.
"Selamat Siang Ibu.." kata Dokter.
"Siang dok, dokter.. bagaimana keadaan bayi di dalam kandungan saya dokter, dia baik - baik saja kan dokter? tanya Sanas, Eliyas di buat kebingungan dengan isi pertanyaan yang di lontarkan Sanas.
"Saya meminta maaf yang sebesar - besarnya kepada bapak dan ibu.. kami terpaksa harus menyampaikan berita duka kepada bapak dan ibu." kata Dokter.
"Apa maksut dokter? bayiku baik - baik saja kan dokter?" tanya Sanas sambil terus menangis.
"kami sudah melakuhkan yang tebaik Nona.. Tapi, Bayi anda tidak dapat di selamatkan. Dan-"
"Dan apa dok?" tanya Sanas.
"Akibat dari pendarahan yang Nona alami, hanya 20% kemungkinan Nona bisa hamil kembali." ujar Sang dokter.
__ADS_1
"Sudah cukup pergi kau dari sini." usir Eliyas, dokter tersebut pun keluar.