
Sanas tampak berjalan terseok - seok karena terlalu lama memakai Heels dengan ukuran yang sangat tinggi. Sanas menghampiri Eliyas yang masih ngobrol dengan Kelvin.
"El.. kapan kita pulang? aku capek." ujar Sanas lesu.
"Pulang kemana sayang, ini rumah kita." ujar Eliyas.
"Hah?" ujar Sanas bingung.
"Ini Mansionku sayang, kita akan tinggal di sini mulai hari ini." jelas Eliyas.
"M...M..Mansion? Lalu keluargaku? dimana mereka?" tanya Sanas.
"Mereka juga tidur di Mansion Sayang." kata Eliyas.
"Bolehkah aku masuk kamar, aku lelah." ujar Sanas.
"Sebentar ya, aku bicara dulu sama Kelvin." kata Eliyas, Sanas memutar kedua bola matanya malas. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
.
.
.
.
.
"Kau ingin bicara apa vin?" tanya Eliyas.
"Kau ini bodoh atau pura - pura bodoh hah?" tanya Kelvin.
"Apa maksutmu?" tanya Eliyas bingung.
"Apa Ayashaa pernah menanyakan perihal Riyana kepadamu?" tanya Kelvin.
"Bagaimana bisa kamu tahu?" tanya Eliyas terkejut
"Tadi siang dia tanya kepadaku perihal siapa Riyana." ujar Kelvin.
"Lalu kau jawab jujur tentang siapa Riyana?" tanya Eliyas panik.
"Ya, Tidak juga Bodoh!!!" hardik Kelvin.
__ADS_1
"Lalu kau jawab apa?" tanya Eliyas penasaran.
"kusuruh dia tanya ke kamu langsung, aku takut salah ngomong." ujar Kelvin.
"Aku juga heran, kok bisa Ayashaa tau Riyana." kata Eliyas tampak berfikir.
"Itu juga karena kecerobohanmu bodoh." ujar Kelvin sambil menyentil kening Eliyas.
"Aww.. sakit!!! kenapa jadi aku yang salah." ujar Eliyas mengusap - usap keningnya.
"Kalau saja semalam kau tidak mabuk dan mengigau memanggil nama Riyana, Ayashaa tidak akan pernah mendengar nama Riyana." ujar Kelvin geram.
"Apa? aku semalam mengigau, tapi aku semalam kan-"
"Atau jangan - jangan-" kata Eliyas tak melanjutkan perkataanya.
"Jangan - jangan apa?" tanya Kelvin tak paham.
"Gawat Vin, semalam aku... ahhh.. gawat pokoknya gawat!!" kata Eliyas panik.
"Kau ini kenapa, kau hanya mengigau tidak berhalusinas-
" Hah... jangan bilang semalam kau-" kata Kelvin tak melanjutkan ucapanya.Dan di balas anggukan oleh Eliyas.
"Lalu bagaimana kalau dia bertanya lagi Vin? aku harus jawab apa?" ucap Eliyas frustasi.
"Ku sarankan kau harus jujur El.." kata Kelvin.
"Apa kau gila hah? aku harus mengatakan jika Riyana adalah cinta pertamaku dan aku belum move on sepenuhnya begitu? mau di taruh di mana muka ku yang tampan ini hah?" sungut Eliyas.
"Kau dalam keadaan genting pun tetap terlalu percaya diri. Jangan sampai kau menyesal jika Ayashaa mendengar dari orang lain." ujar Kelvin.
"Kau mengancamku?" tanya Eliyas hampir emosi.
"Siapa yang mengancam, aku hanya memperingatkan." ujar Kelvin.
"Terserah kau saja, aku lelah mau tidur." ujar Eliyas beranjak dari tempatnya, dilihatnya Sanas yang bertumpu tangan di atas meja. Eliyas pun menggendong Sanas menuju kamar.
Sesampainya di kamar, Eliyas merebahkan Sanas ketempat tidur. Eliyas enggan membangunkan Sanas yang masih mengenakan Dress yang pastinya tidak nyaman jika di buat tidur, di sisi lain ia tidak berani menggantikan pakaiannya dengan baju yang lebih nyaman. Dengan ragu - ragu akhirnya Eliyas memutuskan untuk membangunkan Sanas.
"Sayang.. bangun.. Ganti dulu pakaianmu dengan piyama tidur." bisik Eliyas hati - hati.
"Emmhh..."
__ADS_1
"Bangunlah.." kata Eliyas.
"Ini kamar siapa?" tanya Sanas terkejut.
"Kamar kita!!! mau kamar siapa lagi." ujar Eliyas.
"K.. Kita sekamar?" tanya Sanas.
"Bukannya biasanya juga begitu?" kata Eliyas balik tanya.
"Tapi.. ini mansionmu El.. apa kata penghuni Mansion yang lain kalau tau kita tidur satu kamar dalam keadaan belum Sah." ujar Sanas.
"Aku pastikan mereka tidak akan berani memikirkan tentang kita yang tengah di mabuk Asmara sayang." ujar Eliyas mengecup sekilas bibir Sanas.
"Kau memang selalu bersikap semaumu." sungut Sanas beranjak dari tempat tidur. Eliyas tahu jika Sanas tengah merajuk ia coba membiarkan Sanas begitu saja.
1 menit..
5 menit...
10 menit....
"Ishh.. susah sekali membuka kancingnya." dengus Sanas.
"Apakah perlu bantuan?" tanya Eliyas.
"Tidak!!!" tolak Sanas.
"Ya sudah kalau begitu aku tidur." kata Eliyas merebahkan dirinya ke tempat tidur berukuran king size.
"Dasar tidak peka." lirih Sanas namun masih terdengar oleh Eliyas.
"Kalau butuh bantuan itu bilang, bukannya diem aja. Tidak semua pria bisa tahu kode cewek." ujar Eliyas membuka satu persatu kancing dress yang di kenakan Sanas.
Eliyas menelan ludahnya dengan kasar saat melihat punggung mulus Sanas yang terpampang nyata di hadapannya saat ini. Eliyas merengkuh pinggang Sanas san membalikan badannya seketika, hingga membuat Sanas tekejut.
"Ell..." seru Sanas, bukannya melepaskannya, Eliyas justru mendaratkan sebuah ciuman mendalam hingga membuat Sanas susah bernafas.
"Aku menginginkanmu." ujar Eliyas serak.
"No!!! El.. lepas!!!!" tolak Sanas.
"Ku mohon." bujuk Eliyas, Eliyas menarik Dres yang Sanas kenakan hingga kini hanyalah Pakaian dalam yang tersisa. Sanas pun terbuai dengan perlakuan dan sentuhan Eliyas yang membuat dirinya sendiri terbang melayang.
__ADS_1
Malam ini, keduanya kembali mempersatukan tubuh. Memberi kehangatan dan kenikmatan satu sama lain dalam keadaan Sadar. Tanpa ada yang mabuk apa lagi dalam pengaruh obat perangsang. Keduanya melewati malam panjang dengan beberapa kali pelepasan hingga membuat keduanya kelelahan.