
"Saya terima Nikah dan kawinnya Kreyasa Anastasya Binti Wara Subrata dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!!!" ucap Eliyas dengan sekali tarikan nafas.
"Bagaimana saksi, Sah?"
"Saaahhhhh...."
"Allhamdulillah... akhirnya, kesampaian punya menantu tajir melintir.' ujar Rosa.
"Hus.. bibi ini." dengus Sanas.
"Sudah.. cepat bersiap, habis ini kita prosesi temu manten.' ujar Mita.
"Baik Nek.." kata Sanas, ia pun bersiap menuju pelaminan dengan di lengkapi bridesmaid di belakangnya.
Pintu terbuka, semua mata tertuju ke arah Sanas, Semua terpanah dengan kecantikan Sanas yang hanya memakai make up soft, hal itu membuat wajah ayu Sanas tetap natural. Eliyas terkagum dengan bidadari yang saat ini sudah sah menjadi istrinya.
"Silahkan Tuan Putri.." ujar Eliyas menyodorkan tangannya mengajak Sanas menuju pelaminan.
Keduanya tampak serasi, membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa iri. Eliyas menggandeng tangan Sanas, seolah tak mau melepaskannya sedetik pun.
Sudah hampir 4 jam lebih Sanas dan Eliyas berdiri di pelaminan.
"Kenapa undanganya banyak sekali sih." bisik Sanas kepada Eliyas.
"Aku hanya mengundang rekan kerjaku saja Sayang." ujar Eliyas.
"Kau bilang hanya sedangkan ini jumlahnya ribuan El.." kata Sanas.
"Padahal nggak semuanya datang." ujar Eliyas.
__ADS_1
"Apa? Untung saja, kakiku sudah hampir berakar kalau kau tahu." dengus Sanas.
"Sayang, jangan marah - marah.. aku tahu kalau kau tidak sabar melewati malam pengantin kita." goda Eliyas.
"Ell..." kesal Sanas mencubit lengan Eliyas.
"Aw.. sakit sayang, Sstt... kalau kau lelah istirahatlah dulu, tunggu aku di kamar ya. aku akan menemui rekan - rekan bisnisku." kata Eliyas menyusap pipi Sanas.
"Aku tidak mau!!!" tolak Sanas.
"katanya capek?" tanya Eliyas.
"Apa kau tidak lihat, wanita - wanita di sana melihatmu dengan tatapan seolah ingin merebutmu dariku, dan aku tidak akan membiarkan itu." ujar Sanas.
"Sayang, kan suamimu ini memanglah Tampan." ujar Eliyas percaya diri.
Pletak!!! satu sentilan mendarat di jidat Eliyas.
"Menyebalkan sekali." dengus Sanas.
.
.
.
Setelah berdiri berjam - jam Akhirnya Sanas bisa benafas lega, kini ia sudah berada di kamar pengantinnya yang telah di hiasi dengan bunga mawar merah.
Ceklek!! Eliyas baru saja memasuki kamar. Ia melihat Sanas yang tengah terduduk di sofa.
__ADS_1
"mau mandi dulu atau langsung-"
"Aku mau mandi.." ujar Sanas berlari menuju kamar mandi, ini bukan kali pertama Sanas dan Eliyas berduaan. Tapi entahlah perasaannya sangat gugup.
"jantungku!!!" ujar Sanas.
"Huftt!!! lebih baik aku berendam dengan air hangat" ujar Sanas.
"Ehh..." Kata Sanas, ia kesulitan melepaskan kaitan gaunya.
"Aduhhh.... gimana ini." ujar Sanas.
"Minta tolong gak ya.." kata Sanas, setelah berpikir panjang ia memutuskan berbalik dan meminta tolong kepada Eliyas untuk membantunya membuka kaitan Gaun.
"Loh... kok belum mandi?" tanya Eliyas.
"Emhh.. Eee.. aku kesulitan membuka gaun." kata Sanas yang masih di ambang pintu kamar mandi.
"Butuh bantuan?" tanya Eliyas yang di balas anggukan oleh Sanas. Eliyas pun mendekat, entah kenapa ia juga begitu gugup. Padahal mereka sudah terbiasa bersama.
"Berbaliklah.." kata Eliyas, Sanas menurut.
Eliyas membuka kaitan gaun Sanas, ia menelan salivanya ketika melihat punggung Sanas yang terekspos. Ia tak tahan, di rengkuhnya tubuh Sanas, ia mencium punggung Sanas.
"Ell.. aku mau mandi" kata Sanas.
"aku menginginkanmu!!" kata Eliyas serak.
"Ell... Shh... Ahh.."
__ADS_1
Terjadilah pergulatan panas diantara sepasang suami istri tersebut hingga berulang - ulang kali. Tubuh Sanas seolah menjadi Candu untuknya.