
Seperti biasa, Eliyas mengantarkan Sanas ke bandara untuk menuju kota KL.
"Sayang, ingat kamu di sana hanya tinggal satu bulan lagi. jangan sampai molor waktunya, okey!!!" ujar Eliyas.
"Iya.. Iya.. bawel banget sih, sayangku satu ini.." ujar Sanas.
"Kali aja kamu kalap kan sayang, aku hanya mengingatkan." kata Eliyas membela diri.
"Sabar ya sayang." kata Sanas.
"ini sudah di sabar - sabarin kok sayang." kata Eliyas.
"Aku berangkat dulu ya, kamu jaga diri baik - baik." kata Sanas memeluk Eliyas.
"Kamu juga hati - hati ya.." ujar Eliyas. Sanas pun memasuki Pesawatnya sedangkan Eliyas memutuskan untuk pulang mengambil beberapa berkas yang akan ia bawa ke kantor.
Sesampainya di Mansion, betapa terkejutanya Eliyas tengah mendapati Maurin dan Riyana duduk santai di ruang tamu. Eliyas menangkap feeling yang tidak mengenakkan.
"Mama.." kata Eliyas.
"Duduk!!!" kata Maurin dingin.
"Aku harus ke kantor Mah.." kata Eliyas berusaha menghindar.
"Duduk El!!!" kata Maurin memaksa, akhirnya Eliyas menuruti kemauan Maurin.
__ADS_1
"Kenapa Mama ajak Riyana kesini ma? Mama tau kan kalau Ayashaa sangat tidak suka dengan Riyana." kata Eliyas.
"Riyana Hamil!!!"
"Astaghfirullah..." kata Bi ijah saat membawa nampan berisikan minuman.
"Bi, masuk!!! dan berlagaklah seperti orang Tuli!!" titah Maurin, bi ijah mengangguk lalu meninggalkan ketiganya.
Degh... sungguh ia sangat menunggu kata - kata itu, tapi dari Sanas bukan malah dari Riyana.
"Nggakk.. Nggakk.." kata Eliyas tak percaya. Namun Maurin memberikan sebuah amplop yang berisikan tentang hasil pemeriksaan, ia masih tak percaya.
"Ini bukan anak aku mah.." elak Eliyas.
Plakk!!!! satu tamparan mendarat mulus pada pipi kiri Eliyas.
"Nikahi Riyana!!" satu kata yang membuat jantung Eliyas seolah berhenti berdetak, sungguh ia tak pernah membayangkan hal ini bisa terjadi.
Sedangkan Bi Ijah yang sedari tadi mendengarkan lewat ruang tengah di buat menangis akan ucapan Nyonya besarnya, Bi ijah segera menuju dapur dan menumpahkan tangisnya di sana. Bi Gina yang melihat Bi ijah menangis itu pun segera menghampirinya.
"Ada apa mbok?" tanya Bi Gina.
"Kasihan Den Ayu.." ujar Bi Ijah.
"Ada apa dengan Nona Muda Mbok?" tanya Bi Gina.
__ADS_1
"Hiks.. Den bagus.. Hiks.. Den Bagus.. hamili Non Riyana Bi.." jelas Bi ijah Sesenggukan.
"Mbok.. jangan ngawur ya kalo ngomong. Si mbok tau dari mana?" tanya bi Gina.
"Nyonya besar di depan sama non Riyana Bi, huhu.. kasihan den Ayu." kata bi Ijah.
"Astaghfirullah, Mbok jangan bercanda." kata Bi Gina masih tidak percaya.
"Beneran, Den bagus di suruh nikahin Non Riyana." kata Bi Ijah.
"Yaallah.."
-Di Ruang Tamu-
"Apa mama gila? aku sudah memiliki Ayashaa dan tetap hanya Ayashaa." tolak Eliyas.
"Kau egois El, anak ini butuh status. Dia tidak berdosa!!!" kata Maurin, sedangkan Riyana hanya menundukan kepalanya.
"Aku tidak mau menikahi dia tanpa sepengetahuan Ayashaa ma.." kata Eliyas.
" pernikahan kalian tersembunyi El.. mama yakin dia akan paham akan situasi ini, lagi pula nanti anak riyana akan menjadi anaknya, kalian juga bisa tenang jika kalian tidak memiliki keturunan." ujar Maurin.
"Aku tidak mau mengambil resiko dan kehilangan Ayashaa ma.." ujar Eliyas.
"Mau tidak mau, kamu harus tetap menikahi Riyana. Demi cucu mama!" kekeh Maurin.
__ADS_1
Eliyas pasrah, dengan kondisi seadanya dan tanpa pesta apa pun, ia terpaksa mengikuti kemauan Mamanya untuk menikahi Riyana.
Rumit!! sungguh rumit, kehidupannya. Ia sudah mengkhianati pernikahannya dengan Sanas, tak hanya pernikahan. Ia juga mengingkari janjinya jika Sanas hanyalah satu - satunya dalam hatinya.