CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 174


__ADS_3

Dariel dan Sanas sudah tiba di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota M. Mereka bergegas menuju store tempat pakaian ibu dan bayi. Saat asyik memilah pakaian, Sanas di kejutkan akan kehadiran Eliyas dan Riyana yang bergandeng mesra, ternyata keduanya juga sedang mencari pakaian perlengkapan untuk bayinya. Eliyas terpukau melihat aura Sanas yang semakin Cantik dan tentunya berisi, ia tak menyangka jika ia tak sengaja bertemu dengan wanita cantik yang ia rindukan selama ini.


"Owhh... Ayashaa, lama sekali aku tidak bertemu denganmu.. Oh.. Astaga sayang, lihat perutnya juga besar." kata Riyana.


"Jadi kalian tinggal satu rumah to.." kata Riyana bernada remeh.


"K-kalian.." tanya Eliyas terbata - bata melihat perut buncit Sanas.


"Iyaa..." jawab Dariel dari belakang tiba - tiba.


"Tidak tahu malu.. belum sah pisah denganku, tapi sudah hamil anak orang lain." sindir Eliyas yang jelas menyayat hati Sanas.


"Memangnya kenapa? apa tidak boleh? kau saja bisa menghamili wanita lain, kenapa aku tidak boleh hamil anak orang lain?" tanya Sanas sinis.


"Sudahlah sayang, lagi pula dia kan masalalu. Yaa.. kalau mendengar cerita dia dari dulu sih aku menyimpulkan jika seorang ****** tetaplah ******." kata Riyana.


"Hamil dengan pria beristri mungkin juga masuk kategori itu, jadi.. Lebih baik kau berkaca NONA!!!" ujar Sanas menekan kata - kata terakhirnya.


"Heh... katakan pada wanita ini agar menikmati sisa - sisa hidupnya yang hanya tinggal hitungan hari saja." kata Eliyas dingin.


"Yaa... kau benar! asal kau tau mungkin hari ini adalah pertemuan terakhir kita, dan lagi... kau menggoreskan luka." batin Sanas.


"Saya permisi.." kata Sanas.

__ADS_1


"Oh.. ya, bilang pada SUAMIMU itu agar cepat menceraikanku." kata Sanas di akhir kalimat lalu melenggang pergi. Melihat itu pun Eliyas tak tinggal diam, ia segera mengikuti kemana perginya Sanas.


"Sayang.. mau kemana?" tanya Riyana.


"Diam!!! dan jangan ikuti aku." kata Eliyas menghempaskan cekalan tangan Rinyana.


Hingga pada akhirnya Sanas izin kepada Dariel untuk kekamar mandi. Tanpa pikir panjang Eliyas manfaatkanya situasi, dengan cepat sigap Eliyas menarik tangan Sanas menuju lantai paling atas dimana tersedia kamar pribadi untuk Eliyas. Kenapa bisa begitu? masih ingat kan jika Eliyas pria terkaya di negara ini, jadi sudah pasti Mall ini adalah miliknya. Tentu ia memiliki akses pribadi.


"El... lepaskan, apa kau gila? aku sedang hamil." jerit Sanas.


"Aku tidak peduli." ujarnya.


"Sakit.... apa kau akan membunuh anakku lagi?" kata Sanas yang membuat Eliyas menghentikan jalanya lalu melepaskan genggaman tangannya.


"Urusan kita belum selesai.' kata Eliyas menggendong Tubuh Sanas.


"Lepas El.. kita bisa jatuh nanti." kata Sanas yang tak di pedulikan oleh Eliyas.


Eliyas menghempaskan tubuh Sanas keatas ranjang berukuran kingsize itu. Beruntung kasurnya sangat empuk dan nyaman sehingga tak membuat Sanas kesakitan.


"El.. kau mau apa?" tanya Sanas ketakutan.


"Berani - beraninya kau terang - terangan hamil anak orang lain sedangkan kau masih sah menjadi istriku." seru Eliyas menangkup dagu Sanas. Sanas hanya diam seribu bahasa, entah kenapa hatinya begitu sakit mendengar tuduhan Eliyas.

__ADS_1


"Kenapa kau diam?" bentak Eliyas. Luruh sudah pertahanan Sanas, air mata yang sedari di tahannya kini berjatuhan.


"seharusnya aku tidak pernah jatuh cinta dengan pria kasar sepertimu." kata Sanas dengan penuh keberanian.


"apa aku pria kasar? ya.. aku pria yang sangat kasar apa lagi menghadapi wanita yang tidak tahu diri sepertimu." hardik Eliyas.


"Lagi pula siapa yang memintamu jatuh cinta kepadaku? toh dulu kau sempat menolakku kan? lalu mengapa kau menerimaku menjadi suamimu?" tanya Eliyas membuat Sanas bungkam.


"Oh ya aku lupa.. kau kan di vonis susah hamil kan? tidak ku sangka kini kau menjalani sisa hidupmu dengan harus mengandung anak hasil perselingkuhan." imbuh Eliyas.


"Stop!!!!" teriak Sanas emosi.


"Katakan apa tujuanmu sebenarnya Hmm? apa tujuanmu Tuan Eliyas? masih kurang kah kau menyakitiku, mengkhianatiku, menghinaku. masih belum puas?" tanya Sanas.


"Kau bertanya apa tujuanku?" tanya Eliyas. Sanas terdiam.


"Tujuanku memberi pelajaran yang tidak akan pernah kau lupakan, KREYASA ANASTASYA!!!!" ujar Eliyas sembari menekan kata - kata terakhirnya. Seketika Eliyas mendorong tubuh Sanas hingga Sanas terbaring. Tanpa pikir panjang Eliyas menarik Midi Dres yang di kenakan Sanas dan membuangnya sembarang arah. Sanas panik tentu saja dia panik namun tenaganya benar - benar tak sanggup melawan seorang Eliyas. Eliyas terpukau, melihat tubuh mulus istrinya yang sudah beberapa bulan ini tak ia lihat. Namun hatinya juga kalap ketika melihat perut buncit yang di kira berisi bayi orang lain.


"El.. kumohon jangan, ini akan menyakiti bayiku." kata Sanas memohon.


"I Don't care!!!!" kata Eliyas serak penuh nafsu birahi.


"Please.. No!!!" mohon Sanas namun tak di hiraukan oleh Eliyas. tanpa pikir panjang Eliyas menyergap Sanas dengan buasnya, Antara rasa rindu dan benci berkecamuk dalam benak Eliyas.

__ADS_1


__ADS_2