
Satu minggu telah berlalu, Setelah memutuskan untuk tinggal di Apartemen milik Eliyas, Sanas hanya menghabiskan waktu bersama dengan Eliyas. Setiap pagi sebelum berangkat ke kantor Eliyas akan datang ke Apartemen menemui Sanas. Sesekali Eliyas juga bermalam di apartemen namun sampai saat ini belum ada tanda - tanda terjadi hal tidak senonoh di antara keduanya.
"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Eliyas kepada Sanas.
"Tekatku sudah bulat, aku ingin membatalkan pernikahanku dengan Tama." ujar Sanas.
"Apa kau yakin?" tanya Eliyas.
"Sangat yakin." jawab Sanas mantap.
"Baiklah jika itu membuatmu senang." kata Eliyas.
"Apa kau tidak punya keinginan untuk mengajaku jalan - jalan Tuan Eliyas Anggara?" tanya Sanas.
"Katakan kau mau kemana? ke paris? ke london? ke jepang?" tanya Eliyas.
"Astaga, aku hanya ingin keluar menghirup udara segar.. suntuk rasanya satu minggu penuh aku hanya berbaring di apartemenmu." ujar Sanas.
"Hahaha.. baiklah, bersiaplah kita pergi." kata Eliyas.
"Kemana?" tanya Sanas.
"Kita ke Mall, sesekali aku ingin menraktirmu." ujar Eliyas.
"Bebas pilih ya?" tanya Sanas sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Sejak kapan kau belajar menjadi wanita matre?" tanya Eliyas.
"Sejak kenal dengan Tuan.." kata Sanas terkikik.
"Dasar bocah nakal, cepat sana bersiap sebelum aku berubah pikiran." kata Eliyas.
"Siap Bos.. Siap.." jawab Sanas.
Setelah selesai bersiap Sanas dan Eliyas pergi ke salah satu Mall terbesar di kota M. Mereka berdua tampak serasi, Sanas yang cantik dan Eliyas yang tampan, Mungkin saat ini orang - orang mengira keduanya adalah sepasang kekasih (Pengennya para readers sih gitu😋 tapi nggak tau kalo author😅)
"Astaga, ponselku tertinggal di mobil.. kamu masuk duluan aja ya tunggu aku di dalam." ujar Eliyas.
"Oh.. Oke, jangan lama - lama ya." ujar Sanas.
__ADS_1
"Aku tidak akan lama, jaga dirimu baik - baik." kata Eliyas. Sanas pun memasuki Mall terlebih dahulu, ia berniat menunggu Eliyas di lantai atas sekalian mau lihat - lihat barang yang mungkin dia cocok.
Saat menaiki eskalator, tak sengaja Sanas berpapasan dengan Tama dan Aklis yang terlihat selesai berbelanja. Sanas menuju lantai atas, sedangkan Tama dan Aklis menuju lantai bawah. Seperti gerakan slow motion, Sanas hanya melirik sekilas keduanya lalu memalingkan muka dengan tatapan sinis. Sedangkan Aklis justru bergelanyut manja dengan tingkah yang di buat - buat, seakan membuat Sanas ingin sekali muntah melihatnya.
"Kau kenapa?" tanya Eliyas yang baru datang.
"Ish.. Tuan ini mengagetkanku saja." ketus Sanas.
"Maaf.. Kamu kenapa kok manyun gitu?" tanya Eliyas lagi.
"Tuan kau tau, aku baru saja melihat pemandangan yang merusak mataku." ujar Sanas.
"Pemandangan apa?" tanya Eliyas bingung.
"Masak iya aku tadi berpapasan sama Tama bersama dengan sekertaris penghangat ranjangnya kan jadi kesel." ujar Sanas.
"Kamu cemburu?" tanya Eliyas.
"Tidak!!" tolak Sanas.
"Terlihat jelas raut mukamu itu sedang cemburu." ujar Eliyas datar.
"Heh.. selalu mengalihkan pembicaraan." ujar Eliyas.
"Tuan, kau tau aku sekarang sedang berusaha melupakan dia, jadi ku mohon bantu aku untuk mencapai misiku.." ujar Sanas.
"Ya.. terserah kau saja." kata Eliyas.
"Astaga apa kau marah? oh.. ayolah Tuan, kau kan tampan.. tidak baik marah - marah seperti itu." rayu Sanas.
"Lagi pula untuk apa aku marah." ujar Eliyas.
"Iya juga ya, untuk apa? ah.. sudahlah mari kita berbelanja.." ujar Sanas sambil menarik tangan Eliyas, Eliyas pun hanya mengikuti kemauan Sanas.
Eliyas mengajak Sanas memasuki salah satu toko dengan brand terkenal, melihat dari luar saja Sanas hanya bisa menelan ludahnya, bukan karena bagus, tapi karena harganya yang mahal.
"Keluarkan semua baju, tas, sepatu, dan perhiasan keluaran terbaru." ujar Eliyas kepada pramuniaga
"Baik Tuan." ujarnya. Sedangkan Sanas hanya melongo mendengar penuturan Eliyas.
__ADS_1
"Pilih sesukamu." ujar Eliyas, Sanas hanya menggeleng.
"Kenapa? tadi katanya mau belanja?" tanya Eliyas.
"Tapi uangku tidak cukup kalau membeli barang branded." bisik Sanas.
"Siapa yang menyuruhmu membayar? aku yang bayar." ujar Eliyas.
"Apa kau gila, aku tidak mau." ujar Sanas.
"Kalian.." tunjuk Eliyas pada Pramuniaga.
"Carikan ukuran yang cocok untuk wanita di sebelah saya ini, dan langsung bungkus." ujar Eliyas sambil memberikan kartu tanpa batasnya.
"Bagaimana dengan perhiasannya Tuan?" tanya sang pramuniaga.
"Bungkus juga semuanya." kata Eliyas. Sanas diam mematung memandang satu persatu barang branded yang masuk dalam paper bag. Dan yang membuat ia tercengang adalah jumlahnya yang hampir 1 Milyard.
"Tuan apakah ini Mahar?" tanya Sanas.
"Berhenti memanggilku dengan sebutan Tuan!!" seru Eliyas.
"Lalu saya harus panggil apa? bapak?" tanya Sanas.
"Apa wajahku setua itu hingga kau ingin memanggilku dengan sebutan Bapak?" tanya Eliyas.
"Habisnya saya jadi bingung." ujar Sanas.
"Panggil nama saja." perintah Eliyas.
"Apa? ish.. ngga sopan." ketus Sanas.
"Atau.." ucapan Eliyas terhenti.
"Atau?" tanya Sanas.
"SAYANG!!!" bisiknya.
"Ish..." dengus Sanas.
__ADS_1
Eliyas pun tertawa terbahak - bahak melihat ekspresi Sanas yang menurutnya menggemaskan.