
Sanas tampak ragu untuk terus terang kepada keluarganya. Tapi mau tidak mau, Siap tidak siap Sanas harus memberanikan diri datang ke kampung dan mengatakan kepada Ayah dan keluarga besarnya, bahwa ada seseorang yang akan melamarnya bulan ini. Syukurlah, Keluarga Sanas tak mempermasalahkan keinginan Sanas. Mereka justru sangat senang mendengar ada seorang pengusaha yang akan melamar, terutama Neneknya. Ia adalah orang yang paling antusias apalagi ini menyangkut Sanas.
"Tuan Tama memintaku untuk mengagendakan pertemuan keluarga sebelum acara lamaran Paman, Apakah ayah bisa datang?" tanya Sanas bimbang.
"Kau tenang saja, Paman yang akan mendatanginya." ujar Paman Zoe.
"Syukurlah kalau begitu paman." ujar Sanas lesu.
"Kau kenapa nak?" tanya Nenek.
"Tidak.. Nenek, aku baik - baik saja." ujar Sanas.
"Ya.. kau memang harus baik - baik saja, tunjukan pada mantan pacarmu yang tak tau diri itu kalau kau lebih bahagia." ujar Nenek.
Seketika ucapan Daniel beberapa waktu yang lalu kembali terngiang di ingatan Sanas. Saking kelabakannya Sanas bahkan belum semoat membicarakan keperawanannya kepada Tama, Sanas kembali ragu. Apakah Tama akan menerima kekurangannya?
"He.. kok ngelamun." seru Nenek.
"Nenek ini bikin kaget aja." ujar Sanas memegang dadanya.
"Abisnya di ajak ngomong malah ngelamun." ujar Nenek.
"Aku hanya membayangkan ekspresi Daniel saat melihat aku bahagia nanti nek.." ujar Sanas.
"Ya.. Ya.. Ya.. Kau harus merencanakan itu matang - matang dengan calon suamimu. Biar tau rasa, siapa suruh menyakiti cucu kesayanganku." ketus Nenek.
"Ibu ini apa - apaan, wong yang di khianati Asa, kok yang emosi malah ibu." ujar Paman Boby.
"Abisnya gemes aku sama cengunguk itu." ujar Nenek geram.
"Udahlah Bu, mending kita fokus ke acara lamaran Asa nanti. Kita harus buat jamuan istimewa." ujar Bi Rose tak kalah antusiasnya.
__ADS_1
"Ihirr.. punya menantu tampan + kaya." ujar Bi Rosa.
"Kalian ini, selalu begitu." ujar paman Boby.
"Yee.. biarin, sirik aja ih.." ujar Bi Rosa dengan tatapan Sinis.
"Sudah.. Sudah.. Semua tidur, ini sudah Malam. kau juga Asa besok kau kembali ke kota M kan, jadi sekarang masuk kamar dan istirahat." ujar Nenek.
"Baik Nek." kata Sanas beranjak dari duduknya, dan pergi menuju kamar.
***
Keesokan harinya, pagi - pagi sekali Sanas sudah tiba di Kantor, ada sesuatu yang membuat ia harus cepat - cepat sampai di kota M. Sanas tampak mondar mandir di depan ruang kerja Tama.
"Wow, Bagus sekali. Pagi - pagi udah standby di depan ruangan si Bos, mau ngelonthe kamu? emang Bos berani pasang tarif kamu berapa?" tanyaAklis dengan nada sinis.
"berani bayar pake mas kawin lah. kenapa? ngga terima?" ujar Sanas tak kalah sinisnya.
"Hahaha.. sok mimpi jadi istri Bos, heh bocah tengik.. Loe cuma buat melampiaskan nafsu doang, sadar diri gih, kalo mimpi jangan ketinggian nanti jatuh sakit." ujar Aklis.
"Hello Baby, apa kau mencariku? astaga baru cuti 1 hari saja kau sudah rindu." kata Tama mengusap puncak kepala Sanas, Aklis yang menyaksikan itu pun kepanasan di buatnya.
"Ada yang ingin ku bicarakan Sayang." ujar Sanas menekan kata - kata terakhirnya agar di dengar oleh Aklis.
"Sial.. pasti dia mau ngadu." batin Aklis.
"Oh.. baiklah mari kita masuk ruanganku." ujar Tama menggandeng tangan Sanas.
"Ada hal yang harus aku sampaikan." ujar Sanas melepas genggaman tangan Tama dengan raut muka serius.
"Katakan saja.." ujar Tama Santai, Sanas masih terdiam ia bimbang antara mau menyampaikan atau tidak.
__ADS_1
"Apa kau serius ingin menikahiku?" tanya Sanas, Tama tampak terkejut mendapati pertanyaan Sanas yang menurutnya aneh.
"bukan kah kau yang minta?" kata Tama balik tanya.
"Ya.. tapi kurm rasa setelah apa yang akan aku sampaikan sekarang akan membuatmu berubah pikiran." ujar Sanas.
"Tergantung.. cepat katakan." ujar Tama.
"Hmm? kenapa masih diam?" tanya Tama.
"Sebenarnya.." kata Sanas menggantung.
"Sebenarnya?" tanya Tama memastikan.
"Sebenarnya aku.." kata Sanas masih saja menggantung.
"Kau sudah jatuh cinta padaku?" tanya Tama.
"Tama aku serius." seru Sanas, Tama tampak mengernyitkan dahi ketika Sanas memanggilnya hanya dengan menyebut nama saja.
"Cepat katakan lama - lama aku mati penasaran." ujar Tama.
"Aku sudah tidak perawan." lirih Sanas, tampak kekecewaan terpancar pada raut muka Tama dan Sanas pun menyadari hal itu.
"Tidak masalah." ujar Tama yang membuat Sanas terbelalak.
"Ka.. Kau.. tidak mempermasalahkan keperawananku?" tanya Sanas tak percaya.
"Ya.. bagiku keperawanan bukan pondasi dalam sebuah hubungan." kata Tama.
"Apa kau yakin?" tanya Sanas.
__ADS_1
"Yaa.." jawab Tama enteng.
"Aku menerima kamu apa adanya, apa pun bagaimana pun masalalumu, perawan tidak perawan sekarang kau calon istriku. Dan aku minta, buka hatimu untukku Kreyasa Anastasya." kata Tama. Sanas hanya mengangguk, Ada sedikit rasa haru yang mendera hati Sanas, 1001 pria yang seperti Tama. meski begitu ada juga rasa lega dihatinya karena ada seorang pria yang mau menerima ketidak sempurnaanya.