
Satnight, Malam dimana nantinya Sanas untuk pertama kali bertemu dengan kedua orang tua Tama, cukup mendebarkan memang. Ditambah lagi ia mempunyai pengalaman buruk saat pertama berjumpa calon mertua.
Sanas tengah bersiap, Gaun warna Dusty pink dengan higheels warna maroon menjadi pilihan Sanas malam ini. Ia menatap dirinya sendiri pada pantulan cermin, jujur ia sangat gugup.
Drrtt.. Drrtt.. suara ponsel tanda pesan masuk, Sanas meraih benda pipih di atas meja rias.
BossGeng💰
Aku sudah di depan gerbang.
begitulah isi pesan dari Tama, Sanas meraih sling bag dan bergegas keluar kamar. terpancar senyum sumringah dari pria tampan yang berdiri tepat di samping pintu mobil ketika melihat gadis yang di tunggunya telah keluar dari sangkarnya, Sanas segera menghampiri Tama.
"Lama ya?" tanya Sanas membuka suara untuk mengurangi kecanggungan.
"Tentu tidak ada kata lama untuk Tuan Putri." kata Tama menyentil hidung Sanas.
"Kak Tama, sakit." ujar Sanas memegangi bekas sentilan Tama.
"Sudah siap tuan Putri?" tanya Tama bak seorang pengawal yang sedang di tugaskan oleh baginda raja.
"Aku sudah siap pangeran kodok." ujar Sanas terkekeh.
"Apa ini? pangeran kodok? lalu kau apa? putri keong?" tanya Tama kesal.
"Jadi kamu samain aku sama keong?" ketus Sanas.
"Lalu kamu samakan aku sama kodok?" tanya Tama polos.
"mirip sih.." jawab Sanas sambil terkekeh.
"Calon istri durhaka memang." ketus Tama.
"Kan masih calon, jadi belum ada unsur durhakanya." ujar Sanas membela diri.
"Arghh... aku berdebat denganmu serasa berdebat dengan juru bicara presiden." ujar Tama.
"Jangan main - main, kalau saja aku kuliah jurusan hukum pasti jadi pengacara handal." sombong Sanas.
__ADS_1
"Terlalu percaya diri." cibir Tama.
"Kau tau pengacara apa yang ku maksud?" tanya Sanas.
"Pengacara apa?" tanya Tama ingin tahu.
"Pengangguran Banyak Acara.. hahahaha..." kata Sanas tertawa terbahak - bahak, sambil nyelonong masuk mobil.
"Memang kau ini menyebalkan." ujar Tama menggeleng - gelengkan kepalanya, lalu menyusul masuk mobil.
"Kakak.. maaf ya orang tuaku tidak ada yang bisa datang." ujar Sanas.
"No Problem Baby, yang penting kau datang bukan." kata Tama sambil mengusap puncak kepala Sanas. Sanas tersenyum mendapati perlakuan manis dari Tama.
"Tidak ada salahnya membuka hati bukan." batin Sanas.
Di perjalanan Sanas dan Tama saling bercanda, entah mereka sampai tak kehabisan acara untuk ngobrol. Meski sekedar saling ejek, saling puji, itu justru menjadi ciri khas tersendiri bagi mereka berdua.
Hingga akhirnya, tibalah keduanya di salah satu restoran ternama di kota M. Sanas terdiam ia tampak ragu untuk melangkahkan kakinya.
"Kenapa? ada yang ketinggalan?" tanya Tama.
"Tenanglah, orang tuaku tak akan memakanmu." ujar Tama.
"Kakak, ini bukan waktunya bercanda, dan aku benar - benar gugup dan.." ujar Sanas menggantungkan kata - katanya.
"Dan??" tanya Tama memastikan.
"Takut." ujar Sanas.
"Kenapa harus takut?" tanya Tama mengernyitkan dahi.
"Aku takut orang tuamu tak menyukaiku Kak." jawab Sanas jujur.
"Akan aku pastikan mereka akan menyukaimu sayang...." ujar Tama mempererat genggaman tangannya. Sanas tersenyum mendengarnya, mereka pun memasuki restoran.
"Selamat datang Tuan.. Nona.. Anda sudah di tunggu oleh Tuan dan Nyonya di ruang VIP" sapa pelayan restoran sambil menunjukan ruangan.
__ADS_1
"Oh.. Ya, terima kasih ya." ujar Sanas. Kedua waiters itu pun saling pandang saking terkejutnya, baru kali ini ada orang penting yang ramah (Sebenernya ngga penting juga sih😅).
"Mereka kenapa?" tanya Sanas heran.
"Kau lupa ya kalau sebentar lagi, kau akan menjadi nyonya Tama." ujar Tama.
"Lalu apa hubungannya?" tanya Sanas masih tak mengerti.
"Mereka terkejut karena kau terlalu ramah." jelas Tama.
"Ish... orang mau ramah aja kok nunggu jadi orang biasa. aku kan juga orang biasa, apa semua istri konglongmerat sombong - sombong? kalau iya, itu tidak akan pernah terjadi dalam kamus kehidupanku." ujar Sanas.
"Baiklah.. Baiklah.. Tuan Putri terserah kau saja, asal membuatmu senang. Tapi ingat satu hal." kata Tama.
"Apa?" tanya Sanas.
"Jangan pernah tunjukan perhatianmu pada lelaki lain." ujar Tama.
"Kenapa?" tanya Sanas.
"Aku cemburu." jawab Tama.
"Termasuk pada ayahku?" tanya Sanas lagi.
"Bukan begitu juga, kamu hanya boleh perhatian padaku dan juga ayahmu." ujar Tama.
"Baiklah, jika begitu suatu saat jika aku punya seorang anak laki - laki aku tak akan mengurusnya." ujar Sanas.
"Ish.. kok kamu gitu." dengus Tama.
"Abisnya kamu aneh, ya masa iya aku udah punya calon suami masih mau perhatian sama cowok lain kan ngga banget." ketus Sanas.
"Iya.. Iya.. Aku minta maaf, aku cuma ngga mau kamu berpaling." ujar Tama.
"Gimana mau berpaling kalau perasaanku untukmu masih belum berubah." kata Sanas jujur, terlihat raut muka kecewa yang di tunjukan Tama.
"Tapi aku sedang berusaha agar kamu menjadi penghuni hatiku dengan segera." tambah Sanas, yang di sambut senyum sumringah dari Tama.
__ADS_1
Keduanya oun memasuki ruang VIP yang di tunjukan oleh Waiters, dengan hati Dag!! Dig!! Dug!! Sanas melangkahkan kakinya.