CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 61


__ADS_3

Setelah melalui perjalanan selama 4 jam, kini Mobil Tama terparkir di salah satu Caffe terkenal di kota XX. Dendy's Caffe adalah tempat favorit Sanas dengan teman - temannya dulu waktu SMA, tak lain juga dengan Daniel. Dulu hampir setiap malam minggu mereka sudah pasti berkencan di sana.


"Kita istirahat dulu di sini." kata Tama sambil melepas seatbeltnya.


"Tadi katanya ngga bakalan capek meskipun bolak balik 10 kali." sindir Sanas sambil sedikit merapikan rambutnya.


"Aku ini manusia, apa kau alien yang ngga punya rasa lapar?" ketus Tama.


"Iya.. Iya.. Bos, Lu rese kalo lagi laper." ujar Sanas keluar dari mobil mendahului Tama.


"Dasar.." geram Tama menyusul Sanas.


Tama pun hanya bisa mengernyitkan dahi ketika melihat Sanas yang berjalan di depannya dengan sikap sok cantiknya. Entah mengapa dengan percaya dirinya Sanas langsung menuju ruang VIP.


"Kenapa?" tanya Sanas heran.


"Aku merasa jadi body guard mu." dengus Tama.


"Anggap saja seperti itu." ujar Sanas dengan mengibaskan rambut panjangnya yang terurai.


"Ngga usah sok cantik." ketus Tama.


"Apakah anda baru menyadari jika karyawanmu ini selain pintar dia juga cantik Tuan Arthama Ardiwinata?" tanya Sanas dengan menyombongkan diri.

__ADS_1


"Terserah kau." ujarnya datar, tak lama datang waiters membawa buku menu.


"Nasi Goreng Seafood dan Lemon Tea." ujar Tama dan Sanas bersamaan. Waiters yang mendengar itu pun tersenyum sambil menulis pesanan customernya.


"Selera kita sama Tuan, jangan - jangan kita jodoh." ujar Sanas terkekeh dengan pernyataannya sendiri.


"Jangan pernah mimpi! Wanitaku jauh lebih cantik dan sexy. Dan kau ini apa? tubuhmu saja sama sekali tidak ada lekuk - lekuknya" ejek Tama, Sanas yang mendengarkan itu pun di buat geram olehnya.


"Baiklah kita lihat saja nanti." ujar Sanas sembari mengerlingkan sebelah matanya.


"Ughh.. disini Panas sekali.." ujar Sanas dengan suara manjanya, Tama terbelalak kaget saat Sanas berdiri membuka Blazernya. kini terpampang nyata keindahan lekuk tubuh Sanas yang hanya di baluti kemeja putih Press Boddy dan rok Span di atas lutut.


Glekk!!! Tama hanya bisa menelan salivanya sendiri ketika melihat keindahan ciptaan tuhan di hadapannya.


"Apa kau baik - baik saja Tuan?" tanya Sanas dengan senyum liciknya. Tama pun tersentak dalam lamunannya, ia tampak salah tingkah.


"Heh.. Coba - coba mengejek bodyku, lihatlah matamu saja tidak bisa bohong ketika melihatku." batin Sanas tersenyum sinis ke arah Tama yang salah tingkah. Bukan maksut ia ingin menggoda atasannya, namun ucapan Tama yang seolah Boddy shaming itulah yang membuat Sanas tak suka.


Tak selang beberapa lama, pesanan mereka pun sampai. Mereka menikmati makanannya tanpa sepatah kata pun.


"Kau bisa nyetir mobil kan?" tanya Tama mbuka suara.


"Bisa." jawab Sanas santai sambil menyuapkan nasi goreng terakhir di piringnya.

__ADS_1


"Bagus, kau yang setir mobilnya. Carikan aku penginapan, aku belum hafal kota ini." jelas Tama panjang lebar.


"Kan sudah ku bilang, mending tidur di rumahku saja. lagi pula lokasi proyek yang akan kita pantau hanya berjarak 500 meter dari rumahku." ujar Sanas.


"Aku bilang tidak, ya tidak!!" seru Tama kesal.


"Ya sudah kalau tidak mau. Asal Tuan tau ya, jarak hotel terdekat dari proyek kita ini kurang lebih 5km itu saja penginapan kelas bawah." ujar Sanas berusaha mengompori. Tampak Tama sedang berpikir mengenai ucapan Sanas.


"Jadi?" Tanya Sanas memastikan.


"Aku ikut denganmu." ujar Tama terpaksa.


"Hehehe... Mau aja aku bodohi." batin Sanas dengan senyum penuh kemenangan.


Setelah merasa cukup istirahat Sanas berniat untuk pulang ke rumahnya terlebih dahulu untuk meletakkan kopernya dan koper atasannya. Sanas dan Tama baru saja keluar dari ruang VIP.


Brukk!!! tiba - tiba ada Waiters membawa minuman untuk customer yang menabrak Sanas. Sial!!! Jus Jeruk yang di bawa waiters itu pun mengenai baju Sanas, yang lebih sialnya kala itu Sanas tak memakai tanktop jadi tampak terpampang nyata gundukan yang menyembul itu karena kemejanya yang basah.


"Maaf nona, Saya tidak sengaja." kata Waiters itu.


"Ya.. Ya.. kau tenang saja aku tidak apa." ujar Sanas.


Tak sengaja pandangan mata Tama tertujuh pada dada Sanas, kesekian kalinya kesabarannya di uji, berkali - kali Tama menelan Salivanya. Sanas yang menyadari arah pandangan dari Bosnya itu pun dengan segera menutup dadanya dengan Blazer. Tama tersadar jika dirinya kepergok sang empunya dada, ia kembali salah tingkah.

__ADS_1


__ADS_2