
Keesokan harinya Sanas pagi - pagi sudah standby untuk berangkat ke kota XX bersama bosnya. Ia hanya membawa beberapa pakaian untuk kerja saja, Karena jarak proyek yang akan di pantaunya tidak jauh dari rumahnya untuk pakaian santai ia memutuskan untuk memakai yang di rumah.
Tok.. Tok.. Tok...
"Siapa sih pagi - pagi juga." lirih Sanas sembari membuka pintu kamar.
"Eh.. Bu Rini, ada yang bisa saya bantu Bu?" tanya Sanas ketika mengetahui bahwa yang datang adalah pemilik kostnya.
"Gini mbak Sanas, di depan ada seseorang yang nungguin mbak Sanas." kata Bu Rini.
"Seseorang? Siapa Bu?" tanya Sanas.
"Kurang tahu mbak, saya juga ngga tanya. Pokoknya naik mobil." jelas Bu Rini, Sanas yang mendengarnya pun hanya mengernyitkan dahi.
"ya sudah saya permisi dulu Mbak.." kata Bu Rini mengundurkan diri.
"Baiklah, Terima kasih banyak ya bu." ujar Sanas.
"Aii... siapa? aku kan belum pesan taxi online." batin Sanas, lalu bergegas menuju pintu gerbang, Sanas terperangah ketika mengetahui siapa yang tengah menunggu dirinya.
"B.. B.. Bos!!" ujar Sanas gugup.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? ayo kita berangkat." ujar Tama dengan nada datar.
"Berangkat? Ngga pake supir?" tanya Sanas heran.
"Apa aku memberimu gaji hanya untuk mengajukan pertanyaan yang tidak penting itu Nona Kreyasa Anastasya?" tanya Tama dengan ketus.
"Eh.. Bukan.. Bukan.. Bukan begitu maksut saya Tuan, apa anda tidak lelah kalau mengendara sendiri ke Kota XX." jelas Sanas.
"Kamu jangan meremehkanku, kita bolak balik kesana 10 kali pun aku ga bakal kelelahan." ujar Tama dengan sombong.
"Ya.. Ya.. Ya.. Aku percaya." ujar Sanas manggut - manggut.
"Lalu tunggu apa lagi cepatlah naik, apa kau mau berdiri disitu sampai kakimu berakar?" ketus Tama.
__ADS_1
"Sebentar dong Bos, saya ambil tas saya dulu." ujar Sanas lalu berlari meninggalkan Tama seorang diri.
"Aishh... untung pintar kalo enggak udah gue pecat tuh bocah." dengus Tama, tak selang beberapa lama Sanas pun keluar. Bukannya naik ke mobil, Sanas justru berdiam diri sambil menggaruk - garuk tengkuknya.
"Kenapa lagi? ****** ***** mu ketinggalan?" tanya Tama dengan nada kesal.
"Ishh.. Bos Gila!!!" umpat Sanas.
"Ini lo Bos, koper saya mau taro dimana?" tanya Sanas.
"Dasar bodoh!!! ya di bagasi mobil lah masa iya saya gendong." ketus Tama, Sanas pun mendengus kesal mendengar ucapan bosnya itu, ia berjalan ke bagasi mobil dengan menghentak - hentakkan kakinya.
"Sudah siap?" tanya Tama.
"Siap... Ndan!!!" kata Sanas sambil hormat.
"Lets Go!!" kata Tama melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan tak ada perbincangan antara mereka berdua, semua kalut dengan pikiran masing - masing. Hanya bunyi alunan musik yang menghiasi di tengah - tengah keheningan keduanya. Sanas hanya menatap keluar jendela, sesekali Sanas ikut bersenandung ketika mendapati lagu yang ia tahu liriknya. Diam - diam Tama memperhatikan gadis yang sekarang ini menjadi asisten pribadinya itu, selain suara merdu yang menarik ada juga pesona lain yang terpancarkan dari diri Sanas. Cantik!!! ya itu dia, siapa pun akan terpesona dengan kecantikan Sanas.
"Ya." jawab Tama singkat.
"Emm.. Tuan, bolehkah aku memberi usulan?" tanya Sanas lagi.
"Apa?" tanya Tama heran.
"Bagaimana kalau kita menginap di rumahku saj-"
"No!!! apa kamu pikir aku ngga mampu membayar kamar hotel? bahkan aku membeli seluruh hotel di kota itu sekalipun tak membuat uangku habis." belum sempat Sanas melanjutkan ucapannya namun sudah terpotong dengan jawaban menohok dari atasannya.
"Ya sudah kalau begitu, Tuan tidurlah di Hotel. Aku akan menginap di rumahku sendiri." ujar Sanas enteng.
"Apa maksutmu?" tanya Tama heran.
"Saya tidak bawa baju selain baju kerja Tuan, jadi saya mau kerumah." jelas Sanas.
__ADS_1
"Lalu apa fungsi kau membawa koper kalau kau tidak membawa baju selain baju kerja?" tanya Tama kaget.
"Memang sengaja, biar bisa sekalian mampir ke rumah." jawab Sanas jujur.
"terus kalau saya butuh bantuanmu, saya harus apa?" tanya Tama lagi.
"Anda yang datang ke rumah saya lah." ujar Sanas sambil menaikan kedua alisnya.
"Gila!!! kenapa jadi saya yang mendatangimu, aku kan bosnya." kata Tama tak terima.
"Sudahlah Tuan lebih baik begitu, dari pada saya di hotel telanjang kan ngga lucu, nanti bisa - bisa Tuan kepikiran dan ngga bisa tidur." ujar Sanas sambil terkikik
"Telanjang di depanku pun aku tak berselera denganmu." ketus Tama.
"Sungguh?" tanya Sanas.
"Benarkah begitu Tuan Arthama Ardiwinata." goda Sanas sambil menurunkan sandaran mobil. Tama terbelalak kala melihat Sanas dengan pose menggoda, bagaimana pun ia adalah laki - laki normal.
"Oh.. Shitt!!!" umpat Tama berusaha fokus berkendara.
"Hahahaha..." Sanas tertawa terbahak - bahak.
"Gila!!!" umpat Tama.
"Tuan.. Tuan.. jangan naif, baru begitu saja sudah salah tingkah bagaimana kalau saya telanjang betulan." ledek Sanas.
"Diam kau... Aku ini lelaki normal, jadi wajar." sergah Tama. Seketika tawanya menghilang.
"Pria memang selalu memanfaatkan kata NORMAL sebagai kartu ASnya." ujar Sanas, sambil kembali menatap luar jendela. Suasana kembali hening.
...****************...
...****************...
...****************...
__ADS_1