CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 131


__ADS_3

Setelah kepergian Tama, Sanas bernafas lega. Pasalnya, setiap kali ia melihat Tama, hatinya sakit tatkala mengingat pengkhianatan Tama yang menurutnya keterlaluan.


"Apa tugasku sudah selesai?" tanya Eliyas membuyarkan lamunan Sanas.


"Eh.. sudah.. sudah.." ujar Sanas menutup kembali bathdrop yang setengah terbuka.


"Cepat ganti baju dan bersiaplah, kita cari makan di luar." ujar Eliyas.


"Ehemm.." jawab Sanas, ia pun segera bersiap diri, ia memakai hodie dengan setelan jeans dan sepatu kets, bukan apa - apa. Ia hanya menyesuaikan outfitnya agar menutupi bekas kismark di tubuhnya..


"Sudah siap?" tanya Eliyas.


"Sudah.." jawab Sanas. Mereka pun berangkat menuju salah satu resto milik Eliyas.


Sesampainya di resto, keduanya pun memasuki ruang VVIP yang di antarkan langsung oleh sang manager resto.


"Apa terjadi masalah di resto?" tanya Eliyas.


"Tidak ada Tuan... Semua berjalan dengan semestinya." ujar Gio selaku manager.


"Bagus.." ujar Eliyas.


Drrtt.. Drrtt.. Drrttt.. ponsel Eliyas berbunyi.


"Ada apa?" tanya Eliyas pada orang di seberang telepon.


"..."


"Bagus, aku segera kesana." ujar Eliyas lagi.


"Ayo kita pulang." ajak Eliyas.


"Tapi makanannya?" tanya Sanas yang masih menyendok sedikit makananya.


"Nanti kita pesan gofood." ujar Eliyas meraih tangan Sanas.


"Aduh.. pelan - pelan dong kak El.. sakit." ujar Sanas.


"Jangan lama - lama, ini penting!!" ujar Sanas.


"Iya tapi pangkal pahaku yang sakit jika kau mengajakku jalan terlalu cepat." ketus Sanas, mendengar itu pun Eliyas menghentikan langkahnya.


"Maaf.. Aku lupa." ujar Eliyas. Tanpa aba - aba Eliyas menggendong Sanas, Sanas pun terkejut bukan main saat mendapat perlakuan tersebut.


"Kak El.. malu di lihat orang." ujar Sanas.

__ADS_1


"Sembunyikan wajahmu jika malu." ujar Eliyas, Sanas pun bersembunyi di balik ceruk leher Eliyas. Aroma maskulin menyeruak masuk dalam rongga hidungnya, ia menghirup dalam - dalam aromanya. Sedangkan Eliyas, ia di buat salah tingkah karena deru nafas Sanas yang mengenai lehernya. Entah - entah naluri kelaki - lakiannya muncul begitu saja. Ia ingin cepat - cepat sampai ke mobil.


Eliyas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, entah apa yang membuat ia buru - buru sekali. Sanas hanya bisa memejamkan mata dan berdoa di dalam hati.


"Sebenarnya kak El mau kemana sampai harus buru - buru begini?" tanya Sanas.


"Aku ada urusan." jawab Eliyas.


"Urusan apa?" tanya Sanas masih penasaran.


"Ada hal yang harus aku selesaikan Kreyasa Anastasya." ujar Eliyas.


"Apa sepenting itu hingga aku tidak boleh mengetahuinya?" tanya Sanas lagi.


"Ini mengenai orang yang telah menjebakmu semalam." jawab Eliyas jujur.


"Benarkah? Aku ikut. aku ingin tau siapa orangnya." kata Sanas.


"Tidak.. kau tidak boleh ikut." tolak Eliyas.


"Tapi-"


"Serahkan semuanya padaku." ujar Eliyas.


****


Di sebuah rumah kosong tampak seorang wanita tengah di ikat di atas kursi dengan keadaan mata tertutup.


"mana orangnya?" tanya Eliyas saat tiba.


"Sudah kami amankan Tuan." ujar Kelvin.


"Bagus, kau sudah bawa obat yang ku minta?" tanya Eliyas.


