CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 134


__ADS_3

"Akhirnya semua beres.." ujar Sanas sambil membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Melihat itu pun Eliyas hanya tersenyum.


"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Eliyas.


"Entahlah, yang penting sekarang aku sudah terbebas dari Tama. mungkin setelah wisuda aku masih akan bekerja di perusahanmu atau justru ikut menghandel perusahaan ayah." ujar Sanas.


"Menikahlah denganku Ayashaa.." ujar Eliyas tiba - tiba. Mendengar itu pun Sanas hanya bisa memalingkan muka.


"Beri aku alasan kenapa kau tidak mau menikah denganku?" tanya Eliyas.


"Aku-"


"Kenapa? apa kau masih mencintai mantan tunanganmu Tama?" tanya Eliyas.


"Tidak, bukan.." jawab Sanas.


"Lalu apa?" tanya Eliyas.


"Aku belum siap." jawab Sanas asal.


"aku akan menunggu sampai kau siap." ujar Eliyas.


"Jangan buang waktumu hanya untuk menungguku, aku takut kau akan kecewa lagi." ujar Sanas.


"Setidaknya jika kau memberiku alasan yang jelas aku tidak akan mengharapkanmu lagi Ayasha.." ujar Eliyas.


"Apa tidak ada sedikit saja rasa cinta di hatimu Ayasha?" tanya Eliyas lagi. Sanas hanya diam, ia kalut dengan pikirannya sendiri.


"Aku sudah tahu jawabannya Ayashaa.. aku mengerti." kata Eliyas tersenyum kecewa, ia pun beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja. Sebenarnya Sanas ingin menahan Eliyas agar tidak pergi namun ia takut jika Eliyas beranggapan jika dirinya memberi harapan lebih untuknya.


****


Satu Bulan setelah kejadian malam itu Eliyas seolah memberi jarak dengan Sanas. Ia tak pernah lagi datang ke apartemen, mereka bertemu hanya di kantor dan itu pun hanya ala kadarnya saja. Tidak ada percakapan - percakapan untuk pemanis seperti biasanya.

__ADS_1


"Kok aku pengen rujak ya. ." batin Sanas.


"Pumpung jam istirahat masih lama, cari dulu ngga papa kan ya." ujar Sanas dalam hati. Saat hendak menuju lobby Sanas berpapasan dengan asisten Kelvin mereka nyaris bertabrakan.


"Nona.."


"Asisten Kelvin.." ujar Sanas.


"Nona mau kemana buru - buru sekali?" tanya Kelvin.


"Eh.. ini aku mau keluar pengen beli rujak." ujar Sanas, kelvin mengerutkan dahinya.


"Rujak?" tanya Kelvin.


"Yaa.. sepertinya enak bukan siang - siang seperti ini makan rujak apa lagi bumbu cocolannya yang pedas manis beuhhh" ujar Sanas membayangkan.


"Kau sendiri mau kemana?" tanya Sanas.


"Saya ingin makan siang." ujar Sanas.


"Tapi nona.." ujar Kelvin ragu.


"Ayolah ku mohon.." ujar Sanas memaksa. Dengan ragu - ragu kelvin pun menuruti kemauan Sanas. Keduanya berhenti di salah satu stand pedagang kaki lima yang menjual beraneka macam rujak. Sanas memesan rujak buah porsi jumbo sedangkan Kelvin memesan rujak uleg.


"Asisten Kelvin, apa anda tidak masalah makan di tempat seperti ini?" tanya Sanas sambil memakan rujak dengan lahapnya.


"tentu tidak Nona, dulu saya sering makan di tempat seperti ini.. karena sibuk jadi jarang keluar." jawab Kelvin.


"Ohh.. gitu, enak ya jadi kamu gaji gede punya bos royal.. la aku nunggu tanggal muda dulu buat makan enak, di luar itu ya makan pinggir jalan kalo ngga indomiee." ujar Sanas.


"Maaf nona bukannya nona anak orang berada?" tanya kelvin.


"Hahaha.. yang kaya itu ayahku bukan aku, dan aku bukan tipikal penikmat harta orang tua." ujar Sanas.

__ADS_1


"dan bukannya mantan tunangan anda juga orang berada?" tanya Kelvin lagi.


"Yaa.. kau benar, seperti yang ku katakan tadi aku bukan tipikal orang yang memanfaatkan keadaan. jika saja aku wanita matre tentu harta bosmu sekarang sudah ku kuras habis sampai ke akar serabutnya." ujar Sanas.


"Lakuhkan saja nona, sampai 7 turunan pun harta tuan Eliyas tak akan pernah habis." ujar Kelvin.


"Yaa.. Ya.. Ya.. terserah kau saja." ujar Sanas sambil terus melahap rujak buahnya.


"Bu.. bungkus satu ya, tapi sausnya di pisah." ujar Sanas kepada penjual rujak.


"Nona.. Apa kau yakin? anda sudah hampir menghabiskan porsi jumbo, dan masih mau membungkus?" tanya Kelvin heran.


"Memangnya kenapa? ini tuh enak tau nggak sih." ujar Sanas.


"Anda ini seperti orang yang sedang mengidam." ujar Kelvin


uhuk.. uhukk.. uhukk... Sanas tersedak mendengar ucapan kelvin.


"Nona.. Pelan - pelan." kata Kelvin menyodorkan air mineral.


"Ngidam?" batin Sanas, ia sendiri juga bertanya - tanya. tidak biasanya ia menginginkan rujak, karena selama ini jika ia salah makan buah maka dia akan sakit perut. Ia pun segera mengecek ponselnya untuk melihat jadwal menstruasinya dan benar saja sudah satu bulan ia telat datang bulan.


"Nona..."


"Hallo..."


"Nona..." teriak kelvin.


"Ehh.." kata Sanas terkejut.


"Nona melamun?" tanya Kelvin.


"Tidak.. Tidak.. ayo kita kembali ke kantor, jam istirahat hampir habis." ajak Sanas.

__ADS_1


"Mari Nona." ujar Sanas. Mereka pun kembali ke kantor


__ADS_2