
Kini Sanas tengah bersiap untuk pergi bersama dengan Tama. Ia mengenakan Dres yang baru saja di belinya tadi siang. Entah kebetulan atau apa meskioun asal pilih setiap baju yang di belikan Tama selalu cocok jika di pakainya. Jam menunjukan pukul 7 malam, itu tandanya sebentar lagi Tama akan tiba, Sanas segera menyelesaikan ritualnya.
Tin!! Tin!! Tin!!! benar saja, yang di tunggu - tunggu telah tiba, Sanas segera meraih ponsel dan sling bagnya dan bergegas keluar kamar. Seorang Pria Cool tengah duduk di atas kap mobil tengah tersenyum manis kearah seorang gadis yang beberapa bulan terakhir bersetatus sebagai tunangannya itu.
"Selamat Malam Tuan Puteri.." sapa Tama.
"Selamat Malam pangeran kodok." jawab Sanas sambil terkikik.
"Selalu begitu." sungut Tama.
"Sudah ah bercandanya, Are you Ready?" tanya Sanas.
"Ready baby.." ujar Tama dan Sanas Cup!!! satu kecupan singkat mendarat di bibir mungil milik Sanas, Sanas yang mendapati serangan tiba - tiba itu pun terkejut. Seketika pipi putih mulusnya berubah memerah di buatnya.
"Kita berangkat." ujar Tama.
"Ehem.." jawab Sanas dengan deheman.
Kini keduanya telah sampai di salah satu Caffe & Resto, Seperti biasa mereka memesan ruang VIP.
Gubrak!!!! tiba - tiba seorang pelayan menumpahkan minuman ke baju milik Sanas, alhasil membuat baju Sanas sedikit ada noda.
"Maaf.. Maaf.. Kak, saya tidak sengaja." kata Pelanyan tersebut.
"Tidak apa - apa, ini hanya noda sedikit. Nanti aku bersihkan." ujar Sanas.
"Lain kali hati - hati, untung hanya minuman. Bagaimana kalau kuah panas, bisa - bisa kulit calon istriku melepuh." tegur Tama.
"Kak, sudah.. lagian aku tidak apa - apa, Kakak duluan aja ya, aku ke toilet sebentar." kata Sanas.
"Apa kau yakin, atau mau aku temani?" tanya Tama.
"Kakak, ngga papa.. aku sendiri aja, kakak duluan kasian temanmu menunggu terlalu lama." kata Sanas.
"Baiklah kalau begitu, nanti kalau ada apa - apa jangan lupa hubungin aku ya." kata Tama.
__ADS_1
"Siap bos.." kata Sanas.
"Aku duluan ya.." kata Tama yang di balas anggukan oleh Sanas.
Benar saja apa yang di katakan Sanas, kini Zen telah duduk manis menunggu keduanya datang.
"Halo Brother, Sorry agak lama ya.." sapa Tama.
"Sedikit, kok sendirian mana tunanganmu?" tanya Zen.
"Astaga Zidan, sebegitu penasarannya kah kau dengan bidadari cantikku sampai - sampai kau tak sabar bertemu dengannya." ujar Tama.
"Aku hanya memastikan jika kau menepati janjimu, itu saja." jelas Zen sambil meminum minumannya.
" Kau tenang saja kali ini aku menepati janjiku. Dia masih ke toilet, tadi ada insiden yang tak terduga." kata Tama.
"Jadi dia sudah tidak marah?" tanya Zen.
"Sepertinya kau sangat suka melihatku menderita dari dulu ya Dan.." ujar Tama dengan nada ketus.
"Ssstt.. mulutmu, nanti kalau tiba - tiba dia sampai di sini dan mendengar ucapanmu bagaimana, matilah aku." kata Tama.
"Hahaha.. kau akan merubah gelar menjadi suami takut istri Tam.." ejek Zen.
"Diam kau, ini demi kebaikan bersama." kata Tama sok bijak.
"Terserahlah apa katamu." ujar Zen.
Tak selang beberapa lama Sanas pun tiba.
"Kakak.. Maaf aku sedikit lama.." kata Sanas yang masih merapikan bajunya.
"No Problem baby, perkenalkan ini Zidan teman masa kecil yang aku ceritakan kemarin." kata Sanas.
1..
__ADS_1
2...
3...
Degh!!!!
"Zen.."
"Sanas.." ujar mereka bersamaan, pandangan keduanya bertemu.
"Kalian sudah saling mengenal, Zen? apa itu singkatan Zidan Elbas Neil Mubarak?" tanya Tama bingung.
"Emh.. Kita dulu satu sekolah di kota XX." kata Sanas.
"Ini calon istrimu?" tanya Zen.
"Ya.. dia calon istriku, astaga aku tidak menyangka ternyata kalian sudah kenal. Dunia memang sempit ya.." ujar Tama.
"Seandainya kamu tau kalau dia yang telah merenggut kesucianku, mungkin kamu tidak akan sesenang ini." batin Sanas.
"Sorot mata kebencian itu tidak pernah hilang darimu Nas.." batin Zen.
Drtt.. Drtt.. Drtt.. bunyi ponsel milik Tama membuyarkan lamunan kedua orang yang tengah di rundung kebimbangan.
"Sayang, Zidan.. gue angkat telepon dari bokap dulu ya." kata Tama lalu beranjak dari tempat duduknya.
Kini tinggallah Zen dan Sanas, keduanya semakin di buat tak karuhan.
"Kamu apa kabar?" tanya Zen basa - basi.
"Baik.." jawab Sanas singkat. Zen kehabisan akal setelah Mendengar jawaban singkat dari Sanas.
"Kau sendiri?" tanya Sanas.
"Aku juga baik." jawab Zen.
__ADS_1
"Syukurlah, ku harap kau bahagia selalu." ujar Sanas tiba - tiba. Mendengar itu pun hati Zen serasa tercubit di buatnya. Simpel memang tapi entah itu sangat menyakitkan untuknya.