
Keesokan harinya, Sanas dan Eliyas kembali ke kota M. Mengingat hari pernikahan yang tinggal 2 hari lagi mau tidak mau Mereka harus kembali. Tak lupa ia juga mengangkut Keempat temannya.
"Apa semua undangan sudah tersebar?" tanya Eliyas.
"Hanya tinggal beberapa yang belum, nanti rencananya aku akan membagikannya." jawab Sanas.
"Akan ku Temani." ujar Eliyas.
"Ehem.." jawab Sanas dengan deheman. Sanas menyandarkan kepalanya pada bahu Eliyas, sedangkan tangan Eliyas tak luput dari tautan tangan Sanas, seperti Enggan untuk melepaskan.
Saat keduanya tengah di mabuk asmara, tiba - tiba mobilnya di hadang segerombolan orang tak di kenal.
"Ini yang aku takutkan." kata Eliyas kesal.
"Siapa mereka El.." tanya Sanas panik.
"Hei.. keluar kalian semua.. terutama gadis yang ada di mobil ini." tunjuk salah satu dari mereka.
"Ayoo.. Cepat keluar!!! atau kaca mobilnya kami pecahkan." ujar yang satunya.
__ADS_1
"Apa aku yang mereka maksud? tapi ada apa?" tanya Sanas bingung.
"Kau tenang saja ya.. kita akan baik - baik saja, kau di sini saja jangan keluar." kata Eliyas.
"El.. kau mau kemana? jangan aneh - aneh!!! 2 hari lagi kita menikah." ujar Sanas.
"Sssttt... semua akan baik - baik saja oke!!!" kata Eliyas meyakinkan. Sanas menyaksikan sendiri Eliyas dan Kelvin serta seluruh bodyguard sedang bertarung. semakin lama anak buah Eliyas kalah jumlah hingga mereka terlihat kuwalahan.
"Sial!!! beraninya keroyokan." dengus Sanas, tanpa menghiraukan perkataan Eliyas, Sanas ingin gabung membantu menyerang sekelompok cengunguk yang menghalangi perjalanannya.
Bughh!!! Bughh!!Bugh!!!!! Sanas melayangkan tendangan serta pukulan bertubi - tubi ke sekelompok orang yang hendak mengeroyok Eliyas.
"Ayashaa.. apa yang kau lakuhkan?" teriak Eliyas.
" Ini dia yang di tunggu - tunggu akhirnya keluar juga." ujar salah satu preman.
"Jangan banyak bacot sini Maju!!!" tantang Sanas.
"Lawan kami bukan wanita yang lemah Nona, lebih baik anda menyerah dan ikut kami. sudah beres." kata preman satunya.
__ADS_1
"Kalo kalian nganggep gue lemah, sini coba maju." cibir Sanas.
"Boleh juga nih nyalinya." ujar preman yang mendekat ke arah Sanas dan hendak melayangkan tinjunya. namun dengan sigap di tepisnya oleh Sanas, di layangkanyya pukulan bertubi - tubi hingga membuat sang preman terkapar tak berdaya. Melihat hal itu pun, kelompok preman lainya tak tinggal diam, mereka juga hendak mengeroyok Sanas. tapi tenang saja, satu per satu sekelompok orang itu jatuh tersungkur akibat ulah Sanas.
" Ampun!!! Ampun!!!! jangan bunuh kami!!!" ujar salah satu orang yang masih sadar.
"Siapa yang menyuruhmu hah?" tanya Sanas tak mau melepaskan cengkeraman pada tangan sang preman.
"Tidak ada, saya hanya perampok biasa.. tidak ada yang menyuruh kami. Sungguh!!!" ujarnya.
"Jawab siapa yang menyuruhmu, atau ku pisahkan kepalamu dari badan jelekmu ini." ancam Sanas yang sukses membuat preman itu gemeteran.
"Cepat jawab!!!" gertak Sanas.
"Iya.. Iyaa.. Nona!!! saya akan menjawabnya." ujar Preman itu.
"Cepat katakan siapa yang menyuruh kalian?" tanya Sanas lagi.
"Kami di suruh oleh Nona Riyana!!!"
__ADS_1
Duarr!!!! Seketika raut wajah Sanas berubah menjadi dingin dan menyeramkan usai mendengar nama itu. bak di sambar petir di siang bolong, Sanas sangat terkejut mendengarnya. Di tambah lagi belakangan ini Sanas selalu di teror oleh nomor yang tak di kenal yang mengaku sebagai cinta pertama Eliyas, dan Sanas tau jika itu adalah Riyana. Sanas menghempaskan preman tersebut hingga tubuhnya jatuh tersungkur di atas tumpukan teman - temannya yang sudah terkapar sedari tadi.
"Bilang sama bosmu yang tak tau diri itu, dia salah berurusan denganku." ujar Sanas berlalu menuju mobil.