CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 62


__ADS_3

Tinn.. Tinn.. Tinn... Bi Rose yang kala itu tengah menyiram bunga di kagetkan dengan bunyi klakson mobil di luar. Ia segera bergegas menuju pintu gerbang dan membukanya.


"Siapa itu.." Tanya Bi Rose dalam hati. Tak selang berapa lama Sanas keluar dari mobil yang di susul Tama juga.


"Astaga, Asa kau pulang?" tanya Bi Rose.


"Apa ini, kau pulang tanpa memberi kabar dan membawa calon mantu?" imbuhnya, mendengar pertanyaan beruntun dari Bibi Sanas Tama tampak salah tingkah.


"Ishh.. Bibi satu - satu dong pertanyaannya, Hus.. Ngawur!!! ini bosku bi, kita ada pekerjaan di sini." jelas Sanas.


"Permisi Nyonya, perkenalkan Saya Arthama Adiwinata anda bisa memanggil saya Tama" kata Tama memperkenalkan diri.


"Ah.. Iya Tuan, maafkan atas kelancangan saya tadi Tuan. Perkenalkan saya Rose tantenya Sanas." kata Bi Rose memperkenalkan diri balik.


"Mari.. Mari.. Silahkan Masuk, Nas ajak bosmu kedalam." utus Bi Rose.


"Baik Bi... Tuan mari masuk, Maaf jika rumah kami kecil." ujar Sanas.


"No Problem, aku suka suasana di sini. Meskipun ini di Kota tapi pemandangan masih tetap Asri. Bisa - bisa aku betah di sini" ujar Tama di balas dengan senyuman.

__ADS_1


"Tuan Tama, menginaplah di sini saja, dari pada jauh - jauh ke Hotel." tawar bi Rose sambil meletakan nampan berisi minuman dan beberapa camilan.


"Apa tidak merepotkan Nyonya?" tanya Tama.


"Tentu saja tidak, lagi pula di sini ada 2 kamar tamu yang tak terpakai." ujar Bi Rose.


"Kan Tuan apa ku kata, bibiku ini baik. Lagi pula jarak proyek kita dekat dari sini dari pada dari hotel Tuan." kata Sanas sebagai kompor, Tama terlihat kesal mendengar perkataan Sanas.


"Saya takut jika merepotkan Nyonya." kata Tama berusaha menolak.


"Tidak ada kata repot Tuan, hanya saja ya seperti inilah rumah kami apa adanya Tuan." kata Bi Rose merendah.


"Kalau begitu menginaplah disini." ujar Sanas sambil mengerlinhkan sebelah matanya.


"Baiklah nyonya.. saya akan menginap di sini." ujar Tama.


"Mari saya antarkan anda ke kamar Tuan." ujar Sanas melangkah menuju kamar tamu dan di ikuti Tama.


"Ini kamar anda Tuan, maaf jika kurang nyaman." imbuh Sanas.

__ADS_1


"No... justru aku berterima kasih karena sudah mau menampungku." ujar Tama sambil melihat sekeliling kamar. Ia takjub dengan design setiap ruangan yang ada di rumah Sanas, meskipun rumahnya tak terlalu besar namun terlihat rapi dan nyaman.


"Oh ya Nas, nanti kita ke proyek sehabis sholat dhuhur aja ya." ujar Tama.


"Siap Bos.. ya sudah silahkan anda istirahat, saya permisi dulu." ujar Sanas lalu pergi meninggalkan Tama di kamarnya.


Sanas menuju kamar yang sudah ia rindukan, Kamar yang penuh dengan tempelan poster team sepak bola itulah yang membuat Sanas sangat merindukan kamarnya. Entah apa yang membuat ia suka sekali dengan sepak bola.


Sanas menghela nafas panjang tatkala melihat foto yang ada dalam bingkai, Foto dimana terakhir kali berjumpa dengan kekasih hati yang sangat di rindukannya. Ia menatap sekilas senyum bahagia yang terpancar pada raut muka masing - masing. Namun kini Sanas hanya bisa tersenyum getir mengingat 2 tahun belakangan Kekasihnya tak menghubungi dirinya sama sekali.


"Bahkan tanpa kamu memberi kabar pun aku masih menunggumu Niel.." lirih Sanas, tak terasa air matanya tak mampu terbendung lagi. Sungguh miris bukan? Gadis yang cukup populer di kampus dan di kantornya selalu menolak ketika di dekati banyak pria selama ini demi menjaga hati untuk Daniel seorang.


"No.. No.. No... kau tidak boleh seperti ini Sanas, lagi pula ia sudah berjanji kalau dia akan kembali." ujarnya memberi semangat pada diri sendiri.


"Huft...." Sanas menyeka air matanya, ia bangkit dari duduknya lalu menuju kamar mandi guna menyegarkan tubuhnya.


******


Tak.. Tak.. Tak.. bunyi Higheels Sanas yang menuruni tangga. Tampak juga Tama yang baru saja keluar dari kamarnya. Tama di buat takjub dengan penampilan Sanas yang mengenakan Dres di atas lutut tak lupa dilengkapi dengan blazer yang warnanya senada dengan Higheelsnya. Begitu juga sebaliknya, Sanas juga terkagum - kagum mendapati atasanya yang memang dari sananya sudah tampan. Mereka saling pandang namun mereka hanya saling memuji tapi tak di ungkapkan.

__ADS_1


__ADS_2