
Kelvin menatap Sanas melalui kaca sepion, terlihat Sanas yang melamun menatap keluar jendela.
"Apa Tuan semalam pulang ke apartemen Nona?" tanya Kelvin membuyarkan lamunan Sanas.
"Yaa.. Semalam ia pulang." ujar Sanas.
"Syukurlah.. Lalu apa yang membuat Nona seperti tak bersemangat seperti ini?" tanya Kelvin.
"Oh ya.. Vin, apa kau mengenal siapa Riyana?" tanya Sanas. Jelas Kelvin mengerutkan dahinya, Dari mana Sanas tahu nama Riyana.
"Memangnya kenapa Nona?" tanya Kelvin.
"Katakan saja kau tahu atau tidak?" tanya Sanas.
"Saya Tahu Nona." jawab Kelvin.
"Siapa dia? Semalam El pulang dalam keadaan mabuk, dan kenapa semalam El mengigau menyebut namanya?" tanya Sanas membuat Kelvin kelimpungan, ia bingung harus menjawab apa.
"Lebih baik anda tanyakan langsung kepada Tuan Eliyas Nona, karena ini menyangkut masalah pribadi Tuan." ujar Kelvin. Sanas menghela nafas dengan kasar, karena menurutnya perkataan Kelvin bukanlah suatu jawaban baginya.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Anggara's Mansion
"Loh.. Vin ini rumah siapa? kenapa kita kesini? bukannya kita harus ke kantor." tanya Sanas.
"Saya hanya menjalankan perintah dari Tuan, Nona." jawab Kelvin.
"Selamat Siang Nona, saya di sini di tugaskan oleh Tuan untuk melakuhkan beberapa treatmen untuk Nona, mari ikut kami Nona." ujar salah satu dari mereka. Sanas hanya menurut Saja.
Benar saja hari ini Sanas di manjakan dengan beberapa treatmen kecantikan yang membuat dirinya merasakan relaks. Dan sekarang ia masuk ke salah satu ruanganyang disana sudah ada MUA yang bertugas merias wajah cantik Sanas.
"Pantas saja Tuan bisa jatuh cinta kepada Nona, selain Nona cantik.. Nona juga baik dan ramah." ujar MUA.
"Kau sangat berlebihkan memujiku. Oh ya.. kalau boleh tahu untuk apa aku harus dandan?" tanya Sanas.
"Nanti Nona akan tahu sendiri." jawab Sang MUA.
__ADS_1
Setelah selesai berkutat dengan berbagai peralatan Make-Up kini Sanas telah tampil dengan dres warna Silver yang membuat dirinya semakin terlihat elegan.
"Mari ikut kami Nona." ujar salah satu dari mereka. Sanas pun hanya mengikutinya.
Sanas di bawa ke arah belakang Mansion, yang dimana terdapat halaman yang luas dan sudah di hias dan di lengkapi karpet merag bak pesta pernikahan.
Pintu terbuka, seketika Sanas di buat terkejut karena terdapat banyak sekali orang - orang penting di sana. Kini semua mata hanya tertujuh pada Sanas yang baru saja memasuki Paviliun. Tampak seorang pria bertubuh tegap memakai setelan jas warna senada dengan dress yang di kenakan Sanas tengah tersenyum menanti kehadiran sang Tuan Putri.
"Selamat Datang Tuan Puteri." ujar Eliyas sambil mengulurkan tangannya.
"El.. apa ini?" tanya Sanas bingung.
"Pesta pertunangan kita." ujar Eliyas.
"Apa? bagaimana bisa kau membuat acara sepenting itu tapi tidak memberi tahuku? lalu bagaimana dengan keluargaku." bisik Sanas geram.
"Itu..." tunjuk Eliyas ke arah tempat duduk yang di sediakan khusus untuk keluarga besar Sanas. Betapa terkejutnya Sanas kala melihat seluruh keluarga besarnya turut hadir di acara tersebut.
"Jadi kau membuat acara tanpa sepengetahuanku." ujar Sanas bertolak pinggang.
"Sayang, jaga sikapmu! sebentar lagi kau akan menjadi nyonya Anggara." ujar Eliyas.
"Kau ini benar - benar.." ujar Sanas bergidik, Eliyas hanya terkekeh melihat ekspresi Sanas yang terlihat kesal. Pasalnya, Eliyas benar - benar tidak memberitahu sedikit pun tentang rencana pesta tunangan mereka berdua.
__ADS_1