CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 57


__ADS_3

Perjanjian awalnya Sanas menggantikan Leo selama seminggu kini di perpanjang menjadi satu bulan. Mau tidak mau Sanas harus tetap memenuhi permintaan bosnya. Sebenarnya ia ingin bebas dari naungan seorang Tama, namun apalah daya menolak pun ia tak berhak. Terlebih lagi seorang Tama adalah tipe orang yang ngga main - main dalam ucapannya.


BosGeng💰


Siang nanti kita lunch di Caffe Ozka, saya tunggu di mobil.


Isi pesan dari Tama, Sanas menghela nafas lalu beranjak dari duduknya. Sanas segera menuju lobby kantor, dan benar saja bosnya telah Standby di tempat.


"Maaf lama menunggu Bos.." ujar Sanas sesaat setelah memasuki mobil, namun tiada respon dari Tama. Tidak ada perbincangan diantara mereka berdua selama perjalanan, Meskipun sesekali Tama curi - curi pandang kearah Sanas yang fokus menatap luar jendela mobil.


"Bos.." panggil Sanas sambil menoleh kearah Tama, Tama terkejut bukan main saat tersadar dirinya tengah kepergok curi - curi pandang kearah gadis di sampingnya ini.


"Hmm?"


"Sebenernya Bos ini kenapa sih, kok berubah jadi dingin dan menyeramkan?" tanya Sanas, entah keberanian dari mana ia bisa bertanya seperti itu. Tama yang mendengarnya pun hanya mengernyitkan dahi.


"Abis putus cinta ya." ledek Sanas dengan senyum mengejek. Ckriiittt!!!! Suara rem mobil.


"Aduh!!!" ringis Sanas saat jidatnya kepentok bagian depan mobil.


"Apa saya membayarmu hanya untuk mencari tahu tentang urusan pribadiku?" tanya Tama sinis.

__ADS_1


"Maaf Bos, lagian si bos aneh.. Dulu si bos ramah, baik, manis, murah senyum. sekarang behhh... udah kaya es balok." ujar Sanas jujur.


"Lalu apa pentingnya untukmu? terserah saya dong ini kan hidup - hidup saya." ketus Tama.


"Dasar bodoh, bisa - bisanya kamu ngajak debat orang lagi PMS." batin Sanas,


"Satu lagi.. aku bosmu saat di kantor, tapi saat di luar aku ini temanmu kalau kau lupa." ujar Tama mengingatkan. Sanas hanya diam tak menanggapi ucapan bosnya.


Tama melirik Sanas yang tiba - tiba terdiam.


"Apa segitu berpengaruhnya sikapku pada karyawanku sampai - sampai Bocah ini berani protes." batin Tama.


"Ehmm.. sudah sampai." kata Tama namun tak di jawab oleh Sanas, ia bergegas turun dari mobil dan di susul Tama.


"Dasar orang kaya, cuma Lunch aja harus di ruang VIP kek mau jumpa Klien penting saja." umpat Sanas dalam hati.


"Kenapa kamu menapat saya seperti itu? Suka?" Tanya Tama dengan ketus.


"Ah.. Emmh.. Enggak Pak.. Ehh.. Tuan, hehehe.." ujar Sanas salah tingkah. Tama menyunggingkan senyuman sambil bergidik ketika mendapati Sanas yang salah tingkah.


"Duh.. kan kalo senyum gitu Tampannya masyaallah ga ada obat." batin Sanas.

__ADS_1


"Astaga.. apa - apaan kamu ini Nas, inget Daniel.. Inget Daniel.." batin Sanas merutukin dirinya sendiri.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Tama.


"Saya ikut bos aja." jawab Sanas asal.


"Tama.. panggil saya Tama jika di luar pekerjaan." ujar Tama mengingatkan.


"Eh.. Maaf saya rasa itu kurang Sopan Tuan." jawab Sanas.


"Saya tidak terima penolakan." ujar Tama dengan ketus.


"Bagaimana kalau Kak? anda 3 tahun lebih tua dari saya, tidak etis saja jika harus memanggil nama saja." Nego Sanas.


"Hmm.. boleh juga, Tapi ada satu syarat." ujar Tama.


"Syarat apa?" tanya Sanas.


"Kalau sampai kamu salah lagi panggil saya, kamu harus menuruti keinginan saya. bagaimana?" kata Tama.


"Baik, saya setuju." ujar Sanas dengan percaya dirinya.

__ADS_1


Pesanan mereka pun sampai


__ADS_2