
Tak terasa seminggu setelah kejadian dimana Tama menawarkan Sanas untuk menjadi kekasihnya telah berlalu, namun hingga saat ini hubungan mereka masih belum juga ada kejelasan. Itu di karenakan Sanas belum juga memberikan keputusan, entah apa yang di pikirkan gadis itu, padahal dengan sangat mudah ia menjawab Ya atau Tidak.
"Woe ngelamun aja, kesambet wewe gombel baru tau rasa loe." kata Caca mengagetkan Sanas.
"Ish.. apa sih Ca.. Seneng ya kalo temen loe ini jantungan." dengus Sanas mengusap dadanya karena kaget.
"Abisnya ngelamun mulu, ngelamunin apaan si? cicilan utang? belum bayar kostan? atau biaya kuliah? jangan khawatir kan ada Delon si ATM berjalan, iya kan Del." kata Caca nyerocos sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Enak aja, gue juga lagi bokek abis bayar cicilan motor sama bayar kontrakan njir.." ujar Delon.
"Apa sih kalian ini, siapa juga yang lagi mikirin uang.. Selalu aja sok tau." ketus Sanas.
"Terus loe kenapa?" tanya Caca.
"Gue tu lagi suntuk tau ngga, mantan gue si Daniel yang ninggal gue nikah itu, Masih aja ngejar - ngejar gue." ucap Sanas.
"Hah.. Serius loe? emang loe bawa lari barang dia apaan, kok sampe - sampe masih ngejar loe?" tanya Delon.
"Gue ga bawa lari apa - apa kok, enak aja loe kalo ngomong Del." ketus Sanas.
"Ya abisnya aneh, dia yang ninggalin dia juga yang ngejar - ngejar." ujar Delon. Sanas pun menceritakan semuanya kepada Caca dan Delon perihal pernikahan paksa Daniel.
"Jadi gitu.." ujar Sanas.
__ADS_1
"Fiks kalo itu mah dia bener - bener cinta sama loe, buktinya dia mau nurutin kemauan Mamanya demi bisa bareng sama loe. Ya, meskipun caranya salah sih." kata Delon.
"Itu dia Del masalahnya, dia tu ngga ngabarin gue sama sekali selama 2 tahun lebih. Eh.. tau - tau dia dateng ninggalin nikah, baru dia cerita problem sebelumnya kan gue jadi ngga yakin." kata Sanas.
"Kalo menurut gue sih Daniel bukan cinta sama loe, tapi lebih ke obsesi ya ngga sih? logikanya, loe udah jelas - jelas ikhlas dia nikah sama sahabat loe, tapi dia tetep ngejar - ngejar loe bahkan mau jadiin loe istri kedua." ujar Caca.
"Bener juga." imbuh Delon.
"Yups.. selain itu dia cuma mau nebus rasa bersalahnya doang." kata Caca lagi. Sanas nampak termenung mencerna ucapan kedua temannya ini.
"Udah ah.. ngga usah di pikirin mendingan kita ke kantin ngisi perut, laper nih.." ujar Delon.
"Ayok lah.. cacing - cacing di perut gue juga udah berontak nih." ujar Caca.
"Yuk lah Nas, kita ke kantin." ajak Delon.
"Sanas ngga asik Ah.." ujar Caca cemberut.
"Sanas!!"
Tiba - tiba terdengar suara bariton terdengar di ambang pintu ruang kerja Sanas. Sontak membuat Sanas, Delon, dan Caca melihat kearah sumber suara.
"Ehh.. Pak Tama, ada yang bisa saya bantu?" tanya Sanas gugup.
__ADS_1
"Mari ikut saya makan siang, sekaligus saya ingin memberikan materi untuk meeting besok pagi." ajak Tama ramah.
"Emh.. Eh.. E.. Anu, mari pak." ujar Sanas.
"Duluan ya.." kata Sanas kepada Caca dan Delon yang sedang melongo.
"Loe ngerasa ngga kalo Si Bos sama Sanas aneh akhir - akhir ini?" tanya Caca kepada Delon.
"Aneh gimana?" kata Delon balik tanya.
"Ya aneh aja, masak tiap hari Sanas pulang pergi kantor barengan sama bos. Terus tiap makan siang juga sama bos." ujar Caca.
"Ya kan Sanas lagi gantiin Pak Leo jadi asistennya si bos, jadi wajar dong kalo mereka barengan terus." ujar Delon.
"Beda anjir, dari tatapan mereka berdua tu udah aneh. Apa lagi si Sanas pasti salah tingkah kalo di datengin si bos pas lagi sama kita." kata Caca.
"Masak sih, gue kok ngga merhatiin tatapan mereka." kata Delon menimang - nimang perkataan Caca.
"Gue curiga ada hubungan skandal antara bos dan asisten sementara." bisik Caca.
"Mulutmu Ca!! ngga boleh ngomong gitu ah, Sanas orangnya ngga kaya gitu kali." sergah Delon.
"Yee.. berani taruhan ngga? kalo sampek si bos sama si Sanas ngga ada hubungan special gue bakal traktir loe sepuasnya. Tapi begitu juga sebaliknya. Gimana Deal?" kata Caca.
__ADS_1
"Deal!!!" kata Delon menyetujuhi penawaran Caca.
Caca tersenyum senang karena berhasil mengerjai Delon, karena sebenarnya ia sudah tau penawaran Tama kepada Sanas, entah mengapa pikiran Caca begitu yakin jika Sanas akan menerima penawaran Tama, tapi entahlah hanya Sanas dan tuhanlah yang tau (Sama author sih sebenernya😂)