
Hari yang di tunggu - tunggu telah tiba, Di kediaman Sanas tampak ramai dihadiri keluarga besar. Seorang gadis cantik jelita di balut dres brukat warna cream duduk di tepi ranjang sembari menatap dirinya di depan pantulan cermin. Ia menghela nafas panjang, berusaha merenggangkan otot - ototnya yang kaku karena saking gugupnya.
"Cantiknya Nenek.." ujar Wanita tua di ambang pintu.
"Nenek.." ujar Sanas.
"Sebentar lagi nak Tama dan keluarganya datang nak.. ayo kita turun." ujarnya.
"Nenek aku gugup." ujar Sanas.
"Ini masih lamaran, selanjutnya masih ada tunangan dan pernikahan. sisakan kegugupanmu di acara selanjutnya." goda nenek.
"Nenek..." dengus Sanas.
Tin.. Tin.. Tin.. bunyi klakson mobil di depan gerbang. Sanas berlari menuju balkon melihat siapa yang datang. benar saja rombongan keluarga besar Tama sudah datang, hal ini membuat Sanas semakin kalang kabut.
"Tuh.. mereka sudah sampai, Sudah ayo turun." ujar Nenek. Sanas pun turun.
Keluarga Tama telah memasuki rumah Sanas, tak selang beberapa lama Sanas dan Nenek pun menuruni anak tangga. Semua pandangan tertujuh pada Sanas, Semua di buat takjub dengan kecantikan Sanas. Sanas di buat salah tingkah saat Tama melihat dari ujung rambut sampai ujung kaki Sanas tanpa berkedip.
"Nona Sanas cantik sekali Tuan." bisik Leo yang membuyarkan lamunannya.
"Kau benar, calon istriku memang cantik." bisik Tama.
__ADS_1
"Sombong sekali mentang - mentang udah punya calon istri." ketus Leo.
"Diam kau, aku sedang fokus menatap calon istriku. Suaramu itu sangat mengganggu." ujar Tama.
"Sejak kapan mata dan telinga saling berhubungan?" tanya Leo.
"Leo kau bisa diam tidak?" dengus Tama.
"Ya.. Ya.. Ya.. ketika cinta membutakan segalanya, aku yang jomblo bisa apa." ujar Leo yang tak di gubris oleh siapa pun.
"Sanas.. yang mana calon suamimu?" tanya Gita, selain dihadiri keluarga besar Sanas sengaja mengundang keempat sahabatnya yaitu, Gita, Gea,Santi, dan Cindy. Sebenarnya mereka sibuk bekerja di luar kota, tapi demi hari bahagia sahabatnya mereka rela ambil cuti. Itung - itung untuk refresh otak.
" Iya nih yang mana?" tanya Cindy.
"Nas, pria yang berdasi maroon itu Presdir di Arthamara Group bukan?" tanya Santi.
"Kok kamu tau?" tanya Sanas.
"Ngga salah lagi, dulu dia sering dateng di kantor tempat kerja aku." kata Santi.
"Wait.. di Kota A?" tanya Sanas.
"Iya, denger - denger sih dia pacarnya anak bos." kata Santi.
__ADS_1
"Terus kenapa dia ada di sini?" tanya Gita.
"Dia yang mau ngelamar gue." jawab Sanas.
"Hah?" seru Gita, Gea, Cindy, dan Santi bersamaan.
"Udah.. Udah.. lanjut lagi nanti deh, mau mulai ini." kata Sanas buru - buru mendekat ke tempat di mana keluarga besar duduk.
Acara pun di mulai, Gala sebagai Ayah dari Tama membicarakan tujuan utamanya datang kekediaman Rumah Bapak Wara Subrata yaitu untuk melamar putri semata wayangnya. Kini giliran Tama yang angkat bicara.
"Seperti janjiku 2 bulan yang lalu, hari ini aku mengabulkan permintaan gadis pujaan hatiku. Kreyasa Anastasya mau kah kau menerima lamaranku?" tanya Tama.
" Tuan Arthama Ardiwinata, Sungguh suatu kehormatan bagi saya yang hanya wanita biasa seperti ini di lamar langsung oleh Tuan.Namun di sisi lain seperti yang anda ketahui bahwa saya adalah anak satu - satunya dari Bapak Wara Subrata. Untuk itu perkenankan saya untuk meminta izin terlebih dahulu kepada Ayah saya." ujar Sanas sembari tersenyum memandang Tama dan Wara dengan bergantian.
"Ayah.. bolehkah saya memilih Tuan Tama sebagai calon Suami saya?" tanya Sanas.
"Ya.. dengan senang hati Ayah mengijinkannya." balas Wara dengan suara sedikit parau. Ayah mana yang tak terharu menyaksikan putri semata wayangnya akan di persunting seorang pria.
"Bismillahhirohmannirohhimm.. Dengan Izin Allah SWT lamaran Anda saya terima." ujar Sanas dengan lantang.
"Allhamdulillah.." seru semua keluarga besar bersamaan.
Tama mendekati Sanas dan meraih tangannya, tiba - tiba ia menyematkan sebuah cincin permata biru di jari manis Sanas. Sontak Sanas pun terkejut karena sebelumnya tidak ada persiapan apa - apa.
__ADS_1
"Ini tanda jika aku sudah mengikatmu." ujar Tama sambil mencium punggung tangan Sanas, Sanas terharu sampai - sampai ia tak bisa membendung air mata bahagianya.