CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 53


__ADS_3

"Sanas di panggil pak presdir." ujar Agnes sewot. Sanas beranjak dari tempat duduknya tanpa menjawab ucapan Agnes.


Sanas masuk lift lalu menekan tombol menuju ruangan Presdir. Sanas kini tak senervous saat awal - awal kerja ketika disuruh untuk menghadap presdir karena ia sudah mulai terbiasa.


"Permisi pak, anda memanggil saya?" tanya Sanas menunduk.


"Duduklah dulu.." ujar Tama dengan sorot mata tajam.


"Duh.. Si Bos kok gitu sih ekspresinya, apa gue ada punya salah ya. Mampus gue." batin Sanas.


"Ada apa anda memanggil saya pak?" tanya Sanas.


"Jadi hari ini ada klien yang mengajak meeting mendadak, sedangkan Leo saya tugaskan untuk menghendel kantor cabang di luar kota. Jadi saya minta kamu untuk sementara waktu menggantikan Leo untuk menemani saya bertemu Klien." jelas Tama.


"Apa pak? apa anda serius?" tanya Sanas tersentak kaget.


"Ya.. untuk apa saya main - main." ujar Tama.


"Kenapa saya pak? kenapa bukan bu Melita saja, dia kan sekertaris bapak." ujar Sanas berusaha menolak.

__ADS_1


"saya yang membayarmu, jadi saya bebas memberikan perintah apa pun itu, dan kamu bekerja dengan saya!! jadi sudah semestinya kamu menuruti kemauan saya." jelas Tama


"Tapikan pak, saya belum berpengalaman kalau perihal presentasi dengan Klien." ujar Sanas.


"Saya bos disini, dan saya tau yang terbaik untuk perusahaan saya. Tugasmu hanya bekerja dan jangan membantah." tegasnya.


"Ba.. Baik Pak." kata Sanas terbata - bata.


"Silahkan kamu keluar dari ruangan saya, dan bersiaplah semua materi ada di flashdisk ini, 30 menit lagi kita berangkat berjumpa dengan klien. Ingat jangan mengecewakan saya, atau berhenti bekerja." ujar Tama sambil memberikan Flashdisk.


"Baik pak.." ujar Sanas menerima Flashdisk dari Tama, lalu pergi menuju ruangannya.


"Sanas sudah siap?" tanya Tama di ambang pintu ruangan Sanas.


"Su.. Sudah pak." Ujar Sanas.


"Bagus, ayo kita berangkat." kata Tama mendahului jalan Sanas, Sanas mengekor di belakang Tama.


"Silahkan Tuan.." ucap sang supir sambil membungkuk.

__ADS_1


"Pak Asep, hari ini saya bawa mobil sendiri mana kunci mobilnya? kamu pulanglah dan ini uang untuk ongkos naik Taxi." ujar Tama sambil menyodorkan 3 lembar uang seratus ribuan.


"Oh.. ini Tuan, Terima kasih Tuan.." kata pak Asep sambil memberikan kunci mobil dan menerima uang pemberian Tuannya.


Tama memasuki mobil di bagian kemudi sedangkan Sanas duduk di belakang.


"Apa kamu pikir saya ini Supirmu, seanak jidatmu saja main duduk di belakang." tanya Tama dengan nada ketus.


"Eh.. Emm.. Maaf Tuan, lalu saya harus duduk dimana?" tanya Sanas sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Pindahlah kedepan." perintahnya dengan menatap melalui kaca sepion dengan mata elangnya.


Tanpa basa basi Sanas pun segera pindah posisi duduk di samping Tama. Entah dapat dorongan dari mana Tama memberanikan diri untuk memasang seatbelt milik Sanas. Sanas pun terkejut mendapati perlakuan tiba - tiba dari Bosnya itu. Kini jarak mereka sangat dekat, hingga Sanas dapat merasakan hembusan nafas Tama. Pandangan mereka Bertemu. Dengan cepat kilat Tama memalingkan pandangannya.


"Kamu ngga gerak cepat jadi aku pasangkan." kata Tama, Namun Sanas sengaja tak menanggapinya. Mereka pun saling diam karena kalut dengan pemikiran masing - masing.


"Sial... Bisa - bisanya kebiasaanku memperlakuhkan Yussy terbawa sampai saat ini, Parahnya aku melakuhkannta ke karyawanku. Bagaimana kalau dia terbawa perasaan, Mana dia ngga berontak saat aku berada di depannya dengan jarak sekian senti." batin Tama sambil sesekali melirik ke arah Sanas yang hanya memandang arah luar jendela.


"Aduh Hati!!! Pliss... dong tau Sikon, Bisa - bisanya kamu terdesir kalo lagi deket orang ganteng." batin Sanas.

__ADS_1


__ADS_2