"Semuanya Beres." ujar Kelvin.


"Hallo Sonya.. Bagaimana kabarmu hari ini? baik bukan?" tanya Eliyas sambil membuka paksa tutup mata yang di kenakan Sonya.


"Tuan Eliyas.. Syukurlah Tuan di sini.. tolong saya Tuan, mereka mau menjahati saya." mohon Sonya.


"Mereka siapa? mungkin kami yang kamu maksut." ujar Eliyas dengab senyum liciknya.


"Apa maksut Tuan?" tanya Sonya.


"Ya, mereka orang suruhanku." ujar Eliyas duduk dengan menyilakan kakinya.

__ADS_1


"Apa salah saya hingga Tuan melakuhkan ini pada saya Tuan?" tanya Sonya.


"Masih kah kau bertanya apa salahmu?" tanya Eliyas murka.


"Sungguh saya tidak tahu apa kesalahan saya yang membuat anda murka Tuan." ujar Sonya mulai terisak.


"Apa yang kau lakuhkan kepada Sanas semalam?" tanya Eliyas meraih dagu Sonya, Sonya terhenyak mendapati pertanyaan Eliyas.


"Jawab!!!" bentak Eliyas.


"Sa.. Saya.. hanya mengerjainya Tuan." jawab Sonya gugup.


"dengan memberikan dia obat perangsang dengan dosis tinggi kau bilang hanya mengerjai katamu?"


"Kau tau, karena perbuatanmu Sanas hampir di nodai oleh pria brengsek suruhanmu. Dan lebih parahnya dia hampir meninggal karena dosis yang kau berikan untuknya terlalu tinggi." ujar Eliyas.


"Maafkan saya Tuan, sungguh saya tidak tahu jika efeknya akan seperti ini." ujar Sonya.


"Sebutkan apa alasanmu melakuhkan ini?" tanya Eliyas.


"Saya hanya memberi dia sedikit pelajaran, karena saya sakit hati kepadanya. gara - gara dia saya tidak lagi menjadi sekertaris Tuan dan saya tidak memiliki kesempatan untuk mendekati Tuan" kata Sonya jujur.


"Beraninya kau bermain kotor dan melibatkan wanitaku." geram Eliyas mencekik leher Sonya.


"Tolong jangan bunuh saya Tuan, saya tulang punggung keluarga. saya akan melakuhkan apa saja untuk menebus kesalahan saya, tapi saya mohon jangan bunuh saya." pinta Sonya.


"Kelvin.." panggil Eliyas. Kelvin pun datang memberikan segelas minuman. Eliyas menerima gelas tersebut dan membubuhkan obat yang sama dengan obat yang di berikan kepada Sanas.


"Minum!!!" suruh Eliyas.


"Tapi Tuan.. obat itu." kata Sonya ragu - ragu.


"Minum, atau aku akan membuatmu malam ini menjadi malam terakhir di hidupmu." ancam Eliyas.


"Tapi.."


"Minum!!" suruh Eliyas sambil menyodorkan pistol ke arah kepala Sonya.


"Ba... Baikk.. Tuan!!" kata Sonya dengan gemetar, Eliyas tersenyum licik melihat Sonya menenggak minumannya hingga habis. Ia masih menunggu reaksi obat tersebut. Dan benar saja reaksinya sama. Sonya seperti cacing kepanasan karena birahi yang tak segera tersalurkan.


"Kalian bereskan dia, kalian bebas melakuhkan apa saja padanya malam ini. Kelvin, ayo kita pergi." ujar Eliyas, beranjak dari duduknya. Ia pun pulang kembali ke apartemen bersama kelvin.


Sesampainya di apartemen, Eliyas melihat Sanas yang sudah tertidur di atas ranjangnya. Eliyas mendekat dan duduk di tepi ranjang, di naikannya selimut agar menutupi tubuh Sanas.


"Dendam mu sudah terbalaskan Kreyasa Anastasya!!!" bisik Eliyas sambil mencium sekilas bibir Sanas. Tanpa mendapat persetujuan Sanas Ia pun tidur di samping Sanas.

__ADS_1


__ADS_2