CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 55


__ADS_3

"Silahkan, ini pesanannya Tuan.. Nona.." kata Via sambil menundukan kepalanya.


"Thanks ya Vi.." ujar Sanas, sedangkan Tama tetap terfokus dengan Ponsel pintarnya.


"Sama - Sama Nas.." kata Via lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.


Saat di luar Ruang VIP Via berpapasan dengan Adam.


"Vi, Tamunya Bang Rey yang di ruang VIP udah dateng?" tanya Adam.


"Oh.. itu tamunya Mas Reymon ya mas, udah kok mas. Sa-"


"Oh.. ya udah saya masuk dulu, kamu lanjut kerja." potong Adam. Langsung masuk ke ruang tempat Tama dan Sanas duduk.


"Tuan Tama, Anda sudah datang? maaf sepertinya bang Rey masih dalam perjalanan kesini karena tadi ada masalah." Kata Adam menghampiri mereka berdua, Tama dan Sanas yang tengah asik mengunyah makanannya pun spontan mendongakan kepalanya. Deghhh!!!! jantung Adam dan Sanas berpacu dengan kecepatan tinggi saat pandangan mereka bertemu.


"Oh.. ya Santai saja, saya juga tidak buru - buru." ujar Tama Santai. Sanas tampak salah tingkah, sekelebat kejadian malam itu terulang kembali dalam ingatan Sanas.


"Baik, Kalau begitu saya permisi Tuan. Silahkan di lanjutkan." kata Adam pamit undur diri. Perasaanya kacau kala melihat Sanas yang bertingkah seolah tak saling mengenal, ada sedikit rasa bersalah pada diri Adam. Karena kecerobohannya Sanas harus kehilangan pekerjaannya serta kepercayaan dari keluarganya. Sebenarnya sejak lama Adam ingin meminta maaf, namun Adam sangat sulit menemukan keberadaan Sanas, jangankan tempat tinggal. Untuk menemui Sanas di Kampus saja susah. Bahkan setiap Adam menunggu Sanas di kelasnya ia tak nampak Sanas muncul.


"Pak.."


"Apa?" belum selesai Sanas berbicara sudah terpotong oleh Tama.


"Ish.. Bapak ini jangan galak - galak napa lo, terkejut lah aku." ujar Sanas.


"Ada apa?" tanya Tama menghela nafas.


"Saya ke toilet dulu ya Pak, kalo lagi gugup gini saya jadi kebelet." ujar Sanas.

__ADS_1


"Ke toilet ya ke toilet aja ngapain pake ngedrama sih, apa mau saya temani begitu?" ketus Tama.


"Ya kan saya minta ijin ke Bapak." bela Sanas.


"Sudah sana buruan, jangan sampai klien sudah datang kamu masih di toilet." ujar Tama.


"Baik pak." kata Sanas beranjak dari tempat duduknya.


"ini si bos kenapa sih, perasaan biasanya baik, sopan, ramah, manis. La ini kok marah - marah aja bawaanya. PMS apa gimana." batin Sanas saat menuju toilet. Setelah selesai dengan urusannya Sanas bergegas keluar dari toilet. Saat baru saja selangkah keluar ia berpapasan dengan Adam.


"Sanas.." seru Adam.


"Eh.. Mas Adam." kata Sanas kikuk.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Adam.


"Abis dari toilet mas." ujar Sanas tersenyum.


"Ya udah aku balik kesana dulu ya mas." kata Sanas.


"Tunggu..." seru Adam meraih tangan Sanas.


"Eh.." Sanas terkejut.


"Saya cuma mau minta maaf atas kejadian malam itu, saya benar - benar di luar kendali." kata Adam.


"It's oke!! yang lalu biar berlalu mas, Aku ngga papa kok." kata Sanas.


"Tapi gara - gara saya, kamu di cap buruk oleh keluarga saya." kata Adam lagi.

__ADS_1


"Mas Adam santai aja, aku ga papa. ya udah aku kesana dulu ya." sela Sanas. Adam pun membiarkan kepergian Sanas.


"Jangankan dihina Bos, dihina calon mertua aja saya santai." batin Sanas.


Sanas masuk kembali ke ruang VIP.


"Lama ya bos.." tanya Sanas kikuk.


"Sangat, untung klien belum datang. Kalau saja kamu tadi terlambat gaji kamu saya potong 50%." ujar Tama.


"Ih.. si bos apa sih kok gitu, nanti kalo gaji saya di potong 50% saya gimana bayar kost, biaya makan, biaya kuliah." ucap Sanas memelas.


"Oh ya? Kuliah? bukanya kamu dapat beasiswa ya." ketus Tama.


"Lah.. si bos tau dari mana kalo saya dapat beasiswa?" tanya Sanas heran.


"ga penting saya tau dari mana, jadi kamu jangan berusaha membodohi saya. mengerti?" seru Tama.


"Baiklah.. Baiklah.. Bapak menang." ujar Sanas pasrah.


"Saya bukan bapak - bapak kalau kau lupa, dan jangan pernah panggil saya bapak saat sedang di luar pekerjaan, kau paham?" Ujar Tama dengan meninggikan suaranya.


"Ta.. Tapi kita sekarang sedang bekerja pak." ujar Sanas.


"Arghh...." gerutu Tama mengacak - acak rambutnya.


"Hmm.. begini saja, bagaimana kalau Tuan, ya saya panggil anda Tuan. Bukankah itu lebih baik dari pada Bapak." kekeh Sanas, Tama pun hanya diam melihat tingkah Sanas.


"Menyebalkan sekali gadis ini." batin Tama.

__ADS_1


__ADS_2