
Sudah satu minggu ini Nathaline berkeliling London City di temani Daniel, namun tetap saja sikap dingin Daniel tak pernah berubah. Hal ini membuat Nathaline jengah, karena sejak pertama kali bertemu Daniel ia sudah mulai tertarik dengan ketampanannya. Namun sialnya Daniel sama sekali tak merespon dirinya.
Nathaline turun dari mobil, ia menaiki anak tangga dengan menghentak - hentakkan kakinya. Ia Kesal karena Daniel menolak untuk di ajak makan malam di restoran. Ia menuju kamarnya dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, segala umpatan keluar dari mulut Nathaline untuk Daniel.
Tok.. Tok.. Tok.. bunyi pintu di ketuk.
"Sayang, ini tante.." ujar Marisa di balik pintu.
"Masuk.. ngga di kunci.." ketus Nathaline.
"Sayang.. apa yang terjadi?" tanya Marisa menghampiri Nathaline yang murung.
"Tante.. aku kesal dengan sikap Daniel, sudah satu minggu tapi sikapnya tetap saja dingin." ujar Nathaline dengan nada manja.
"Maafin Daniel ya, dia memang seperti itu semenjak kenal dengan gadis miskin sialan itu." ujar Marisa geram.
"Gadis miskin sialan? maksut tante siapa?" tanya Nathaline ingin tahu. Marisa pun menceritakan keinginan Daniel untuk menjadikan Sanas tunangannya.
"Pantas saja dia begitu dingin, jadi Daniel sudah punya kekasih." ujar Nathaline kecewa.
"Tapi tante tidak suka, dia hanyalah rakyat jelata yang ingin menghabiskan harta kami." ujar Marisa.
"Aku penasaran seperti apa kekasih Daniel.." ujar Nathaline.
"Dia tidak ada apa - apa di bandingkan kamu Nath.. Dia jelek, hanya saja dia di bantu dengan pakaian yang bermerk sehingga mukannya tertolong. pasti dia dapat semua itu dari tubang. hiihh..." ujar Marisa jijik.
__ADS_1
"Tante aku jadi semakin penasaran." kata Nathaline.
"Sebentar tante carikan dulu di sosial media." kata Marisa sambil mengotak atik ponselnya.
"Nah.. ketemu ini dia, Iyuhh.. Kampungan banget ngga sih." ujar Marisa menunjukan sebuah gambar.
"Ayasa..." ujar Nathaline menutup mulutnya.
"Apa kau mengenalnya?" tanya Marisa.
"Tunggu.. Astaga.. Benar dia Ayasa.." ujarnya masih tak percaya.
"Hey.. jawab tante, apa kau mengenalnya?" tanya Marisa lagi.
"Ya.. dia dulu sahabatku di SMP, hanya saja kami terpisah saat lulus." jawab Nathaline.
"Aku sudah lama tidak mendengar kebarnya, terakhir aku dengar bisnis orang tuanya bangkrut dan ia pindah ke kota XX." jelas Nathaline.
"Sudah ku duga.. pasti ia mendekati Daniel hanya untuk mengembangkan bisnis orang tuanya yang bangkrut." geram Marisa.
"Sial.. Ayasa selalu menghalang - halangi apa keinginanku. Hmm.. Sepertinya tante Marisa sangat tidak menyukai Ayasa, ini kesempatan bagus untuk aku mendapatkan Daniel." batin Nathaline.
"Berhati - hatilah Tante, jangan sampai harta tante jatuh ke tangan wanita rubah itu." ujar Nathaline menjadi kompor.
"Kau benar.. aku harus mencari cara agar Daniel jauh - jauh dari wanita licik itu.' ujar Marisa.
__ADS_1
" Sepertinya aku bisa membantu tante. " ujar Nathaline.
"Bagaimana?" tanya Marisa, Nathaline pun membisikan sesuatu kepada Marisa, keduanya pun tersenyum licik.
- Flashback Off -
"Jadi kau sudah tahu jika Daniel adalah kekasihku dari sebelum kalian menjalin hubungan hah?" tanya Sanas dengan berderai air mata.
"Yaps.. tepat sekali." ujar Nathaline tersenyum licik.
"Tega sekali kamu Nath!! apa salahku padamu sehingga kau memperlakuhkanku seperti ini, aku ini sahabatmu.." teriak Sanas.
"Kau masih bertanya apa salahmu? dulu kau selalu menjadi sainganku saat juara kelas, semua orang menyanjungmu karena segala kemampuanmu. Bahkan kedua orang tuaku selalu membanding - bandingkan diriku denganmu. Dan lebih parahnya, saat aku menyukai kak Felix dan kau mengetahui semua itu justu Kak Felix menyatakan cintanya kepadamu. Dan dengan bangganya kau menerima pernyataan cinta itu." ujar Nathaline penuh penekanan. Sanas yang mendengar itu pun terkejut.
"Tapi kali ini aku menunjukan kalau aku bisa mengalahkanmu, kau lihat sekarang Daniel kekasihmu telah ada di genggamanku. Dan jangan harap kau bisa mendapatkannya kembali.." ujar Nathaline.
"Itu sikap Iri Nath, itu tidak baik.." ujar Sanas.
"Aku tidak peduli, yang aku tahu milikku adalah milikku tak seorang pun bisa merebutnya dariku. Termasuk kau!!" bentak Nathaline.
Sanas terdiam mendengar penekanan dari Nathaline, mungkin ini jawaban dari segala pertanyaan - pertanyaan kenapa dan apa yang terjadi dengan hubungannya. Ia tak ingin memperpanjang masalah, ia segera beranjak dari duduknya. Caca yang melihat Sanas berjalan ke arahnya dengan keadaan menangis pun terkejut.
"Ada apa?" tanya Caca.
"Ayo kita pulang." ujar Sanas sambil menarik tangan Caca.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Caca, bukannya jawaban yang di dapatnya, justru isak tangis yang di terima.